Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Memberi Jarak


__ADS_3

Jika biasanya wanita beranak satu itu akan bersikap acuh, kali ini entah mengapa jiwa penasarannya meronta melihat sang suami yang begitu murka. Ratu yang mendapat penghakiman dari sang ayah tampak memainkan kuku cantiknya dengan wajah masa bodoh. Tidak ada yang bisa mengatur hidupnya di dunia ini termasuk sang ayah. Gadis berkepala batu tetap akan menjadi gadis yang mencapai semua impiannya termasuk menguasai kembali sang mantan.


"Ratu, dengar apa yang Papi katakan?" tanya Raul menatap serius sang anak.


"Sudahlah, Pi. Jangan buang-buang waktu. Sekarang aku harus istirahat. Besok ada meeting penting, Papi mau aku nguap-nguap di depan semua karyawan Papi?" tanyanya yang mengingatkan akan hari esok.


Raul menggelengkan kepala. "Papi kuliahkan kamu jauh-jauh keluar negeri kenapa tidak ada perubahan. Sikap kamu dari jaman lahir sampai sekarang masih tetap keras kepala." ujar Raul sungguh tak habis pikir menghadapi sang anak. Senyuman smirk tampak terukir jelas di wajah cantik gadis itu hingga dengan santainya ia beranjak dari sofa menuju kamar.


"Lihat, lihat anak kamu, Eris. Itu didikan kamu yang sebagai ibu sibuk dengan dunia kamu sendiri. Kamu lihat hasilnya kan?" Raul berdiri sampai menunjuk ke arah sang anak yang tidak terlihat lagi.


Bukannya meminta maaf dan sedih, justru Eris ikut berdiri. "Papi tidak sadar, semua ini berawal dari Papi. Apa artinya pernikahan kalau setiap aku butuh Papi, Papi tidak pernah ada. Hanya perusahaan, perusahaan dan perusahaan yang selalu jadi prioritas Papi. Sekarang aku sibuk dengan duniaku untuk mengalihkan rasa sedih, Papi tetap menyalahkan aku?"


Keributan pun terjadi kembali, tiada hari tanpa perdebatan antar suami istri itu. Bahkan para pelayan sudah menganggap hal itu adalah biasa tak perlu di pusingkan lagi. Melihat sang istri yang justru bersuara lantang, Raul memilih duduk kembali dan memejamkan matanya.


Rasanya begitu sulit mengatur rumah tangga di bandingkan mengatur perusahaan. Ribuan karyawan bekerja di bawah kepemimpinannya, namun tak sesulit mengatur dua wanita di rumah ini.


Merasa ada kesalahan yang sang anak lakukan, Eris pun tak tinggal diam. Kini wanita paruh baya itu akhirnya bertindak. Ia melangkah menuju kamar dimana Ratu berbaring mendengarkan musik saat ini. Meski tinggal cukup lama di luar negeri, ia tak begitu menyukai dunia luar. Ratu lebih suka dengan kamar dan keheningan.

__ADS_1


"Mami," ucapnya kaget mendapati sang mami masuk ke dalam kamar.


Beberapa hari berada di Indonesia, baru kali ini keduanya bertemu secara berdua tanpa ada sang papi. Pelan Eris melangkah memasuki kamar dan mendekati sang anak. Ia duduk di samping Ratu yang berbaring di atas kasur.


"Mami ingin memberi tahu kamu, tapi sebelum itu Mami ingin bertanya." tuturnya dengan nada bicara serius.


Ratu yang baru kali ini mendapati sang mami bicara serius akhirnya menghentikan musiknya dan mendengarkan apa yang sang mami bicarakan.


"Apa kamu masih menyukai pria itu?" pertanyaan yang tanpa ragu langsung mendapatkan anggukan kepala dari Ratu.


"Aku sangat menginginkan kami kembali seperti dulu lagi, Mami. Aku mencintai Alfat. Dan apa pun akan aku lakukan untuknya." Telak Eris terdiam beberapa saat.


"Apa kamu rela jika Papi di ambil wanita lain?" pertanyaan dari Eris membuat Ratu menggelengkan kepala cepat.


Baru saja hendak menghela napas kasar merasa mendapat angin segar, Eris tiba-tiba di buat pusing mendengar ucapan sang anak.


"Semua tergantung dari keluarganya, Mi. Aku tidak akan membiarkan wanita mana pun mengambil Papi. Begitu juga dengan keluarga lainnya. Harus bisa menghalangi siapa pun yang ingin mengambil prianya."

__ADS_1


"Apa itu artinya kamu tetap pada pendirian kamu?" tanya Eris.


"Iya, Alfat adalah milikku." jawaban tegas dan keras dari Ratu rasanya membuat Eris sadar tak ada cara lain selain menghalangi niat sang anak. Jika bicara baik-baik tentu saja Ratu tak akan bisa menerima permintaan sang orang tua.


***


Satu minggu sudah sejak kejadian malam itu, Ratu semakin di buat pusing. Sebab seminggu lamanya ia tak kunjung bertemu Alfat di perusahaan. Bahkan perusahaan dengan mudahnya memberikan izin pada pria itu untuk merawat istrinya. Kesal mendapati informasi tentang Alfat, Ratu tak bisa lagi menahan diri. Wanita itu bergegas menuju ruang kerja sang Papi.


"Ratu, ada apa? Papi sangat sibuk ini." Raul menyambut sang anak dengan kedua mata yang menatap sekilas lalu kembali fokus pada laptop di depannya.


Tak berbicara langsung, Ratu memilih segera duduk di kursi depan sang papi. "Sejak kapan peraturan di perusahaan berubah dan tidak konsisten?" pertanyaan Ratu sontak membuat Raul menghentikan kerjaannya sejenak.


Ia menatap sang anak dengan tatapan datar, bukan tak mengerti apa yang di maksud gadis di depannya saat ini. Namun, Raul tak ingin membahas apa pun lagi dengan Ratu.


"Alfat adalah pekerja yang tenaganya sangat penting di perusahaan. Apa dengan Papi memberikan ijin libur lama tidak membuat perusahaan rugi? Seharusnya..."


"Seharusnya apa? Kamu mau Papi melarang dia libur dan membiarkan istrinya sendiri berjuang sakit? Apa kamu memang ingin wanita itu tiada secepatnya agar bisa menggantikan posisinya?" Membelalak Ratu mendengar pertanyaan sang papi yang menyudutkan dirinya.

__ADS_1


"Papi! ia bersuara tinggi hingga membuat tubuhnya refleks berdiri dari duduk.


Melihat hal itu, Raul menggelengkan kepala dan kembali fokus bekerja.


__ADS_2