
Dua minggu Ratu merasakan frustasi dengan jarak yang jauh dari sosok Alfat. Kini di jam kerja wanita itu tampak kegirangan bahkan menepuk-nepuk kedua pipinya kala melihat ponsel itu berdering dan tertera nama sang mantan di sana. Senyuman mengembang begit lebar sebelum ia benar-benar mengangkat panggilan dari Alfat.
"Yah, Al?" ujarnya selembut mungkin. Bohong jika Alfat tidak mengingat langsung momen dimana mereka dulu sering kali menghabiskan waktu untuk bertelponan.
Namun, di detik berikutnya senyuman di wajah Ratu sontak berubah. Yah, Alfat mengatakan jika ia meminta untuk tambahan waktu pengobatan sang istri yang otomatis pria itu juga akan semakin lama berjauhan dari Ratu. Sejenak Ratu memejamkan mata dan ia mengangguk.
"Baiklah aku akan berikan waktu untukmu berkerja dari jauh. Dan untukĀ biaya jangan pikirkan, semua akan aku tangani." sambungan telepon pun akhirnya terputus. Di mana Ratu merenung di ruangan seorang diri. Semangatnya tiba-tiba saja putus kala mendengar jika ia akan lebih lama lagi bertemu sang pujaan hati.
Mingu-minggu berikutnya Ratu tampak sangat sibuk sejak saat itu. Ia memutuskan untuk memenangkan beberapa tender demi bisa mendapatkan jabatan pemilik perusahaan itu. Yah, Ratu tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini demi Alfat. Apa pun kesulitannya, ia akan lewati dengan kuat.
Suatu malam tibalah waktu di mana Raul mengundang sang partner bisnis untuk makan malam bersama anak dan juga istrinya. Kediaman megah milik Raul menjadi tempat yang mereka pilih.
"Sudah jam berapa ini, Mi? kenapa mereka belum datang juga?" Raul melirik jam di tangannya yang sudah menunjuk di angka tujuh malam. Yang artinya mereka sebentar lagi seharusnya tiba.
__ADS_1
"Mungkin terkena macet, Pi. Ini kan jam yang padat pastinya di jalanan. Lagi pula anak kita juga belum sampai ini." sahut Eris menunggu kepulangan Ratu dari kantor.
Raul menghela napas kasar, bagaimana bisa ia menunggu tamu sementara melupakan tuan rumah yang sebenarnya? Anak mereka belum tiba di rumah, segera pria itu menghubungi anak buahnya untuk menanyakan posisi Ratu.
"Ya Tuan?" terdengar sapaan dari sang anak buah di seberang sana.
"Dimana kalian?" tanyanya tanpa basa basi.
"Anak ini benar-benar membuat Papi pusing." gerutu Raul menjauhkan ponsel dari telinganya.
Eris yang melihat kemarahan di wajah sang suami segera merebut ponsel itu dan bicara pada orang di seberang sana. "Bawa Ratu pulang. Katakan di paksa atau kami yang akan menyeretnya pulang malam ini." saat itu juga Eris mematikan sambungan telepon tanpa mendengar jawaban sang bodyguard.
Lantas dengan segera pria itu menyampaikannya pada Ratu.
__ADS_1
"Hais...ada-ada saja maunya." gerutu Ratu kesal bukan main.
Ia menghempaskan berkas di tangan lalu segera pulang.
Tepat pada jam setengah delapan malam, akhirnya tamu undangan spesial dari Raul tiba di rumah. Wajah dua pria yang sama-sama tampan namun beda usia tampak membuat wajah Raul menghangat. Ia tak salah memilih besan dan menantu rupanya.
"Ayo mari Tuan Jamil, duduklah." pintahnya menyambut hangat.
Satu keluarga yang terlihat jelas jika mereka sangatlan alim dari cara berpakaian yang sopan serta kupiah yang tak pernah lepas dari kepala Jamil itu.
Eris yang melihat pilihan sang suami tampak tersenyum kaku. "Aduh...apa iya Ratu doyan? Aku saja rasanya b aja sih. Pria seperti ini pasti akan sangat membosankan." gerutunya dalam hari sembari menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala satu persatu orang di depannya.
Tanpa mereka tahu sepanjang jalan Ratu sudah menggerutu kesal, ia sangat marah jika saat bekerja sedang serius harus terputuskan karena perintah yang menurutnya sangat tidak penting itu.
__ADS_1