
Ishaq tak henti melajukan mobilnya mengelilingi kota Amsterdam. Ini adalah cara Ishaq untuk membunuh rasa kesalnya terhadap seorang Sandra. Bagaimana bisa dia memaksa pegawai hotel untuk meminta kunci kamarnya. Sandra juga asyik untuk bersenang-senang di kamar hotelnya. Itu yang membuat Ishaq begitu marah terhadap Sandra.
Ishaq tak memiliki tujuan pasti. Namun Ishaq hanya ingin menghabiskan malam ini dengan perjalanan jauh yang tak memiliki tujuan pasti tersebut. Ishaq akan memacu mobilnya tersebut untuk terus melaju membawa dirinya bisa meredam semua rasa marahnya terhadap Sandra.
Perjalanan jauh itu perlahan membuat Ishaq bosan. Dia terlihat jenuh dengan apa yang dia lakukan. Ishaq juga tak urung melupakan apa yang telah di lakukan oleh Sandra. Privasi seorang Ishaq di langgar oleh Sandra. Hal yang paling Ishaq benci selama ini.
Ishaq memarkir mobilnya tepat di salah satu restoran. Dia tak langsung turun dari mobilnya. Tiba-tiba teringat Karin yang berada di Indonesia. Apa yang di suguhkan oleh Amsterdam, perlahan membuat Ishaq mulai lupa akan Karin. Hingga Ishaq pun berniat untuk melakukan panggilan video call dengan ayah Karin.
Namun panggilan video call yang di lakukan oleh Ishaq di tolak oleh ayah Karin. Ayah Karin beralasan jik dirinya sedang bekerja. Sehingga tidak bisa mengangkat panggilan video call dari seorang Ishaq. Padahal sebenarnya, ayah Karin saat ini sedang berada tepat di samping Karin. Dia sedang berdoa akan kesembuhan dari seorang Karin yang tak kunjung datang. Sebuah mukjizat di harapkan oleh ayah Karin akan kesembuhan dari Karin itu sendiri.
Ishaq memaklumi apa yang di sampaikan oleh ayah Karin. Tidak ada rasa curiga sama sekali dari seorang Ishaq. Mengingat memang saat ini di Indonesia sedang masuk ke jam kerja. Sehingga Ishaq tidak menaruh kecurigaan tersebut. Dia percaya dengan ucapan dari ayah Karin.
Ishaq yang bingung untuk melakukan sesuatu, akhirnya turun dari mobilnya. Mungkin dengan menyantap makanan. Ishaq tidak akan kembali bingung untuk melakukan sesuatu. Apalagi restoran yang di singgahi oleh Ishaq adalah restoran favorit keluarganya. Di mana keluarga Ishaq begitu menyukai makanan dari jazirah Arab.
Baru turun dari mobilnya, Ishaq bertemu dengan seorang Robben. Dia bersama dengan seorang perempuan muda, baru saja keluar dari restoran tersebut. Dia terlihat sedikit mabuk. Namun Robben tetap mengingat Ishaq yang merupakan teman dari seorang Carla.
Ishaq dan Robben berbincang sejenak. Sebelum akhirnya Ishaq di ajak oleh Robben untuk datang ke rumah neneknya. Mungkin ini akan jadi kesempatan berikutnya bagi seorang Ishaq untuk bertemu dengan seorang Carla. Kesempatan emas yang tidak boleh Ishaq lewatkan begitu saja. Hingga Ishaq pun sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Carla yang ada di rumah neneknya.
Ishaq kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia kembali memacu mobilnya menuju rumah nenek Robben. Ishaq sangat bahagia akan kembali bertemu dengan seorang Carla. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Carla yang beberapa hari lalu sudah Ishaq temui.
Ishaq langsung mengikuti mobil Robben yang berada di depannya. Mungkin malam ini bisa Ishaq habiskan untuk bersenang-senang dengan Robben dan Carla di rumah nenek Carla. Satu hal yang tak pernah terbayangkan oleh Ishaq sebelumnya. Di mana Ishaq akan singgah di rumah nenek Carla dan Robben yang merupakan penduduk lokal.
Saat sudah berada di depan rumah nenek Carla. Ishaq pun langsung di sambut senyum ramah dari nenek Carla tersebut. Dia di persilakan untuk masuk ke dalam rumahnya. Di mana sudah ada Carla yang sedang melakukan sebuah review terhadap produk yang mengendorse dirinya.
__ADS_1
Ishaq semakin kagum akan kecantikan dari seorang Carla. Dengan sebuah pakaian sederhana saja, Carla terlihat begitu cantik. Apalagi sebuah pakaian mewah, mungkin Carla akan terlihat seperti bidadari. Itu yang kini ada di pikiran seorang Ishaq.
Ishaq yang terus mengagumi kecantikan dari seorang Carla. Tanpa tidak sadar, dia telah melamun cukup lama. Hingga Carla langsung mengejutkan seorang Ishaq dengan sedikit suara keras. Sontak Ishaq langsung terkejut dengan suara dari Carla yang terdengar sangat keras tersebut.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Carla.
"Dia kagum sama kamu." balas Robben dengan sedikit senyuman.
Ishaq seketika malu-malu. Dia hanya bisa tersenyum dengan apa yang ada. Carla pun mempersilakan Ishaq untuk duduk. Sementara dirinya akan membuatkan segelas minuman untuk Ishaq yang merupakan tamu yang pertama kali berkunjung ke rumah neneknya.
Ishaq duduk di sofa. Sementara Robben dan pacarnya yang sudah mabuk berat, langsung masuk ke dalam kamar. Entah apa yang akan mereka perbuat di sana. Namun Ishaq hanya tak sabar untuk menunggu kedatangan Carla dengan sebuah minuman yang akan di bawakan untuk dirinya.
