
Setelah di pastikan semua beres, kini Alfat mengambil bantuan dari sang mantan. Demi kesembuhan sang istri, pria itu setuju dengan tawaran yang boss ajukan.
Dimana Ratu akan memfasilitasi semua pengobatan sang istri. Tapi dengan syarat setelah kesembuhan Citra, Alfat akan bekerja dengannya. Kapan pun Ratu inginkan. Meski di luar tugas perusahaan.
Dan merasa Citra sangat membutuhkan pengobatan serta kebutuhan lainnya. Alfat sadar dengan posisinya yang saat ini tentu tidak akan cukup.
“Sayang, sudah siap?” tanya Alfat melihat Citra yang tampak mengenakan jaket tebal serta syal di lehernya.
Wanita itu tersenyum mengangguk. Alfat dengan cepat membawa sang istri ke sebuah bandara. Mereka akan melakukan pengobatan di luar negeri yang sudah Ratu urus segalanya.
Selama perjalanan Citra tak bosan memandangi wajah sang suami.
“Ratu itu wanita yang baik yah, Mas?” tanyanya tiba-tiba.
Dan Alfat yang mendengar sontak terkekeh dalam hati. “Kamu tidak tahu saja jika dia itu jahat. Dia berniat merebut suami kamu ini, Cit.” gumam Alfat dalam hatinya.
“Mas?” Citra memanggil Alfat yang tidak merespon ucapannya.
__ADS_1
Pesawat sudah melayang tinggi di atas awan, pertanda suhu di dalam pesawat pun semakin dingin. Segera Alfat merapatkan jaket sang istri dan mengambil tangan Citra. Ia tidak ingin istrinya kenapa-napa.
“Bagaimana? Masih dingin?” tanya Alfat.
Citra tak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
“Aku suka dengan Ratu, Mas. Aku yakin percaya dengannya tidak akan membuat aku sakit. Bahkan sekali pun menyerahkan hidupku untuknya. Dia pasti akan melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang ia miliki.” ucapan ambigu yang membuat Alfat hanya mengernyitkan dahi mendengar penuturan sang istri.
“Kamu jangan mengambil keputusan apa pun tanpa mengenal seseorang lebih dalam. Semua manusia memiliki sisi gelap yang tidak kita tahu, Cit.” ujar Alfat memperingati sang istri.
Namun, tanpa sadar Citra mendesis kesakitan.
“Sayang, apa yang sakit? Kamu kesakitan kan?” Alfat bergerak cepat memeriksa sang istri. Tangannya menangkup wajah Citra yang begitu pucat.
Beruntung perjalanan itu mereka sudah membawa satu suster dan satu dokter untuk mendampingi Citra.
Segera mereka memberikan obat untuk pereda sakit sesaat. Setidaknya selama perjalanan, Citra masih bisa tenang.
__ADS_1
Sungguh Alfat tidak tega melihat istrinya seperti ini.
Berbeda dengan keadaan di kantor. Wanita cantik yang tengah uring-uringan bekerja tanpa bisa semangat. Ia adalah Ratu. Meninggalkan kantor adalah jalan yang Ratu pilih.
Melajukan mobil kesebuah area mobil balap. Yah, Ratu ingin meringankan beban pikirannya sejenak tentang suami orang yang sedang ia usahakan.
“Ah…Alfat. Kenapa semua seperti ini? Kenapa aku harus seperti ini?” Setengah mengumpat marah sebab takdir seolah mempermainkan dirinya.
Dulu Ratu merasa biasa saja tidak begitu tergila-gila dengan sang mantan. Namun, kembalinya Ratu ke Indonesia, dengan usia mereka yang sudah sama-sama dewasa entah mengapa membuat wanita cantik itu gila akan cinta masa lalunya.
Sungguh Ratu mengutuk matanya yang tidak melihat sosok Alfat di masa lalu.
“Heh Nona Ratu, ada apa gerangan sampai berkunjung ke kandang kudaku ini?” Sapaan seorang pria teman Ratu tampak begitu membosankan.
Yah, seorang pemuda kaya yang memiliki area balap mobil dan beberapa mobil mewah miliknya yang siap menjadi hiburan untuk Ratu kali ini.
“Sudahlah jangan sok miskin dengan menyebut kandang kuda. Syukuri apa yang sudah kau dapatkan.” ujar Ratu ketus tanpa perduli dengan sang teman yang hanya tersenyum mendengar ucapannya itu.
__ADS_1