
"Sudah jam berapa ini, Mi? Mami baru pulang, istri macam apa yang malam-malam justru masih sibuk dengan bisnisnya? Suami dan anak di rumah tanpa ada ibunya? Mami sadar apa peran Mami sebenarnya?" Mendapatkan pertanyaan dari sang suami, Eris bukannya sadar. Justru ia terkekeh mendengar ucapan suaminya. Kepalanya tampak menggeleng lucu.
"Papi tanya peran Mami? Apa Mami juga berhak tanya apa peran Papi sebagai suami dan ayah? Dimana Papi setiap waktu? Di mana Papi setiap Mami butuh? keluar kota, keluar negeri sampai waktu buat mendengarkan cerita Mami selama ini saja tidak pernah. Apa Papi sadar kapan terakhir Papi mendengarkan Mami bicara tentang kebosanan Mami di rumah? Kapan? Coba katakan kapan waktu itu Papi berikan buat Mami?"
Ingin marah namun Raul tersadar. Ia pun turut bersuara. "Mami, tolong jangan seperti ini. Mami tahu kan perusahaan besar milik Papi adalah milik kita bersama dan untuk kehidupan kita dan juga Ratu anak kita satu-satunya. Dimana perusahaan yang semakin besar makan semakin besar juga tanggung jawabnya. Tolong dong, Mami seorang pembisnis seharusnya Mami paham itu."
Eris tampak terkekeh tanpa suara, lucu rasanya kala mendengar ucapan sang suami yang memintanya untuk memahami posisi pria itu. Ia tahu ini akan menjadi hal yang percuma. Bertahun-tahun bersama ia pun sudah tahu kerap kali ribut dengan masalah yang sama, namun tak ada yang bisa mengalah. Hingga rasa lelah untuk membahas hal yang tak akan ada jalan keluarnya, ia pun melangkah menuju kamar.
"Mami!" Tak perduli bagaimana sang suami berteriak. Ia terus melangkah ke kamar membersihkan tubuh dan beristirahat.
__ADS_1
Pikirannya benar-benar ingin marah saat ini, ingin menangis ingin berteriak, namun Eris hanya bisa memejamkan mata. Ia enggan berdebat dengan sang suami. Sebagai wanita yang berstatus istri bohong jika ia tak menginginkan keadaan rumah tangga yang harmonis. Namun, kembali lagi ia butuh hiburan dengan hal yang positif untuk mengusir kebosanannya.
Dimana sang suami yang sangat sibuk selama ini hingga lupa jika seorang wanita pasti akan butuh namanya sentuhan lembut dan sandaran ketika lelah. Perlakuan manja dan sikap siaga dari seorang suami. Nyatanya semua tak Eris dapatkan dari sang suami.
Sibuk dengan bisnis adalah satu-satunya hiburan untuk wanita beranak satu ini. Ia tak perduli bagaimana hampanya pernikahannya saat ini. Yang terpenting baginya tetap menjadi wanita terhormat yang bisa menjaga kewarasannya.
***
"Akhirnya pagi juga, aku tidak sabar menantikan waktu ke kantor." Dengan semangat penuh ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Wajahnya tampak begitu ceria sepanjang waktu bersiap. Bahkan beberapa kali Ratu mengganti pakaiannya dengan yang menurutnya jauh lebih cocok. Beberapa kali membuang pakaian ke sembarang arah hingga akhirnya pilihannya jatuh pada blouse merah maroon dengan bawahan rok span berwarna hitam bermotif bunga kecil berwarna maroon. Rambut ia tata dengan ikat satu tinggi.
__ADS_1
Ia berdiri memperhatikan tubuhnya di depan cermin lemari pakaian.
"Aduh kenapa di lepas, Al?" tanya Ratu kala itu.
"Begini lebih bagus. Lehermu jadi di lihatin orang kalau di ikat tinggi seperti itu." jawab Alfat menatap sang kekasih dengan lekat.
"Memang kenapa?" tanya Ratu tanpa tahu arah pembicaraan kekasihnya.
"Nggak baik, leher kamu bikin semua teman laki-laki jadi jelalatan matanya. Jaga semua bagian tubuh kamu buat aku. Kelak kita akan menikah jika aku sudah jadi orang sukses."
__ADS_1
Mengingat ucapan Alfat di masa lalu sontak membuat Ratu tersenyum-senyum sendiri di depan cermin. Ternyata ia baru sadar betapa senangnya di perhatikan dan di cemburui seperti itu. Sayang, dulu ia merasa itu hanya cinta yang tak ada artinya sama sekali. Sebab begitu banyak pria yang menyukai Ratu hingga ia merasa Alfat sama saja dengan yang lain. Dan ia juga akan menjadi bintangnya wanita di dunia ini. Alfat bukanlah pria yang sepadan untuknya.