Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Mendapat Ketenangan


__ADS_3

Waktu sore menjadi waktu terakhir untuk Ratu di kantor ini. Gadis itu berjalan melewati ruang kerja Alfat. Di lihatnya lampu masih menyala, meski di luar sudah mulai gelap rupanya pria itu melakukan seperti yang ia katakan pada Jery siang tadi untuk lembur.


“Kamu memang masih tekun seperti dulu, Al. Itu yang buat aku senang melihat kerja kerasmu.” gumam Ratu sembari melangkah meninggalkan kantor.


Tak ada niat gadis itu untuk menyapa sang mantan. Sebab ia tahu Alfat akan sangat sibuk mengurus kerjanya sebelum mereka berangkat besok. Dan tentu saja Ratu sangat suka akan hal itu. Sebab, itu artinya waktu untuk mereka berdua tidak akan terganggu oleh kerjaan lainnya.


Sementara di depan mobilnya, kedatangan ratu sudah di sambut oleh sang bodyguard. Ratu masuk ke mobil dan duduk tenang. Wajahnya tampak tenang.


Hingga perjalanan pulang pun terasa aman bagi para pria yang bertugas mengawal sang nona muda.


“Mas Alfat pasti belum makan, kasihan sekali dia.” Di sini seorang wanita tampak mengusap kedua lengannya sembari duduk di teras rumah.


Citra menunggu kepulangan sang suami meski sebelumnya sudah di beri tahu jika pulang terlambat. Ketenangan yang biasanya ia rasakan kini perlahan menghilang. Entah mengapa Citra merasa gelisah menunggu suaminya pulang. Bahkan beberapa kali wanita itu keluar masuk rumah demi menenangkan hatinya yang tak kunjung reda dari rasa cemas.

__ADS_1


“Apa aku susul saja yah? Tapi takut mengganggu pekerjaan Mas Alfat. Aduh bagaimana ini?” Berpikir beberapa saat hingga akhirnya Citra menemukan ide.


Ia berjalan masuk ke dalam rumah dan segera mengambil rantang makan dan mengisinya. Semua menu yang ia masak malam ini di bawakan beberapa bagian untuk suaminya.


***


Waktu menunjuk pada pukul sembilan malam, dimana Alfat masih berkutat dengan laptop serta beberapa dokumen yang akan ia sesuaikan satu persatu.


Tok tok tok


Tiba-tiba suara ketukan di pintu membuat Alfat buyar konsentrasinya.


“Mas, aku bawa makan malam buat Mas.” Citra membuka pintu sembari menjelaskan tujuannya datang. Ia takut jika Alfat akan marah karena mengganggu waktu kerjanya.

__ADS_1


Meski takut, namun Citra merasa jauh lebih tenang kala melihat suaminya seorang diri di ruangan dan benar, Alfat tengah sibuk.


“Citra? Kok kesini? Sudah malam loh. Lagian Mas juga kerja.” Suara Alfat terdengar tenang tak ada raut marah sedikit pun.


Bukannya menjawab, Citra justru tersenyum. Ia senang melihat sang suami yang masih tetap baik di waktu genting seperti ini, jika kebanyakan di luar sana orang akan mudah emosi saat waktunya terganggu tidak dengan pria satu ini.


“Aku tahu Mas pasti tahan lapar kan biar cepat selesai kerjanya? Sekarang aku suapi dan Mas bisa tetap kerja.” Alfat mengembangkan senyum sembari mengangguk setuju.


Kehadiran sang istri nyatanya sangat membantu. Bahkan ia bisa kerja dengan fokus karena perutnya pun tak terasa perih lagi.


“Cit, tunggu yah? Kita pulang bareng. Kamu kalau ngantuk tidur di sofa itu mau?” Tunjuknya pada sofa yang di rasa cukup nyaman untuk istirahat.


Tak ada kata penolakan untuk sang suami, Citra pun beranjak dan menyandarkan tubuhnya di sofa. Sementara Alfat kembali pada kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2