
Hampir seharian Jordan dan Carla bertemu di tempat pertemuan tersebut. Namun tidak ada hasil apapun yang di capai. Tidak ada konsep yang akan di buat seperti yang di janjikan oleh Jordan sebelumnya. Itu yang membuat seorang Carla begitu kesal terhadap Jordan. Mungkin Carla akan menolak untuk bertemu dengan Jordan lagi. Apalagi pertemuan dengan hanya jadi pertemuan sia-sia. Pertemuan yang sama sekali tidak ada gunanya.
Menunggu cukup lama, akhirnya panggilan telepon datang menghampiri seorang Jordan. Itu panggilan telepon yang di tunggu oleh Carla. Mungkin ini akan jadi Dewi penolong bagi seorang Carla. Dia akan segera lepas dari perangkap Jordan yang begitu menyebalkan.
Jordan mulai beranjak dari meja untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Dia meminta Carla untuk tetap berada di kursinya. Carla tidak boleh pergi dari kursinya tersebut. Sebab Jordan akan segera kembali untuk mengobrol dengan Carla. Hal yang tentu membuat Carla begitu kesal dan marah terhadap Jordan.
Tak lama, Jordan kembali dengan wajah yang sedikit panik. Dia duduk kembali di kursi miliknya. Carla tetap menunjukkan wajah kesalnya di hadapan seorang Jordan. Mungkin ini sangat baik untuk Carla lakukan. Mengingat Jordan adalah sosok pria yang menyebalkan. Dia harus melihat bagaimana wajah menyebalkan dari seorang Carla terlihat dengan jelas oleh mata Jordan.
Jordan mengajak Carla untuk bertemu kliennya di kafe lainnya. Tapi dengan tegas Carla menolak ajakan dari Jordan. Dia bukan siapa-siapa bagi Jordan, sehingga tidak etis bagi seorang Carla untuk pergi bersama dengan Jordan menemui temannya tersebut. Carla mungkin tidak akan melakukan hal serendah tersebut.
Tidak ada ancaman seper
Jordan yang sudah di buru oleh waktu, akhirnya segera pergi meninggalkan Carla. Sebelum pergi, Jordan kembali menggoda seorang Carla. Dia mengatakan jika dirinya begitu bahagia bisaa bertemu dengan seorang Carla di sini. Jordan berharap ini akan menjadi pertemuan yang akan menjadi pertemuan selanjutnya bagi seorang Jordan. Dia menyukai pertemuan dengan Carla tersebut.
Carla sendiri merasa muak dengan apa yang di lakukan oleh Jordan. Dia terdiam saat Jordan terus mengatakan hal yang menurutnya romantis. Bagi Carla itu justru adalah hal yang paling menjijikkan. Di mana dia mendengar seorang Jordan yang merayu perempuan lain. Padahal Jordan sendiri adalah sosok pria yang telah memiliki seorang pacar.
__ADS_1
Jordan pergi dari hadapan Carla. Ada sedikit rasa lega dalama diri seorang Carla. Namun dia masih cukup takut untuk melakukan pemotretan di esok hari. Ada sedikit rasa takut dalam pemotretan yang akan di lakukan oleh Carla tersebut. Mengingat Jordan yang genit akan menjadi seorang photographer bagi seorang Carla. Ini akan menjadi ujian yang paling berat bagi seorang Carla. Rasanya Carla tidak ingin bertemu dengan hari esok. Mengingat esok hari dia akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk bersama dengan Jordan.
Carla terus memikirkan cara untuk tidak bertemu dengan Jordan di esok hari. Pembatalan kontrak tentu akan membuat seorang Carla dalam masalah baru. Itu bukan solusi, itu hanya alternatif yang bisa di pilih oleh Carla. Namun Carla merasa itu akan menjadi hal yang buruk untuk dirinya. Sebab adalah berbagai penalti yang harus di tanggung oleh Carla saat dia memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak. Ini benar-benar menjadi situasi yang sulit bagi seorang Carla.
Carla tak menemukan ide apapun untuk esok hari. Otaknya seakan buntu dalam menemukan cara terbaik untuk membuat dirinya terhindar dari seorang Jordan. Mengingat Jordan adalah sosok yang akan terus bersama dengan Carla. Sosok yang akan terus berada di samping seorang Carla di esok hari.
Di tengah rasa frustasi yang di hadapi oleh seorang Carla. Tiba-tiba Carla kembali bertemu dengan sosok Ishaq yang datang bersama dengan Berry untuk menulis semua hasil liputan yang di lakukan oleh keduanya. Ishaq yang telah mengenal Carla saat di stadion, terlihat begitu antusias saat melihat keberadaan Carla di sebuah meja. Dia pun langsung mengajak Berry untuk bertemu dengan sosok Carla yang juga merupakan penggemar fanatik sepakbola.
Carla sendiri begitu terkejut dengan kehadiran Ishaq. Dia terlihat tidak menyangka saat Ishaq yang datang dengan seorang Berry menyapa dirinya. Carla pun tersenyum dengan begitu lembarnya, sebelum mempersilakan Ishaq dan Berry untuk duduk bersama dirinya dalam satu meja.
Wajah Carla yang tak asing bagi Berry, terlihat menjadi sorotan tersendiri bagi seorang Berry. Dia mencoba mengingat wajah Carla yang tak asing tersebut. Tapi Berry lupa, dia pernah bertemu di mana dengan seorang Carla. Hingga Berry harus berpikir lebih dalam lagi perihal wajah Carla. Sehingga dia akan mengingat Carla dengan begitu baiknya.
Akhirnya Berry mengingatnya, saat dia mengingat kata salam olahraga. Itu adalah kata pertama yang biasa Carla sebutkan saat memandu acara olahraga di televisi. Tentu wajah cantik Carla tak asing bagi seorang Berry yang sering melihat Carla di televisi.
"Kamu presenter di salah satu program televisi itukan?" tanya Berry.
__ADS_1
"Benar, aku Carla Agustina." Carla menyodorkan tangan kanannya.
"Aku Berry, editor di perusahaan Garis gawang." ujar Berry menjabat tangan Carla.
Ishaq nampak tidak senang saat Berry menggenggam tangan Carla dengan begitu lamanya. Dia pun langsung memukul tangan Berry yang tak kunjung di lepaskan dari tangan Carla tersebut.
"Aku pikir kamu terlalu lama memegang tangan Carla. Itu tidak baik dalam hukum agama." ujar Ishaq.
Berry terlihat begitu kesal saat Ishaq mulai memisahkan tangannya yang masih menjabat tangan Carla. Itu masih belum cukup bagi seorang Berry, sehingga Berry masih ingin menjabat tangan Carla lebih lama lagi.
Ishaq yang tertarik pada sosok Carla yang terlihat enerjik, langsung penasaran dengan Carla. Apalagi pertemuan antara Carla dengan Ishaq tempo hari, semakin membuat Ishaq penasaran akan sosok Carla.
Ishaq mulai berbicara sepakbola lebih jauh lagi dengan seorang Carla. Dia menceritakan bagaimana sepakbola adalah olahraga yang cukup banyak peminatnya. Namun sepakbola tidak memiliki ruang di sebagian perempuan Indonesia. Hingga obrolan sepakbola hanya terbatas pada kelompok laki-laki saja.
Carla pun menyadari hal tersebut. Dia terkadang tidak menemukan teman yang cukup asyik untuk di jadikan teman mengobrol. Padahal Carla berharap memiliki teman perempuan yang bisa dia ajak ngobrol perihal sepakbola. Tidak hanya ternyata pada temannya yang
__ADS_1