
Dengan wajah kesal Ratu melipat kedua tangan di depan dada. Kepulangan yang tak ia inginkan terpaksa harus di lakukan atas perintah sang papi. Semua demi perusahaan, bahkan Tuan Raul sampai mengancam akan memecat Alfat jika tidak bisa hadir. Dan tentu saja Ratu tak ingin itu semua terjadi.
Sementara ia pun belum menjadi apa-apa di perusahaan. Ratu akan bebas melakukan apa saja usai sang papi tidak memiliki kedudukan lagi di perusahaan, dan sekarang belum waktunya.
“Dani, lajukan mobil. Aku bosan di perjalanan terus.” ketusnya yang tak mendapat bantahan sedikit pun dari sang bodyguard.
“Nona, akan bahaya kalau kita laju-laju.” Alfat yang tak ingin terjadi apa-apa akhirnya angkat bicara.
Mendengar itu Ratu sama sekali tidak menanggapinya. Saat ini perasaan wanita itu sangat tak karuan, ia begitu emosi bahkan untuk melihat pria di sampingnya saja ia sampai tak berniat sama sekali.
Sesuai dengan perintah, Dani menambah kecepatan laju mobil mereka.
“Akhirnya aku pulang juga, aku sangat khawatir sama kamu, Cit.” gumam Alfat yang ingat bagaimana sang istri saat ini begitu sulit di hubungi.
***
Singkat cerita, kepulangan mereka akhirnya tiba di siang hari. Bukannya pulang ke rumah. Alfat sudah harus segera tiba di perusahaan.
“Tuan, maafkan saya.” Pelan dan sopan ia menghadap pada Raul.
Pria paruh baya yang duduk dengan tenang di kursi kerjanya tampak menatap pria di depannya kini.
“Kenapa meminta maaf? Anak saya yang justru seharusnya mengatakan itu pada saya.” Ucapan Raul tak mendapat respon dari Alfat. Sebab ia sendiri tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
“Dimana Ratu?” tanya Raul yang tidak melihat sang anak sama sekali.
“Nona Ratu pulang ke rumah, Tuan.” jawab Alfat yang mendapat helaan napas kasar oleh pria di depannya. Begitu acuh Ratu pada masalah kantor.
“Baiklah, ini beberapa berkas yang harus kau periksa. Saya merasa ada kejanggalan dari keuangan bagian pembangunan. Segera bawa ke saya jika sudah selesai,” titah Raul yang mendapat anggukan kepala dari Alfat.
Perjalanan panjang tentu saja sangat melelahkan, namun sekali lagi bagi seorang bawahan tak ada kata dalam kamus untuk mengeluh selain kata kuat dan sabar. Alfat bergegas menyelesaikan pekerjaannya hingga menghubungi beberapa karyawannya untuk memeriksa detail setiap laporan lainnya juga.
Menghubungi beberapa sumber untuk memastikan keakuratan laporan tersebut, tepat pada pukul tujuh malam semua telah selesai.
“Anda di minta ke rumah Tuan besar untuk melaporkan hasil kerja hari ini,” Jery yang menemui Alfat memberitahu pesan yang Raul titipkan sore tadi.
Patuh, Alfat pun turut di antar ke rumah sang atasan. Dimana kedatangannya adalah tepat pada waktu makan malam.
Di sana Ratu tengah duduk makan dengan kedua orangtuanya, berpakaian minim membuat Alfat sangat tak kuasa menahan hasratnya.
Kemolekan tubuh Ratu sangat menggoda iman pria muda itu.
“Al,” sapaan hangat yang selalu Ratu ucapkan setiap kali bertemu sang mantan.
Raul yang melihat pakaian sang anak, sampai geleng kepala. “Ratu, masuk ke kamar,” pintahnya tegas.
“Pi, aku lagi makan.” elaknya tak kalah tegas.
__ADS_1
Mengalah adalah jalan terbaik. “Alfat, ikut saya ke ruang kerja.” Raul pun segera bangkit mengajak Alfat ke ruang kerja demi menghindari tingkah sang anak yang keterlaluan menurutnya.
Melihat hal itu bibir Ratu tampak mengerucut ke depan.
Hampir satu jam lamanya berada di ruang kerja, akhirnya Alfat di perbolehkan pulang.
“Pekerjaan yang bagus. Kau boleh pulang sekarang.”
Raul memintanya segera pulang tanpa menawarkan makan malam tentu karena Ratu. Ia tak ingin semakin memberikan waktu sang anak berdekatan dengan pria yang menurutnya tidak pantas untuk di kejar.
“Terimakasih, Tuan.” Alfat bergegas pergi namun langkah kakinya terhenti saat mendapat cekalan di pergelangan tangan.
“Bagaimana pernikahanmu? Apa kau mencintai istrimu?” Kaget bukan kepalang Alfat mendengar pertanyaan sang atasan.
Kasar ia meneguk salivahnya, “Pernikahan kami baik-baik saja, Tuan. Bahkan sangat baik dan saya tentu saja sangat mencintai istri saya.” Jawaban yang membuat perasaan Raul sangat lega mendengarnya.
Ia pun meminta Alfat untuk segera pergi dari rumahnya.
Tak sabar dengan pertemuannya bersama Citra, sebelum pulang Alfat meminta taksi yang ia tumpangi untuk singgah membeli buket bunga. Berharap tak ada masalah dengan Citra.
Was was tentu saja Alfat rasakan sebab ia memang melakukan kesalahan dengan tidur satu kamar bersama wanita lain.
Perjalanan pun terasa cukup lama sebab sangat macet, bahkan lelah di tubuhnya kian terasa saat ini. Alfat merasa sangat lelah dan ingin istirahat, sayang besok ia sudah harus kembali bekerja.
__ADS_1