Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Bertemu Empat Mata


__ADS_3

"Selamat pagi, Ibu."


"Selamat pagi, Ibu Ratu." sapaan beberapa karyawan dengan kepala yang menunduk hormat sama sekali tak membuat Ratu merespon sekali pun dengan senyuman. Ia terus berjalan melangkah menuju ruang kerjanya dengan tatapan yang tertuju lurus ke depan. Kaki jenjang miliknya seolah sangat memudahkan dirinya melangkah dengan cepat untuk tiba di ruang pribadi miliknya.


Sekali pun di cuekin, semua karyawan tak ada yang menatap tak suka. Mereka masih tetap mengagumi sosok Ratu yang sangat cantik dan sempurna di mata mereka.


Tak lama kemudian Ratu menghubungi seseorang yang merupakan asisten pribadinya. Jery yang mendapatkan panggilan di ponsel segera memenuhi perintah sang nona.


Tok Tok Tok


Suara ketukan terdengar tak lama kemudian muncullah sosok Jery di balik pintu ruang kerja Ratu. "Nona mencari saya?" tanyanya dengan sopan.


"Untuk apa saya mencari kamu? Saya mau kamu memanggil manager keuangan itu yang kemarin Papi kenalkan padaku." ucap Ratu tanpa berniat menyebut nama Alfat. Sebab ia tak ingin menunjukkan sikap ketidak profesionalnya sebagai atasan selama jam kantor.

__ADS_1


Tanpa berniat bertanya apa pun, Jery pun patuh untuk mencari keberadaan manager keuangan yang ia sendiri tahu siapa sebenarnya. Kepergian Ratu bukanlah waktu yang lama, tentu semua sudah bekerja seperti saat ini. Di mana kedua orangtua Ratu pun tahu bagaimana hubungan Alfat dengan Ratu di masa lalu. Namun, seperti yang Ratu pahami selama ini. Begitu pula dengan mereka semua, mengira hubungan keduanya hanyalah sebatas cinta monyet dan itu sudah usai.


Lama Ratu duduk dengan gelisah menunggu kedatangan pria yang membuat tidurnya mimpi dengan indah satu malam ini. Ratu terus menatap pintu yang tertutup itu, beberapa kali telinganya seolah mendengar sosok yang datang, nyatanya itu hanya ilusi sebab ia begitu penasaran dan tak sabar.


Lima menit berlalu, Jery masih tak kunjung tiba membawa sosok yang di tunggu kedatangannya oleh Ratu.


"Kemana sih Jery? Kantor ini tidak begitu luas kan sampai butuh satu hari berjalan sampai ke sini." Ia menggerutu kesal tak kuasa menahan sabar lagi.


Di ruangan Alfat kini Jery akhirnya melihat sang pemilik ruangan tiba. Tampak Alfat baru memasuki ruang kerja dengan sebuah map di tangannya. Sepertinya pria ini baru saja menghadap pada sang pemilik perusahaan yaitu Tuan Raul.


"Ehm bukan saya, lebih tepatnya Nona Ratu yang meminta saya mencari anda." Mendengar ucapan Jery, Alfat tampak menegang. Tubuhnya seolah merespon nama yang baru saja ia dengar.


Lama dirinya baru bisa memulai kehidupan dengan baik-baik saja setelah sekian lama sulit melupakan Ratu yang pergi tanpa memberi kabar padanya.

__ADS_1


"Ayo tunggu apa lagi?" Suara Jery mengejutkan Alfat yang melamun. Pria itu mengerjapkan mata dan mengangguk lirih.


"Baik, Pak Jery." ujarnya patuh mengikuti langkah Jery menuju ruang kerja Ratu.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Ratu pun mendengar ketukan pintu di depan sana. "Itu pasti Alfat." tuturnya bersemangat dan tampak merapikan penampilan rambut yang ia ikat dengan tinggi.


Tampil seksi sungguh semakin menambah kadar kecantikan di wajah Ratu. Semua benar-benar sempurna seperti yang di katakan oleh Citra sebelumnya pada sang suami.


"Permisi, anda memanggil saya Nona?" pertanyaan formal dari bibir Alfat kala pertama kali pintu tertutup dari luar. Jery yang sadar akan posisi segera meninggalkan Alfat di ruangan Ratu dan kembali ke ruang kerjanya.


Mendengar itu ada rasa sesak yang Ratu rasakan. "Al, mengapa memanggilku seperti itu?" tanyanya dengan tatapan nanar.


Berharap berbicara berdua di ruangan tanpa ada yang melihat, Ratu bisa menemukan sosok Alfat yang dulu. Namun, ia salah. Alfat sudah berbeda saat ini.

__ADS_1


"Maksud anda, Nona?" tanya Alfat begitu formal semakin membuat Ratu sakit. Pelan wanita itu memejamkan mata menahan dada yang kian sesak.


__ADS_2