
Semua yang duduk di kursi meja makan tampak bercerita basa basi. Tak lupa wajah mereka beberapa kali tersenyum pada lawan bicara. Hingga suara hentakan sepatu tinggi terdengar menggema di ruangan itu.
Gadis cantik dengan wajah menekuk mulai mendekat. Saat itulah Raul menoleh dan tersenyum puas.
“Ah ini dia Ratu. Rasya, ini Ratu anak saya. Bagaiamana? Sangat menarik bukan?” Raul menatap sang calon menantu yang ia pilihkan untuk anak gadisnya.
“Ratu, ini Rasya. Anak dari Tuan Jamil. Anak yang Papi yakini bisa merubah kamu.”
Ucapan Raul sontak membuat kedua mata Ratu mendelik tak terima. Ia tak suka dengan Raul yang mengucapkan kata yang tidak sepantasnya ia dengar.
“Merubah? Papi kira aku ini bunglon yang bisa berubah?” Kesal ia segera ingin pergi dari sana. Namun, Raul tak kalah cepat menarik pergelangan tangan sang anak.
Tanpa bisa berkata apa pun, Ratu hanya duduk sesuai dengan tenaga sang papi yang mendudukkan tubuhnya. Tepat di samping Rasya. Dua orang asing yang duduk berdekatan.
Semua tersenyum melihat wajah mereka sangat serasi. Meski sebenarnya sangat bertolak belakang dari segi kepribadian.
__ADS_1
Singkat cerita makan malam kedua keluarga pun usai. Dimana Ratu segera meninggalkan meja makan secepat mungkin. Tak ada suara apa pun yang ia keluarkan sedari tadi.
Pikirannya terus terpenuhi oleh sosok Alfat.
“Dia itu selalu seperti itu kalau kelelahan. Yah, namanya juga pekerja keras. Rasya, harap di maklumi yah?” Raul bicara dengan suara selembut mungkin.
Ia berusaha untuk membuat Rasya terkesan dengan pertemuan pertama meski ia yakin sikap Ratu yang jutek tak ada ramah sama sekali sungguh menjengkelkan bagi keluarga Rasya.
“Tapi menantu yang kami inginkan bukanlah wanita karir, Tuan Raul. Kami menginginkan menantu yang bisa mengabdikan hidupnya sepenuhnya untuk keluarga dan agama. Apakah Ratu sanggup meninggalkan semuanya demi mengabdi pada Rasya yang kelak menjadi suaminya?”
Eris tercengang kaget. Sementara Raul susah payah menelan salivahnya. Sungguh di luar dugaan. Ia pikir Ratu akan tetap bisa bekerja meski sudah menikah. Hanya saja kepribadiannya akan berubah menjadi alim.
“Saya rasa diamnya anda sudah bisa memberikan kami jawaban. Kami permisi, Tuan. Semoga hubungan kerja kita tetap baik-baik saja kedepannya meski tak ada ikatan pernikahan di antara anak kita.” Hanya senyum yang bisa Raul berikan.
Pria itu mengangguk ragu dan mengantar kepergian keluarga Jamil.
__ADS_1
Sumpah demi apa pun ia tak habis pikir jika malam ini semua yang ia rencanakan gagal tanpa ada kepuasan sedikit pun.
Sedang di sisi yang berbeda, Alfat tengah berjuang seorang diri, air matanya menetes kala mendengar dokter mengatakan keadaan Citra kritis. Ruang ICU adalah tempat yang tepat untuk Citra saat ini.
Di ruang tunggu, Alfat hanya bisa berdoa dan berdoa terus. Air matanya menetes semakin deras.
“Tuhan, beri keajaiban untuk istriku. Berikan kesembuhan untuk Citra. Lewatkan dari masa kritisnya, Tuhan…” doa kian terus mengalir tanpa Alfat lelah mengucapnya.
Tak pernah terbayangkan bagaimana hidupnya jika Citra pergi. Selama ini mereka hidup begitu bahagia sampai akhirnya sebuah penyakit datang merusak kebahagiaan mereka.
Duduk lemas tatapan kosong yang Alfat lakukan saat ini. Tak ada keluarga yang berada di sampingnya.
“Keluarga Citra Anggraini,” suara dari arah dalam ruang ICU mendadak membuat Alfat bangkit dari duduknya.
“Iya, Dokter. Saya.” jawabnya berdiri tegap.
__ADS_1
Dokter di depannya menampakkan wajah sendu. Pelan ia berkata. “Mohon maaf, Tuan. Pasien tidak bisa kami pertahankan. Kondisi kesadarannya sudah benar-benar menurun dan terakhir ia sudah tidak bisa kami selamatkan lagi.”
Alfat menggeleng tak percaya. Seolah semua itu seperti suara petir yang menyala kian kencang. Ia berlari masuk mendorong posisi dokter yang berdiri di ambang pintu.