Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Trik Berikutnya


__ADS_3

Pagi harinya Citra sarapan dengan segelas susu hangat dan roti. Sebelum mandi ia sudah mempersiapkan segala keperluan untuk ia bawa ke rumah sakit. Senyuman terus mengembang kala wanita itu bergegas masuk ke sebuah taksi yang sudah ia pesan. Bahkan memikirkan sang suami yang berada di kota lain tak lagi ia lakukan. Harapannya pagi ini adalah bisa mendapatkan kabar bahagia dan menghadiahkan pada sang suami.


Sementara di tempat yang berbeda, Alfat mencoba mengirim pesan ucapan selamat pagi pada sang istri, beberapa saat menunggu sembari sarapan di hotel. Nyatanya ia tak kunjung mendapatkan balasan dari Citra. Heran tentu saja, sebab sedari pagi sang istri sama sekali tidak ada menghubunginya atau mengirim pesan singkat pun.


"Al, ayo." Ratu mengajaknya bergegas menuju lokasi di mana akan ada pembangunan yang hampir selesai. Tanpa mejawab, Alfat pun sudah melangkah mengikuti sosok wanita di depannya bersama beberapa pria lainnya.


Bekerja dengan sang atasan tak lagi membuat Alfat sempat memikirkan hal lain, meski dalam hatinya pria itu sangat cemas.


Sebab ponsel yang berada di sakunya sejak tadi masih tak kunjung mendapat notifikasi. Yang artinya Citra belum juga membalas pesan darinya.


Setibanya di tempat kunjungan, mereka pun turun. Satu persatu Ratu cek hingga mereka memasuki hampir setiap sudut bangunan besar itu.


“Selamat datang, Ibu.” Sapaan dari beberapa pekerja hanya mendapat sikap acuh dari Ratu.


Namun, tak ada yang bisa mengacuhkan dirinya. Mereka hanyalah bawahan. Tak perduli mendapat sambutan balik yang baik atau di acuhkan, mereka harus tetap menyapa.


Sementara di belakang, justru Alfat lah yang membalas sapaan mereka semua dengan menangkupkan tangannya ramah.


“Al, kakiku pegal.” manja Ratu bersuara.


“Nona, ada yang anda perlukan? Biar kami mengambil kursi untuk anda istirahat.” Salah satu bodyguard mendekat pada Ratu.

__ADS_1


Berniat untuk bersikap siaga, namun justru kedatangannya mendapat sambutan tatapan tajam dari Ratu.


“Aku meminta Alfat, bukan kamu atau mereka!” ketus Ratu berbicara.


Akhirnya pria itu memundurkan dirinya dan membiarkan Alfat yang mendekat.


“Anda butuh sesuatu, Nona?” Dengan sopan Alfat bertanya.


Bukannya menjawab, Ratu justru menaikkan sebelah tangan. “Papah aku,” terdiam sejenak Alfat tak kuasa untuk menolak dan juga menerima.


“Al, ayo papah aku, aku tidak kuat berjalan dengan heels seperti ini.” Alasan yang masuk akal. Dan Alfat melihat heels yang di pakai Ratu memang tidak pantas untuk meninjau lokasi.


“Justru itu aku ingin memastikan pembangunan di sini harus benar-benar baik termasuk lantai dasarnya. Jika lantainya pun sudah bagus tentu semuanya akan jauh lebih bagus.” Angkuh ia bersuara tanpa mau mengalah.


Alfat dan lainnya hanya bisa diam. Untuk saat ini tidak ada yang salah di lakukan Ratu. Semua yang salah pun harus jadi benar.


Akhirnya Alfat berjalan memapah tubuh gadis itu. Senang rasanya bisa berdekatan lebih dekat lagi dengan pria yang ia rindukan.


Setengah hari keduanya terus berdekatan, Ratu bahkan hampir lupa rasanya berjalan dengan normal.


“Al aku lapar,” ujarnya saat tiba di dalam mobil hendak pulang ke hotel istirahat.

__ADS_1


“Kita akan tiba di hotel sebentar lagi, Nona. Makan di hotel rasanya cukup hemat waktu dan tenaga.” Ucapan Alfat yang bisa di terima oleh Ratu.


Memikirkan cara apa lagi yang akan ia lakukan, Ratu terdiam beberapa saat hingga idenya kembali muncul.


“Akhirnya aku tahu apa lagi yang harus aku lakukan,” tutur Ratu dalam hati, senyuman menyeringai terbit di wajah cantiknya.


“Kita makan di kamar saja, aku sangat lelah.” Ratu berjalan dengan kembali di papah oleh Alfat. “Auh kakiku sakit,”


“Nona, anda baik-baik saja?” Alfat melepaskan rangkulannya pada pundak Ratu.


“Al, kakiku lecet dan sakit.” Di dalam lift wanita itu melepas heelsnya. Jelas Alfat melihat kaki putih yang terkelupas itu. Rasanya tak tega jika menuduh Ratu hanya berbohong saat ini.


Inisiatif Alfat mengangkat tubuh Ratu ke dalam gendongannya. Tanpa sadar keduanya pun saling pandang cukup lama.


Ratu bisa melihat bagaimana tatapan yang beberapa tahun itu hilang kini telah kembali.


“Sebaiknya lain kali jangan memakai heels lagi.” Alfat yang sadar akan kekhilafannya segera memutus kontak mata mereka.


Pria itu melangkah keluar lift dan menuju kamar. Ratu masih tampak diam menatap rahang tegas yang begitu dekat dengannya saat ini. Hangatnya tubuh Alfat serta wangi parfum yang masih sama sungguh membuat Ratu tak ingin jauh darinya.


“Al, aku sangat merindukanmu.” Lirihnya namun masih terdengar oleh pria yang menggendongnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2