Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Rencana Briliant


__ADS_3

Di tengah teriknya mentari siang itu, tampak sosok pria tengah keluar dari toilet umum sebuh restauran. Yah dia adalah Alfat. Ratu yang menunggunya sejak tadi untuk segera makan tampak tersenyum senang melihat kehadiran pria yang membuatnya hilang kewarasan. Katakanlah Ratu adalah wanita yang tidak punya hati.


"Al, ayo makan." ajaknya dengan ramah.


"Em maaf, Nona. Saya sudah membawa bekal dari rumah. Sebentar saya ambil bekal dulu dan makan di sini." ujarnya menolak halus dengan menu yang sudah di pesankan oleh Ratu.


Bebek bakar bagian sayap, menu yang selalu ia sukai sejak dulu mulai bersama Ratu hingga saat ini. Namun, ia tak ingin kali ini menampakkan jika dirinya masih sama seperti dulu. Sekuat mungkin Alfat menunjukkan pada sang mantan jika ia bukanlah pria yang sama hingga Ratu bersikap seolah sangat mengenalnya dan tahu dirinya.


Saat ini ada Citra yang harus ia jaga hatinya. Kesal tentu saja, Ratu sangat kesal mendengar Alfat memilih bekal yang Citra bawakan dari pada menu kesukaan yang Ratu pesankan lebih dulu tanpa Alfat memintanya.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, Al." gumamnya menatap licik punggung pria yang saat ini tengah mengambil makan di dalam mobil. Tak lama kemudian Alfat pun datang dengan rantang di tangannya. Dengan senang hati ia membuka lebar bekal itu di hadapan Ratu. Seolah menunjukkan bagaimana ia begitu bangga memiliki istri seperti Citra.

__ADS_1


"Sepertinya enak, boleh aku memakannya?" Belum saja Ratu mendapat jawaban dari Alfat, tangannya sudah lebih dulu mengambil dengan cepat rantang yang ada di hadapan Alfat.


Dengan gerakan cepat pula Ratu mengaduk makanan itu hingga bercampur kesana kemari, tak mungkin jika sudah ia pegang semua Alfat mau memakannya. Senang rasanya melihat wajah Alfat yang datar tanpa bisa marah. Ratu tersenyum puas lalu mulai memakan sedikit lauk yang ternyata udang goreng dan sambel tempe orek.


Meski kesal, namun Ratu tak bisa membohongi lidahnya sendiri. Masakan Citra sungguh enak di lidahnya meski terasa sedikit asin.


"Nih kamu makan yang ini saja yah?" ujarnya menyerahkan menu yang memang ia pesan untuk Alfat. Patuh pria itu mau tak mau memakan pesanan yang sudah Ratu sodorkan padanya. Sebab perutnya pun juga sangat lapar.


"Cit, makan siangnya jangan telat yah? Mas baru lanjut perjalanan ini baru singgah makan siang tadi." ujar Alfat melalui pesan singkat yang ia kirim baru saja. Belum sempat pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku jas, dering pesan terdengar saat itu.


Sesuai dugaan Citralah yang membalas pesannya barusan. Alfat yakin sedari pagi Citra pasti menunggu kabarnya. Berniat setiba di hotel ia akan menghubungi sang istri demi menenangkan pikiran Citra.

__ADS_1


"Mas sudah makan siang yah? Gimana Mas bisa makan bekalnya kah?" pertanyaan dari Citra tentu saja  membjuat Alfat mengernyitkan kening heran. Memangnya ada apa mengapa sang istri sampai bertanya seperti itu?


"Iya Mas baru makan. Memangnya kenapa masakannya, Cit?" tanya Alfat yang memang tidak tahu apa-apa. Dan mendapat balasan pesan dari sang suami Citra seketika berpikir jika Alfat tidak memakan masakannya.


Semakin gelisah rasanya. "Mas, bekal yang aku buat tadi ternyata keasinan. Masa Mas nggak ngerasa? Mas kan paling nggak bisa makan kalau asinnya lebih sedikit saja." Alfat cukup lama membaca pesan itu tanpa mengetik balasan pesan sang istri. Sebab ia bingung harus mengatakan apa kali ini, bagaimana mungkin ia bisa makan sementara yang memakan bekalnya adalah Ratu.


Menoleh pada Ratu, Alfat seketika kembali menatap ponselnya. "Al, ini masih jam kerja. Jangan bermain ponsel terus." Suara peringatan dari Ratu sontak membuat Alfat meletakkan ponsel ke dalam saku jas tanpa sempat membalas pesan sang istri.


Beberapa kali ponsel itu berdering nada pesan namun Alfat tak kunjung membalasnya. Gelisah tentu saja ia sangat gelisah namun melihat jalanan yang tidak macet, Alfat berharap mereka segera tiba di hotel dan bisa menghubungi sang istri secepatnya untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan, Al." Ratu tersenyum dalam hati membayangkan apa yang sudah ia susun saat ini dengan rencana briliant tentunya.

__ADS_1


__ADS_2