Ishaq begitu antusias untuk menunggu minuman itu. Dia tak sabar untuk tahu apa yang akan di bawakan oleh Carla. Hingga Ishaq benar-benar sangat tidak sabar untuk menunggu itu semua. Minuman yang akan membunuh rasa haus yang ada di tenggorokan seorang Ishaq.
Carla yang di tunggu oleh Ishaq, akhirnya datang menghampiri Ishaq. Tidak ada gelas berisi minuman. Hanya ada dua kaleng minuman yang di bawa oleh Carla ke hadapan seorang Ishaq. Kaleng minuman soda itu seketika mengingatkan Ishaq pada sebuah kenangan akan dirinya yang pertama kali berkunjung ke rumah Karin. Saat itu dia juga di suguhi oleh minuman kaleng seperti yang Carla bawa.
"Tidak apa-apa. Aku senang dengan minuman soda ini. Aku lebih suka ini, daripada segelas kopi atau teh." ucap Ishaq mulai mengambil kaleng minuman tersebut.
Ishaq langsung meminumnya. Dia terlihat begitu menyukai minuman kaleng tersebut. Hingga Ishaq hampir menghabiskan minuman yang ada di kaleng tersebut.
"Ada apa kamu datang ke rumah nenek saya?" tanya Carla.
Ishaq yang tak memiliki niat sama sekali untuk datang ke rumah nenek Carla, kebingungan untuk mencari jawaban dari pertanyaan Carla tersebut. Ishaq pun menjawab pertanyaan dari Carla dengan sedikit terbata-bata. Dia benar-benar bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Ishaq pun menemukan jawaban yang cukup logis untuk di gunakan. Di mana Ishaq mengatakan jika dirinya hanya di ajak Robben untuk bermain play station. Namun Robben justru malah pergi ke kamarnya.
Carla tentu percaya dengan apa yang di katakan oleh seorang Ishaq. Dia menyebut itu hal yang normal, sehingga Carla tidak penasaran dengan tujuan dari Ishaq ke rumah neneknya tersebut. Namun sayangnya, Carla tidak bisa memperkenalkan neneknya pada Ishaq. Dia sudah tidur, tak mungkin Carla membangun neneknya tersebut untuk bertemu dengan seorang Ishaq.
Ishaq pun tentu tidak meminta Carla untuk membangunkan neneknya tersebut untuk dirinya. Bahkan Ishaq yang tak ingin mengganggu waktu tidur dari nenek Carla, mengajak Carla untuk mengobrol di luar rumah neneknya tersebut. Ishaq melihat halaman rumah nenek Carla begitu luas, itu yang di pikirkan oleh seorang Ishaq.
Carla yang masih belum mengantuk sama sekali, menerima tawaran dari Ishaq. Carla pun menerima tawaran dari Ishaq tersebut. Apalagi Ishaq ingin mengajak Carla mengobrol banyak perihal sepakbola. Itu semakin membuat Ishaq bersemangat untuk mengobrol bersama dengan Carla.
Carla dan Ishaq pun mengobrol di sebuah ayunan yang ada di depan rumah neneknya. Tak ada jarak di antara keduanya, mereka begitu dekat satu sama lain.
"Apa kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Ishaq.
"Tidak, aku baru beberapa hari yang lalu ke sini. Bahkan mungkin pesawat yang aku tumpangi masih basah." jawab Carla sedikit bercanda.
Tentu apa yang Carla ucapkan cukup menarik. Itu artinya Ishaq dan Carla tiba di Amsterdam bersamaan. Ishaq pun baru saja tiba di Amsterdam. Sehingga Ishaq dan Carla bisa saja menumpang pesawat yang sama.
Benar saja, keduanya memang menumpang pesawat yang sama. Namun anehnya, baik Ishaq maupun Carla sama sekali tidak saling melihat. Hingga keduanya tampak asing saat keduanya pertama kami bertemu di stadion tempo hari itu.
"Aku tidak pernah melihatmu di bandara. Apalagi di pesawat. Itu cukup membingungkan untukku. Padahal kita menggunakan pesawat dan rute yang sama." ucap Ishaq.
"Mungkin kita tidak berjodoh di bandara, sehingga kita tidak bisa bertemu di bandara saat itu. Begitu juga saat di pesawat. Kita tidak bertemu kembali. Itu juga mungkin tidak jodoh. Sehingga kita tidak bisa bertegur sapa satu sama lain." ucap Carla.
Ishaq yang tidak ingin kehabisan obrolan dengan seorang Carla, mencari cara lain untuk menggali topik lebih banyak lagi. Salah satu topik yang coba di gali oleh Ishaq tentu adalah pekerjaan Carla. Ishaq penasaran dengan sosok Carla yang merupakan seorang presenter olahraga. Ini cukup membuat seorang Ishaq kagum akan sosok Carla yang tentu memiliki pengetahuan sepakbola yang jauh lebih banyak lagi.
__ADS_1
Carla tak ingin terbang dengan apa yang di sampaikan oleh seorang Ishaq. Bagi Carla, dia tidak sehebat apa yang Ishaq pikirkan. Masih banyak hal yang Carla tidak tahu sama sekali dari sepakbola. Sehingga sedikit berlebihan jika Ishaq mengatakan Carla adalah seorang dewi sepakbola yang tahu banyak hal akan sepakbola.
Obrolan yang ringan itu perlahan menjadi sebuah obrolan yang semakin dalam. Tidak hanya obrolan akan sepakbola saja. Obrolan itu juga mulai melebar ke dalam banyak hal. Itu yang membuat obrolan itu semakin panas.