
Ketika sore telah menyapa, kini Ratu berjalan melewati para pekerja di perusahaan yang memberikan hormat padanya. Dengan angkuh gadis cantik ini berjalan di ikuti beberapa pria di belakangnya. Bahkan saat melihat kehadiran wanita lain di perusahaan itu yang tak lain adalah sang mami, ia tampak acuh. Hanya cebikan di bibir saja yang Ratu perlihatkan.
Sementara wanita yang bernama Eris rupanya tak melihat keberadaan sang anak yang sudah memasuki mobil. Ia tampak sibuk berbicara dengan seorang yang merupakan mantan pelanggannya dahulu.
"Biarkan anda di supir oleh saya saja, Nona." Dani yang sebagai bodyguard Ratu berbicara sebelum wanita itu mengambil alih kemudi seperti siang tadi oleh supir yang bekerja dengan Raul selama ini.
Dani yakin jika dengannya, Ratu tak akan bisa seenaknya berlaku. Hingga wanita itu pun hanya bisa patuh masuk ke mobil sebab ia sendiri pun merasa lelah untuk pergi kemana-mana lagi. Yang ada di pikirannya hanyalah tempat tidur dan bermain ponsel berbaring.
Sementara di perusahaan tampak pria paruh baya memijat pelipisnya pusing kala sebuah pintu ruangan sudah ia buka. "Nona Ratu sudah pergi limat belas menit yang lalu, Tuan." jawab seorang yang membuka pintu untuk tuan besarnya.
"Hais...mau jadi apa perusahaan ini melihat pimpinannya bahkan pulang lima belas menit sebelum waktunya pulang? Ratu, kau benar-benar harus Papi beri didikan kali ini." geram Raul melangkah meninggalkan ruangan sang anak usai menggerutu dalam hati.
Dirinya saat ini melihat jam yang baru saja menunjukkan waktu pulang kerja, itu artinya sang anak pulang lebih dulu dari waktu yang sudah di tetapkan oleh perusahaan.
"Loh Papi juga sudah mau pulang?" pertanyaan dari sang istri yang mengejutkan suaminya. Sebab setahu Raul, Eris sudah pulang sejak tadi. Rupanya wanita itu kini berdiri berbincang dengan rekan bisnis Raul juga.
__ADS_1
Pandangan tak suka Raul tunjukkan pada sang istri kala melihat wanita ini berkeliaran di luar sana tanpa ada memberi tahu sang suami.
"Pi," panggil Eris dengan lembut sembari menggandeng tangan sang suami.
"Iya, ini mau pulang. Ayo pulang bersama. Ratu sudah ke rumah tanpa ada kita di rumah. Pasti dia akan berulah lagi." tuturnya meminta sang istri turut pulang bersamanya.
Mendengar hal itu, Eris tak berniat menolak sama sekali. Ia pun patuh dan mengikuti langkah sang suami menuju ke mobil. Di perjalanan pun keduanya tampak diam saja tanpa ada percakapan apa pun. Beberapa kali Raul memijat pelipisnya merasa tekanan darahnya sepertinya naik lagi hingga terasa pusing.
"Pi, kenapa? Sakit?" tanya Eris mendadak perhatian.
Sayang, kali ini tebakannya salah. Sebab wanita itu hanya menggelengkan kepala. "Tidak ada apa-apa. Mami hanya bertanya. Apa yang sakit? Kita periksakan ke dokter." ujarnya dengan tenang.
Namun, perhatian itu hanya mendapat respon biasa keterdiaman dari Raul, Eris pun menyerah. Ia memilih duduk tenang di samping sang suami. Hingga menghabiskan waktu beberapa menit, keduanya pun tiba di depan halaman rumah. Tampak mobil yang mengantar Ratu sudah terparkir rapi di halaman rumah bukan di garasi mobil.
"Selama sore, Tuan. Nyonya." Sapaan hormat dari pelayan membuat Raul menyerahkan tas kerja miliknya pada sang pelayan. Keduanya tak ada yang membalas sapaan itu hingga pelayan pun mengikuti langkah keduanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Pandangan yang keduanya lihat, ada mau pun tidak ada Ratu. Rumah masih terasa sama tak ada yang berbeda. Sebab anak mereka selalu berada di kamar jika tidak keluar rumah. Kesunyian yang kerap kali menyapa sepasang suami istri itu membuat keduanya kini merasa sedih.
Egois, tentu saja keduanya begitu egois. Menginginkan sang anak mewarnai rumah, sementara mereka selalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Bahkan tak pernah mendengar apa pun keluh kesah sang anak.
"Mami duluan yah, Pi. Soalnya harus siap-siap mau pertemuan dengan klien baru Mami." Eris melangkah meninggalkan sang suami menuju kamar.
Melihat sikap istrinya yang begitu acuh, Raul menghela napas saat memandang punggung wanita di depan sana. "Eris, batalkan pertemuan kamu itu malam ini." titahnya dengan suara tegas. Sontak mendengar perintah sang suami, Eris segera membalikkan tubuhnya dan menatap sang suami.
Wanita paruh baya itu tersenyum lucu. "Batalkan? Papi ini bercandanya nggak lucu." ujarnya tak percaya kala mendengar perintah sang suami.
"Kali ini tidak ada yang bercanda, Mi. Batalkan pertemuan Mami malam ini, kita akan makan bersama dan berkumpul dengan Ratu. Papi harus bicara dengan kalian." titah Raul kembali.
Bukannya patuh, Eris pun langsung melangkah mendekati sang suami kembali. "Pi, ini soal pekerjaan Mami. Bukan untuk senang-senang. Bagaimana bisa Mami seenaknya begitu membatalkan pertemuan. Nggak ada yah, Pi." Kesal ia pun melangkah menuju kamar tak ingin mendengar larangan sang suami lagi.
Raul yang melihat istrinya semakin menjauh, segera menyusul ke arah kamar. Cepat ia melangkah hingga tiba di dalam kamar. Terlihat Eris yang sudah menuju kamar mandi dengan buru-buru.
__ADS_1
Sedangkan di kamar yang berbeda, kini Ratu tampak mendengkur halus menikmati alam mimpi yang memabukkan. Tiba-tiba saja moment masa lalu menghampiri gadis itu di dalam mimpinya. Ia bahkan tak sadar jika bibirnya tersenyum begitu lebar. Sosok pria yang membuat jantungnya berdebar kini tengah berlutut menggenggam tangannya dan memberikan sebuket bunga.