
Alfat terdiam bahkan sampai menjatuhkan tangannya dari pundak sang istri yang semula ia peluk. Sungguh bagai tersambar petir mendengar ucapan Citra barusan. Rasanya bagai mimpi buruk mendengar penyakit yang menimpa sang istri. Belum usai ia melamun, Citra sudah mendorong cepat pelukan sang suami untuk terlepas. Wanita itu sudah berlari kembali ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
"Astaga, Citra." ucap Alfat tersadar dari lamunan dan menyusul istrinya.
Terlihat Citra yang lemas di papah kembali keluar kamar mandi olehnya. Di baringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur serta menyelimuti tubuh istrinya. Sedih sekali melihat Citra yang lemas seperti ini, bahkan rasa bersalah semakin menghinggapi Alfat kala melihat istrinya seperti ini sementara ia teringat bagaimana di kota lain kemarin ia bersama hampir dua puluh empat jam dengan sang mantan kekasih.
Pelan pria itu membungkuk memeluk tubuh sang istri yang terbaring lemas tak berdaya. Ia meneteskan air mata sembari mencium puncak kepala Citra hangat.
__ADS_1
"Maafkan aku, Cit. Maaf, di sini kamu menahan sakit justru aku malah berduaan dengan Ratu. Sungguh ini bukan kemauan aku, Cit. Maafkan aku, Sayang." Dalam hati Alfat terus mengutuk dirinya yang tak bisa melakukan apa pun selain pasrah dengan perintah Ratu.
Setidaknya ia masih bisa membatasi diri dengan tidak menyentuh wanita lain selain sang istri, yah itulah yang ia pikir saat ini. Kesetiaannya pada Citra masih tetap utuh sampai detik ini. Dan Alfat berjanji tidak akan memberikan ruang lagi pada wanita lain termasuk Ratu untuk mendekatinya.
Pelan akhirnya kedua mata Citra pun tertutup sempurna. Ia terlelap merasakan usapan lembut di keningnya dari tangan sang suami.
Alfat yang memperhatikan sang istri tak hentinya meneteskan air mata sedih. Ia turut khawatir dengan apa yang menimpa pada Citra. Sungguh seperti mimpi terburuk yang pernah ia dapat mendengar kabar penyakit menakutkan kini justru menimpa di keluarganya.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan keadaan di kamar kediaman Raul. Seorang gadis tengah duduk diam mendapat tatapan tajam dari sang ayah.
Selama ini Ratu seenaknya berbuat apa pun yang ia inginkan, namun kali kini ia mendapat teguran keras dari sang ayah.
"JanganĀ mencoba hal gila, Ratu. Papi tidak akan tinggal diam kalau sampai benar dugaan Papi. Kamu tengah mengincar rumah tangga mantan kamu itu. Alfat sudah bahagia dengan istrinya, kamu patut mencari pria lain. Dia itu sudah menjadi suami orang. Sangat memalukan jika kamu mengejar pria beristri. Mengerti kamu?" pekik Raul dengan wajah penuh amarah.
Hening tanpa ada jawaban dari Ratu. Sementara Eris yang baru saja pulang ikut duduk di samping sang anak. Wajah tanpa dosa membuat Raul semakin muak.
__ADS_1
"Ada apa sih, Pi? kenapa marah seperti itu? Bisa di bicarakan baik-baik kan?" tanyanya dengan santai.
"Mami masuk ke kamar jika tidak bisa memberi masukan pada anak kita ini. Jangan semakin membuat Papi pusing. Sudah cukup tingkah Mami membuat wajah Papi keriput. Sekarang Ratu justru menambah pikiran Papi semakin pusing. Kenapa sih perempuan selalu buat pusing?" gerutu pria paruh baya itu menghempaskan tubuhnya di sofa yang semula berdiri tegap.