Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Perintah Sepihak


__ADS_3

Terlalu fokus dengan pekerjaan hingga tak sadar telah melewatkan waktu sangat banyak. Alfat baru menyadari kala mendengar dengkuran halus dari mulut sang istri yang ternyata sudah terlelap di sofa entah sejak kapan. Pelan ia menyudahi pekerjaan dan menutup laptop kerjanya. Senyumnya mengembang melihat wajah teduh Citra yang menurutnya sangat enak di pandang.


Ia berdiri dari duduknya berjalan dan menghampiri sang istri. Pelan di usapnya pipi mulus tanpa make up itu.


"Maafkan aku, Cit. Gara-gara pekerjaan kamu harus ikut gelisah di rumah. Aku tahu kamu khawatir sama aku kan?" gumamnya terus mengelus pipi sang istri hingga pelan kedua mata milik Citra pun terbuka. Silau yang pertama kali ia lihat hingga akhirnya Citra pun membuka lebar dan melihat sang suami ada di depannya saat ini.


"Mas," ujarnya menyapa dan membangunkan tubuhnya.


"Kebangun gara-gara tanganku yah? Ayo pulang." ajak Alfat lembut.


Manik mata Citra bergerak menatap meja kerja sang suami yang sudah rapi. "Sudah selesai kerjaannya?" tanyanya memastikan jika dirinya tidak mengganggu sang suami.


"Iya sudah selesai semua. Terimakasih yah sudah temanin jadinya lebih terasa cepat kerjaannya." jawab Alfat yang membuat Citra pun tersenyum.


"Bukannya gara-gara aku kamu jadi nggak fokus kerjanya yah, Mas?" Alfat menggelengkan kepala cepat hingga keduanya pun memutuskan pulang ke rumah.


Setelah tiba di rumah pun Citra tak langsung mengistirahatkan tubuhnya. Wanita itu bergegas mempersiapkan barang bawaan sang suami serta menyiapkan baju ganti Alfat yang saat ini tengah mandi. Terasa berat kedua tangan itu memasukkan lembaran pakaian ke dalam koper. Ada hati yang gelisah, andai saja tak mengingat ini sebuah pekerjaan, Citra pasti memilih untuk ikut.

__ADS_1


Mungkin sebagian orang hal yang Citra lakukan terkesan cemburu berlebihan. Namun, tidak dalam persepsi sebuah pernikahan. Hal yang menunjukkan adanya peluang terjadi yang tidak di inginkan, ada kalanya lebih baik di cegah sebisa mungkin. Pernikahan akan jauh lebih mudah di hancurkan dari pada di pertahankan. Sebab sesuatu yang terjadi sulit pula untuk di kembalikan. Itulah baiknya kala seorang istri memperjuangkan untuk mencegah sesuatu hal buruk masuk ke dalam pernikahannya.


"Ya Tuhan, aku serahkan semua padamu. Aku tak memiliki kuasa untuk hal ini, karena menyangkut pekerjaan Mas Alfat." gumamnya.


"Cit, ada apa?" Suara Alfat terdengar tiba-tiba mengejutkan Citra yang tak sengaja memeluk erat baju sang suami yang ingin ia tata di dalam koper.


Segera wanita itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


"Mas," ia bangkit dan membawakan baju ganti untuk Alfat. Menyadari sikap sang istri, Alfat pun sangat peka. Ia memegang kedua lengan Citra dan memeluknya sangat erat.


"Mas akan jaga semua untuk kamu. Kamu pasti sangat cemas karena besok Mas pergi kan?" tatapnya begitu dalam dan Citra tak sanggup untuk menutupi perasaannya pada sang suami. Pelan ia pun mengangguk.


"Mas tidak akan berjanji padamu, tapi Mas yakin tidak akan terjadi apa pun. Mas akan pulang dalam keadaan baik-baik saja dan utuh. Tolong doakan Mas selama pergi karena Mas sendiri tak punya kuasa untuk menolak perintah ini."


"Iya, Mas. Aku ngerti kok. Mas fokus dengan pekerjaan saja yah biar cepat selesai dan segera pulang." jawab Citra.


"Em...sebagai bekalnya Mas boleh minta dong?" kedua alis Alfat naik turun menatap sang istri seolah memberi kode untuk meminta haknya sebagai suami. Dan Citra mengangguk malu mendapat tatapan menggoda dari sang suami.

__ADS_1


Keduanya pun merebahkan tubuh di atas kasur dengan saling menyatu. Menanamkan stok kerinduan agar tidak tersiksa kala mereka berjauhan.


***


Pagi dimana waktu yang paling di takutkan sepasang suami istri namun paling di nantikan oleh seorang gadis sudah tiba. Sebuah mobil telah terparkir rapi di halaman rumah milik Tuan Raul. Ketiga orang yang tengah sarapan tampak menatap sosok pria yang di bawa oleh Dani.


"Oh Al, ayo sarapan dulu." Dengan santainya Ratu memanggil pria yang bernama Alfat untuk gabung makan di meja makan saat itu.


Sontak hal itu membuat Tuan Raul mau pun Eris saling pandang. Bukan mereka tidak tahu siapa pria di depannya saat ini. Yah, mantan kekasih sang anak di masa SMA. Dan mereka sangat kaget dalam rangka apa Alfat datang ke rumah mereka.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya." ramah Alfat berucap tanpa mendekat pada mereka.


Mengerti akan keterkejutan kedua orangtuanya, Ratu pun menjelaskan. "Yang berangkat denganku pagi ini adalah Alfat, Pi."


"Uhuk uhuk, apa Alfat?" Tuan Raul tersedak makanan saat mendengar penuturan sang anak yang menurutnya aneh. Bukankah Alfat sedang sibuk-sibuknya di perusahaan dan sangat tidak logis membawa pria ini untuk ke lapangan. Sementara di perusahaan sangat banyak yang bisa di bawa oleh sang anak.


Bukan hanya Raul yang kaget, Alfat pun tak kalah kagetnya. Ia baru tahu jika kepergiannya saat ini bukanlah perintah langsung dari Raul. Itu artinya ini semua adalah murni permintaan Ratu tanpa persetujuan sang ayah.

__ADS_1


Merasa tak memiliki wewenang, Alfat hanya mampu berdiam diri saja.


"Sudahlah aku rasa tidak ada waktu lagi. Sekarang kita berangkat dan makan di jalan saja." Ratu tak ingin mengulur waktunya. Ia bergegas keluar rumah tanpa  berpamitan pada orangtua dan Alfat hanya bisa mengikuti langkah Dani yang menariknya.


__ADS_2