
Tangis mengiringi perjalanan menuju ke tanah air. Alfat benar-benar merasa ini semua mimpi. Perjuangannya menemani sang istri sembuh berakhir detik ini juga. Pelan ia memijat kening merasakan sakit yang luar biasa.
“Citra, ini tidak benar kan? Aku hanya mimpi. Kamu tidak benar-benar pergi, Cit. Kita masih akan sama-sama. Kita akan hidup bersama sampai tua, Sayang.” Sulit rasanya percaya jika istri tercinta akan meninggalkannya selamanya.
Perjalanan Singapura Indonesia akhirnya mengantar Alfat menuju kediamannya. Bahkan kabar duka begitu cepat terdengar. Banyak orang yang sudah menyambut kedatangan Alfat saat itu.
Hingga sebuah ambulance terhenti di halaman rumah. Orang pertama yang menyambut Alfat adalah Ratu.
“Al, turut berduka cita yah? Semoga Citra tenang di sana. Dia sudah tidak lagi nerasakan sakit.” Hanya anggukan kepala yang Alfat bisa berikan pada wanita di sisinya.
Merasa banyak pasang mata yang memandang, Ratu pelan meninggalkan Alfat. Ia sendiri tak ingin menjadi bahan bicara orang-orang.
Prosesi pemakaman hari itu juga di lakukan. Semua berjalan dengan lancar, Alfat hanya diam memandangi jenazah sang istri yang perlahan tertutup oleh tanah. Pasrah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan saat ini.
__ADS_1
“Ratu, jaga sikapmu!” Sentak Raul pada sang anak yang duduk bersampingan dengannya.
Bukannya patuh, Ratu justru mengabaikan. Ia bermain ponsel dengan tenang.
Setidaknya ia berpikir selama ini dirinya lah yang banyak membantu Alfat dan Citra. Ia sudah menunjukkan dirinya yang baik. Sekarang saatnya untuk meraih calon duda ini.
Yah, Ratu akan memiliki Alfat tanpa menunggu lama lagi.
“Aku mencintai Alfat dengan tulus, Cit. Maka biarkan aku memilikinya. Berbaik hatilah denganku.” gumam Ratu.
“Jangan jadi wanita jahat. Ini belum pemakaman, sudah mau rencana mengambil suami orang.” celetuknya yang hanya di balas cibiran oleh Ratu.
***
__ADS_1
“Al, ayo pulang. Sebentar lagi hujan deras. Citra sudah tidur tenang di sana.” Setelah sesi pemakaman semua orang kembali ke tempat masing-masing.
Tinggal Ratu yang menemani Alfat di pemakaman saat ini. Mereka duduk menatap nisan yang bertuliskan nama Citra di sana.
Tetesan air mata dari kedua mata Alfat rasanya sulit ia hentikan. Tak tega rasanya meninggalkan sang istri di makam sendiri.
“Kenapa kamu pergi secepat ini, Sayang? Bagaimana aku bisa tidur di rumah sementara kamu di sini kedinginan di dalam tanah. Aku benar-benar sakit melihat ini semua, Cit. Kenapa kamu tega seperti ini?”
Hanya jeritan di dalam hati yang bisa Alfat berikan saat ini. Sementara Ratu dengan setia mengusap punggung sang pujaan.
Tanpa keduanya sadari dari sudut lain, sosok Raul menggeleng-gelengkan kepala frustasi melihat tingkah sang anak.
“Lihat anakmu itu, orang masih berduka kok kerjaannya nempel terus.” tuturnya tak habis pikir dengan modal nekat Ratu.
__ADS_1
Tak terima mendengar penuturan sang suami, Eris justru mengelak. “Itu anak kamu juga. Lebih ke kamu. Kan kamu yang selalu di atas. Berarti dominan ke kamu.” Tak mau kalah. Sontak Raul mendelikkan matanya.
Cukup lama Ratu membujuk Alfat hingga akhirnya pria itu pun setuju untuk meninggalkan makam sang istri. Meski langkah yang ia gerakkan terasa sangat berat meninggalkan Citra di sana.