
Kekeuh pada pendirian, Ratu tampak kesal sebab sang ayah masih juga keras untuk tidak menyerahkan perusahaan seluruhnya dengan anak satu-satunya ini. Akhirnya satu pilihan terakhir yang ada di dalam pikiran Ratu kali ini.
Duduk berdua dengan pria yang berstatus ayahnya tak membuat anak gadis itu takut. Meski di meja makan tak ada sosok wanita yang biasa di katakan orang kebanyakan akan menjadi penengah antara ayah dan anak. Sebab ada atau tidak Eris di antara mereka sangatlah tidak berpengaruh. Wanita yang selalu sibuk dengan urusan karirnya membuat Ratu memilih untuk tidak melihat wanita itu di hadapannya.
"Baiklah, kalau Papi tidak mau menyerahkan apa yang aku minta. Tapi jika aku melakukan sesuatu dengan pekerjaan atau bawahan jangan pernah Papi campuri. Aku sudah menyerahkan semuanya untuk mengabdi pada perusahaan Papi ke depannya, jadi tolong apa yang ku perbuat cukup Papi fokus dengan perusahaan bukan pada sekelilingku." titah Ratu yang seolah tak ingin mendapat bantahan dari sang ayah.
Mendengar itu Raul tampak tercengang. Siapa di sini yang pemilik perusahaan? mengapa kesannya ia hanyalah bawahan yang harus patuh dengan keinginan sang atasan. Diam, justru membuat Ratu menyimpulkan untuk semuanya di setujui oleh pria di depannya saat ini.
"Oke, Papi setuju. itu artinya jika Papi setuju dan ingat jika semua Papi langgar aku akan mencabut niatku menjalankan perusahaan." ujarnya berlalu pergi meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makan malam yang sudah dingin itu.
Berhadapan dengan wanita rupanya begitu sulit membuat bibir Raul mengalahkan lawan bicaranya. Ia sampai berdecak sebal melihat tingkah sang putri. "Benar-benar keturunan Eris Tasya. Huh mengapa jadi aku seperti bawahan?" gerutu pria itu tak habis pikir dengan tingkah sang anak.
Setelah berbicara empat mata dengan sang ayah, di sini Ratu berada saat ini. Sebuah kamar yang menjadi tempat saksi bisu tumbuh kembangnya gadis cantik ini sedari kecil. Pelan manik mata hitamnya bergerak menatap sebuah kotak kecil yang terletak di atas lemari tas bertutup kaca transparan. Ia pun bergerak melangah mendekat lalu tangannya membuka kaca dan mengambil kotak itu.
__ADS_1
Duduk di sisi tempat tidur dengan tangan membuka kotak yang ternyata berisi banyak kenangan masa SMA dengan banyak momen indah. Tersenyum tiba-tiba saat Ratu mendapati satu foto dirinya dengan Alfat yang kala itu memerankan drama lawak di kelas. Keduanya tampil dengan kostum baju adat jawa sederhana bergaya seolah sepasang suami istri yang berasal dari desa.
Sungguh tampilan yang begitu lucu dan menggemaskan, wajah yang masih sama-sama polos dan belum mengerti jauh apa arti cinta sesungguhnya. Hingga kini Ratu benar-benar sadar akan perasaan yang selama ini ia acuhkan begitu saja.
"Aku pikir itu hanya cinta monyet, Al. Ternyata bukan. Ini benar cinta sesungguhnya." ujarnya terus memperhatikan foto yang menurutnya paling menarik.
Pelan Ratu kembali membuka lembaran demi lembaran hingga banyak kenangan yang kembali melintas di pikirannya. Banyaknya momen yang ia lewati bersama pria yang saat ini menguasai hati dan pikirannya. Ratu benar-benar jatuh cinta pada sosok Alfat sang mantan. Waktu yang berlalu tanpa terasa semakin cepat. Hingga waktu malam menunjuk pada angka sepuluh. Dimana wanita itu akan memejamkan mata dengan mengingat banyak kenangan indah.
"Tunggu!"
Tiba-tiba saja kedua mata yang hampir terpejam mendadak terbuka lebar. Ratu jelas mendengar suara teriakan dua orang yang ia tahu di luar sana sedang menuju ke arah pertengkaran. Matanya memutar malas, ini bukanlah hal yang asing baginya. Mendengar keributan atau bersikap saling acuh, adalah ciri khas kedua orangtuanya.
"Setiap orang dewasa memang pasti memiliki permasalah sendiri-sendiri. Yah mungkin mereka bermasalah dengan keharmonisan, tapi mereka tidak bermasalah dengan ekonominya. Sementara di luar sana banyak yang bermasalah dengan ekonomi mereka meski hubungan pernikahannya sangat harmonis." ucapan dari pria muda yang tak lain dan tak bukan adalah Alfat tiba-tiba saja terngiang di kepala Ratu. Ia kerap kali mencurahkan isi hatinya pada sang kekasih di masa SMA setiap kali mengeluhkan tentang kedua orangtuanya yang selalu saja ribut.
__ADS_1
Namun, itulah Alfat. Ia selalu memberikan pengertian yang Ratu sendiri kadang tidak berpikir sampai ke sana. "Tapi mereka terlalu berlebihan, Al. Aku lelah mendengar rumah itu selalu ribut dengan hal yang sama. Bahkan mereka tidak pernah menanyakan apakah aku selama satu tahun itu baik-baik saja." Ratu memanyunkan bibirnya kala mengatakan isi hatinya pada sang kekasih.
Alfat yang melihat kekasihnya tampak sedih, bukannya berusaha menenangkan dengan kata-kata lagi. Kini justru ia menunjuk sebuah bebek yang tengah berenang di kolam dekat sekolah mereka.
"Tuh lihat." tunjuknya di ikuti wajah Ratu yang menatap arah tak jauh dari mereka.
"Apa? Kolam? Kenapa?" tanya Ratu tak mengerti.
"Kalau kamu manyun jadi kayak dia wajahnya. Cantik sih..." celetuk Alfat yang sontak membuat Ratu kesal dan mencubit kecil pinggangnya.
"Auh Ratu, sakit bangetttttt." keluh Alfat menehan pinggangnya yang tak bisa hilang sekilas sakit cubitan itu.
Ratu semakin kesal namun juga tak bisa menahan tawa melihat bebek yang mulutnya begitu panjang maju ke depan.
__ADS_1
Tanpa sadar membayangkan itu semua, Ratu tersenyum kembali saat ini. Ia bahkan tanpa sadar memeluk lembaran foto yang ia pegang saat ini. Ratu benar-benar merindukan momen dimana Alfat selalu bersamanya bahkan ia menyesali kepergiannya tanpa mengatakan apa pun. Bagaimana mungkin ia pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan pada pria yang selalu mendampinginya. Ratu sungguh menyesali sikapnya yang begitu angkuh. Tak menganggap hubungan mereka sebuah hal yang penting hingga saat ini meninggalkan rasa sesal yang mendalam.