Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Makan Malam


__ADS_3

Keringat dingin tiba-tiba saja meluncur satu demi satu titik. Dimana tubuh yang semula tertidur nyenyak kini sudah bergerak kesana kemari. Beberapa kali tangannya bergerak seakan menggapai sesuatu yang ia lihat.


“Maaf, Al. Aku sudah kembali. Tolong jangan dingin padaku lagi, aku akui aku salah.”


"Jangan, tolong jangan pergi. Hubungan kita belum usai, Alfat! Alfat!" Teriakan beberapa kali menggema di kamar milik Ratu, sayang karena kedap suara tak satu orang pun yang mendengarnya.


Hingga tubuh gadis itu bergerak bangun dan terduduk. Dadanya terlihat naik turun mengatur napas yang tak beraturan. Sejenak Ratu mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Untuk beberapa saat ia duduk berdiam seolah memikirkan apa yang baru saja terjadi dalam mimpinya.


Rasa penyesalan pun tiba-tiba saja hadir di benak wanita cantik itu. Ia berpikir ini semua hanyalah mimpi tidurnya. Namun, ia sadar ada hati yang belum usai sampai saat ini. Melihat bagaimana pria yang mencuri perhatiannya begitu manis memperlakukan wanita yang tak lain adalah istrinya. Rasa iri begitu jelas menguasai hati Ratu.

__ADS_1


"Ah sudahlah sebaiknya aku mandi dan makan. Bertemu dengannya setelah sekian lama benar-benar membuatku hilang kewarasan sepertinya." ujar Ratu seraya melangkahkan kakinya turun dari tempat tidurnya.


Berbeda suasana dengan keadaan di kediaman Alfat. Rumah sederhana yang tidak begitu besar, bekerja dengan jabatan manager rupanya tak membuat sepasang suami istri itu menggunakan uang untuk memenuhi gaya hidup mereka. Citra yang berasal dari keluarga sederhana sangat bersyukur dengan apa yang sang suami berikan.


"Mas, mau makan apa? Biar aku ambilkan." ujarnya melayani Alfat di meja makan. Tangan yang memegang piring kosong itu pelan namun pasti terisi dengan berbagai macam lauk yang suaminya tunjuk.


Alfat sangat suka momen makan bersama istrinya, dimana ia akan di perlakukan seperti seorang anak kecil oleh ibunya. Citra begitu menjadi sosok istri yang sempurna untuknya. Usai memastikan piring suami lengkap, barulah ia mengambil piring untuknya sendiri dan mengisi sesuai selera. Keduanya makan dengan tenang, meski beberapa kali manik mata Citra menatap wajah sang suami yang menikmati makan dengan lahap.


"Mas Alfat, boleh aku bertanya?" tanyanya hati-hati. Sebab melihat dari apa yang terjadi siang tadi, mustahil jika tak ada sesuatu antar suami dan wanita yang bernama Ratu itu. Citra yakin seyakin-yakinnya mereka sangat dekat dulu. Jika tidak, bagaimana mungkin Ratu sampai selancang itu menyuapi makan sang suami bahkan di depannya pula.

__ADS_1


Sejenak Alfat pun menganggukkan kepalanya dan menatap wajah sang istri. Ia tersenyum lembut.


"Ada apa? tanyalah. Kenapa harus meminta ijin seperti itu, Cit?" tanya Alfat yang membuat Citra segera menghembuskan napasnya pelan.


Bukan takut saja yang ia rasakan, namun ada rasa belum siap mendengar jika ada kabar yang akan membuat hatinya sakit setelah mendengar jawaban sang suami. Bagaimana pun ia tahu sosok Ratu yang ia lihat adalah wanita yang sangat sempurna. Sangat jauh di bandingkan dirinya saat ini.


"Memangnya Mas Alfat kenal dengan atasan Mas itu?" tanyanya tanpa menyebut siapa yang ia maksud. Tentu saja mendengar pertanyaan sang istri bukannya paham, Alfat justru mengerutkan keningnya heran.


"Kamu ini ada-ada saja. Tuan Raul maksudnya? Yah tentu kenal dong kan beliau setiap hari datang ke kantor Mas tempat suami kamu ini bekerja. Bagaimana mungkin Mas tidak mengenal beliau." jawab Alfat apa adanya.

__ADS_1


Citra tersenyum kikuk melihat sang suami yang menggelengkan kepala heran. Ragu ia pun kembali bersuara sembari meremas tangannya sendiri. "Bu-bukan itu. Mas. Maksud aku atasan Mas yang perempuan tadi. Yang makan di kantin bareng kita." jelasnya sekilas membuat senyum di wajah Alfat menghilang.


__ADS_2