Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Hasil Pemeriksaan


__ADS_3

Berpikir semua akan selesai dan bisa beristirahat tenang serta bertukar kabar dengan sang istri, nyatanya Alfat tak bisa melakukan semua itu. Baru saja hendak melangkah meninggalkan tempat tidur, tangannya sudah di genggam erat oleh sosok Ratu. Ia menoleh dan menatap wanita yang juga menatapnya saat ini.


"Aku sudah sangat lapar, Al." ujar Ratu saat melihat makanan baru saja tiba di kamar mereka.


"Itu makannya pun sudah ada. Segeralah makan, Nona." jawab Alfat tak mengerti apa maksud ucapan Ratu barusan. Pelan wanita itu menundukkan kepala dan menggelengkan kepala.


"Aku tidak bisa makan sendiri, bisa kau suapi aku?" tanya Ratu yang lagi-lagi menguji kesabaran Alfat sebagai bawahan dan suami orang. Meski kesal, ia pun tetap bergerak mengambil makan dan menyuapi Ratu makan.


"Ayo Nona buka mulutnya." pintah Alfat yang di gelengkan kepala oleh Ratu kembali.


"Pakai tanganmu, Al." ujar wanita itu membuat Alfat hanya bisa patuh.


Di sini Alfat sibuk berperang batin, sementara di rumah sakit di kota yang berbeda Citra tampak menangis sesenggukan di depan sang dokter yang baru saja membacakan hasil pemeriksaan lab. Pemeriksaan pertama yang ia lakukan di ruang pemeriksaan kandungan sangat mengecewakan.

__ADS_1


Falshback on


Wanita dengan tubuh yang lemas berdegup kencang jantungnya menunggu hasil yang tampil di USG di depannya. Sementara tangan dokter tampak bergerak kesana kemari melihat monitor di depan mereka. Kening pria itu mengernyit heran kala tak mendapati bentuk apa pun di dalam rahim milik sang pasien.


"Ibu, seperti yang kita lihat bersama. Di rahim Ibu tidak ada janin. Apa Ibu sudah mengecek dengan alat testpack?" tanya sang dokter.


Pelan Citra menggelengkan kepala. "Belum, Dokter. Saya tidak mengecek karena saya pikir memang sudah positif sebab saya telah satu hari." ujar Citra dengan penuh harapnya.


Berusaha sekuat tenaga wanita itu bangkit dari ranjang pemeriksaan untuk menyelesaikan administrasi dan memeriksakan tubuhnya pada dokter ahlinya. Meski kecewa, ia tak serta merta sedih. Sebab Citra berpikir ini belum saatnya.


Pelan ia mulai mengantri kembali dengan dokter yang berbeda, hingga merasa tak tahan lagi. Wanita itu sampai tidak sadarkan diri di kursi antrian.


Singkat cerita kala ia membuka mata, sang dokter sudah berdiri di hadapannya dengan wajah yang tidak bisa terbaca akan ekspresi apa itu.

__ADS_1


"Anda sudah sadar, Ibu?" sapa sang dokter yang berbeda. Segera Citra ingin bangkit dari pembaringan namun di tahan oleh dokter.


"Dok, saya harus periksa keadaan saya dulu." kekeuh ia ingin beranjak dari tempatnya berbaring.


"Tidak, ibu istirahat dulu. Semuanya sudah saya periksa saat ibu pingsan tadi." jelas sang dokter yang membuat Citra pun terdiam penasaran dengan hasil pemeriksaan.


Cukup lama saling diam, hingga dokter itu memberikan sebuah amplop hasil pemeriksaan dan Citra membukanya. Sepasang mata milik wanita itu sempat melebar saat membaca hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya penyakit di bagian kepala. Yaitu kanker otak. Tangannya bahkan sampai bergemetar membaca tulisan di depannya.


Bersamaan dengan itu pula sang dokter menghela napasnya kasar. Turut prihatin dengan wanita di hadapannya saat ini.


"Hah? Kanker otak? Dok, ini benar hasil pemeriksaan saya?" Citra sampai meneteskan air mata tak menyangka penyakit mematikan itu justru ada di tubuhnya saat ini.


Berharap memberikan kejutan pada sang suami saat pulang kerja nanti, namun semua justru berbanding terbalik. Alfat harus mendapat kejutan yang menyakitkan dari sang istri. Citra hanya diam denga  bibir bergetar menahan tangis yang ingin pecah saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2