
Enam bulan waktu yang di butuhkan setelah kepergian sosok sang istri dari dunia. Kini Alfat perlahan mulai menerima keadaan. Ia bekerja di perusahaan dengan pikiran yang fokus bekerja. Tak ada pikiran yang lain sama sekali. Setiap pagi sebelum ke kantor ia selalu menyempatkan diri untuk ke makam sang istri.
Tanpa ia sadari selama enam bulan ini pula ia begitu menyiksa sosok Ratu. Gadis yang selalu mengintai kemana pun duda itu melangkah.
“Hari ini aku tidak bisa lagi mentolerir dirimu, Al.” gumam Ratu menatap dalam Alfat.
Keinginan untuk segera menikah dengan Alfat tak lagi bisa ia tutupo dengan cara apa pun.
“Persiapkan semuanya!” titah Ratu dengan tegas.
Sebuah masjid menjadi pilihannya kali ini untuk menyiapkan segala perlengkapan pernikahan. Ratu telah meminta sang asisten menyiapkan begitu juga dengan penghulu.
“Nona, apa ini tidak terlalu nekat?” tanya sang asisten pada Ratu.
Bagaimana pun semua tidak ada yang tahu mengenai rencana gadis cantik itu. Ratu seolah tengah bertingkah sebagai pria yang berkuasa di dunia ini dan bisa melakukan apa pun pada sosok yang ia inginkan.
“Lakukan semua sesuai perintahku.” ujar Ratu kembali.
__ADS_1
Tak berani membantah saat melihat bagaimana tatapan tajam mata Ratu padanya, pria itu hanya bisa mengangguk. Ia pun lantas bergegas melanjutkan semuanya.
Sedangkan Ratu menuju kantor untuk membawa keluarga serta sang calon mempelai pria.
Kali ini ia akan bergerak cepat sebelum Alfat menjauh.
Singkat cerita Ratu telah membawa sang papi keluar dari perusahaan.
“Ratu, apa-apaan ini? Mau kemana kau membawa papi?” tanya Raul yang tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran sang istri di dalam mobil.
“Mami?” Ia kaget melihat sang istri.
“Alfat?” Kini Eris menatap pria tampan di sana.
“Nyonya.” Alfat menunduk hormat.
Ratu pun segera mendorong Alfat masuk ke dalam mobil. Sesuai perintah mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka semua bertanya-tanya namun Ratu sama sekali tak menjawabnya. Bahkan gadis itu kini meminta sang supir untuk lebih laju.
Beberapa menit berlalu kini tibalah mobil di depan mesjid. Eris, Raul, Alfat saling menatap tanya. Ada apa gerangan mereka di bawa ke masjid.
“Ratu, siapa yang menikah? Kenapa tidak ada undangan sama sekali?” tanya Raul dan Eris kepada anak gadis mereka.
Melihat dekorasi di gerbang mesjid tentu saja mereka tahu jika di dalam ada sesi pernikahan. Sayangnya Ratu hanya tersenyum sekilas.
Ia menukikkan alis penuh kejutan saat ini. Acuh gadis itu segera meminta mereka semua untuk melangkah masuk mendahuluinya.
Ratu sengaja masuk di akhir. Sebab ia harus berdandan ria ala kadarnya agar tidak begitu polos saat foto pernikahan nantinya.
“Ratu ini ada-ada saja? Kita masih pakaian formal seperti ini lagi.” keluh Eris menatap dirinya, suaminya dan juga Alfat.
“Tidak apa-apa, Mi. Paling juga bukan orang penting. Atau hanya temannya Ratu saja.” dugaan Raul melesat jauh kala mata mereka semua tertuju pada wanita yang memakai kebaya putih dengan make up naturan serta rambut yang tergerai indah.
Mereka tampak membuka lebar mulutnya menyadari siapa mempelai wanita itu.
__ADS_1
“Ra-ratu?” Eris, Alfat, Raul bersamaan bersuara menyebut nama gadis bar-bar di depan sana.
Tanpa dosanya Ratu berjalan tersenyum ke arah depan.