Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Kegugupan


__ADS_3

Tak ingin berkata-kata lagi, sontak Ratu berdiri dari duduknya. Sikap berani yang ia miliki selama ini rupanya belum juga hilang. Ia mendekati Alfat yang sedari tadi masih saja berdiri di depan pintu yang tertutup. Bukan takut, namun memilih lebih menghargai sang atasan untuk tidak duduk sebelum di perintah.


"Al, aku mau kita seperti dulu lagi." Tanpa basa basi Ratu berkata. Tangannya bahkan menggenggam tangan Alfat begitu erat.


Bukan tak tegas sebagai pria, Alfat justru sangat kaget mendengar hal itu. Dimana hatinya sepenuhnya belum mati untuk Ratu. Namun, ia sadar siapa dirinya saat ini. Pria yang sudah berstatus sebagai suami seorang wanita bernama Citra.


"Maaf, Nona. Tolong jangan melebihi batas. Saya menghargai anda sebagai atasan saya." ujar Alfat dengan sopan menepis pelan tangan Ratu dari tangannya.


Bukannya menyerah, Ratu justru bergerak cepat memeluk Alfat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alfat. "Al, aku salah. Aku sadar aku pergi begitu saja. Tolong jangan bicara formal seperti ini denganku, aku sakit mendengar itu, Al." tuturnya meneteskan air mata.

__ADS_1


Tujuannya tak ada sama sekali untuk meminta belas kasih, Ratu sungguh tulus menjatuhkan air mata sakit sebab mendengar pria yang dulu selalu memanggilnya nama kini justru menambah dengan embel-embel Nona. Terasa asing bagi Ratu dan ia merasa seperti tak ada lagi orang yang bisa mendukungnya untuk tetap kuat.


"Nona, maafkan saya. Tolong lepaskan ini semua." Alfat mundur usai berhasil melepaskan diri. Ia berusaha menjaga jarak dari Ratu yang terisak.


"Kita adalah atasan dan bawahan. Tolong jangan buat saya mendapat masalah di kantor ini, Nona. Saya ingin bekerja dengan baik di sini." ujarnya sungguh begitu asing terdengar.


Ratu beberapa kali menggelengkan kepala tak habis pikir dengan tingkah pria di hadapannya saat ini. Dua cara ia lakukan belum mampu membuat Alfat merubah panggilan padanya. Nekar Ratu berjalan cepat dan menarik tengkuk leher Alat. Ia mendaratkan bibirnya pada bibir Alfat.


Ia tersenyum senang mendengar Alfat memanggilnya dengan nama. "Kenapa harus aku cium baru memanggilku Ratu? Apa memang kau menginginkan hal itu, Al?" tanyanya melangkah kembali maju ke hadapan Alfat.

__ADS_1


Merasa tak benar, buru-buru Alfat berbalik badan dan lari keluar dari ruang kerja Ratu. Ia tak ingin terjadi fitnah atau hal buruk lainnya lagi. Sepanjang jalan pria itu sangat tergesa-gesa. Beberapa kali bahkan ia menabrak pekerja lainnya.


Pikiran Alfat kacau saat ini, Ratu sudah benar-benar membuatnya gila. Hingga tanpa terasa pria itu tiba di ruang kerjanya. Keringat pun meluncur bebas dari dahinya. Tangannya bergerak pada kerah kemeja untuk mendinginkan tubuh yang panas akibat gugup itu.


Satu jam dua jam hingga menuju jam makan siang, nyatanya Alfat tak kunjung konsentrasi bekerja. Ia hanya bisa membolak balikkan dokumen tanpa mengerjakan apa pun.


"Astaga kenapa jadi seperti ini sih? perasaan ini apa itu artinya..." ucapnya menggantung dengan pikiran yang tak menentu. Kasar ia memukul kepalanya beberapa kali hingga terhenti saat terdengar suara dari arah pintu.


"Mas, kenapa? Sakit kah?" pertanyaan dari seorang wanita yang tak lain adalah Citra membuat Alfat melongo. Wajahnya bengong melihat sosok yang berdiri di depan pintu adalah wajah Ratu namun suara yang ia dengar adalah sang istri.

__ADS_1


"Mau apa lagi kemari? Tolong jangan ganggu saya." ujarnya tegas yang membuat wajah wanita di depan pintu sana mengerutkan  kening dan memudarkan senyuman seketika.


__ADS_2