Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Rencana Berhasil


__ADS_3

Gugup tentu saja. Alfat baru sadar jika yang ia lihat bukanlah Ratu melainkan istrinya, Citra. Pelan wanita itu melanjutkan langkah kakinya memasuki ruangan kerja sang suami. Tangannya memegang erat rantang makan siang untuk Alfat. Di kursinya, Alfat berusaha menyadarkan penuh pikirannya. Ia berdiri menyambut sang istri dan memeluknya dengan erat. Tak biasa Citra mendapatkan perlakuan seperti ini. Biasanya mereka akan langsung berbincang dan makan siang usai bersaliman.


Meski bingung, pelan wanita itu mengusap punggung sang suami. Ia tak ingin gegabah bertanya tanpa memberikan ruang untuk Alfat bicara padanya.


"Maaf, kerjaan Mas sangat banyak jadi emosi begini. Tadi Mas kira yang datang bukan kamu tapi karyawan lainnya." ujarnya memberi tahu sang istri agar tak di curigai.


Citra pun tak ambil pusing, ia tersenyum usai melerai pelukan itu. Di tatapnya wajah sang suami. "Tidak apa-apa. Mas pasti lelah juga sekarang kita makan di sofa yuk. Jangan ke kantin takutnya nanti emosi Mas semakin naik karena banyak orang."


Patuh Alfat pun duduk bersama istrinya di ruang kerja. Keduanya berbincang-bincang ringan hingga menikmati makan bersama.


"Maaf, Mas. Jika aku bohong. Sebenarnya aku takut kamu ke kantin ketemu wanita itu lagi. Jujur aku sangat cemburu kalian satu kantor seperti ini, tapi aku tidak punya kuasa untuk menjauhkan kalian." gumam Citra sembari menatap wajah Alfat yang sibuk menikmati makan siangnya.


Sadar akan tatapan sang istri yang melamun, pria itu pun menghentikan sejenak makan siangnya. Ia melambaikan tangan di depan wajah sang istri untuk menghilangkan pikirannya. "Cit, kok melamun? ada apa? Nggak selera makannya?" tanyanya yang seketika mendapat jawaban gelengan kepala dari Citra.


"Enak kok, mas. Kan masakan sendiri, aku yang rasain. Yasudah ayo di lanjut lagi makannya." ajaknya dan keduanya menghabiskan makan siang berdua di ruangan itu.

__ADS_1


Tanpa mereka tahu jika di kantin tampak gadis yang gelisah menunggu sosok yang sampai saat ini tak kunjung tiba di kantin siang itu. Bahkan makanan yang ia pesan di depannya saat ini sudah hampir dingin. Dia adalah Ratu, beberapa kali wajahnya menengadah ke arah pintu demi melihat siapa saja yang datang.


"Kemana sih dia? Apa sengaja menghindar dari aku? Aku tidak akan biarkan itu, Alfat." ujarnya merasa sadar jika pria yang ia cari sepertinya tak menyukai kehadirannya.


Makanan yang sudah ia pesan terpaksa harus ia tinggalkan begitu saja. Ratu berjalan menuju ruangan di mana sang pemilik perusahaan berada. Tuan Raul yang kebetulan baru saja usai makan siang di luar tampak bertemu dengan anak gadisnya di depan ruangan miliknya.


"Papi," panggil Ratu kala melihat pria paruh baya itu hendak membuka pintu ruang kerjanya.


"Ratu, ada apa? Apa sudah makan siang?" tanya Raul tampak perhatian pada sang anak. Entah hanya basa basi atau apa tidak ada yang tahu.


Keduanya duduk di kursi yang berhadapan dengan berbatas meja kerja milik Raul. Pria itu tampak menatap heran pada sang anak.


"Dimana saja proyek yang sedang berlangsung untuk pembangunan rumah sakit? Katakan padaku, Pi." Kening Tuan Raul mengernyit heran.


Yah perusahaan mereka merupakan perusahaan yang berkembang di bidang medis. Selain menjadi pengelola obat-obatan mereka pun juga mengelola beberapa rumah sakit. Tentu bisnis yang sangat menjamin dan Raul tahu itu tidak akan ada masanya. Sebab semua yang bersangkutan dengan pengobatan tak pernah ada habisnya di gunakan oleh masyarakat.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Apa kau ada peluang investor baru? Papi rasa itu sudah cukup semuanya. Bahkan rumah sakit yang kita bangun semua sudah mencapai lima puluh persen jadi tidak membutuhkan lagi investor. Yang kita butuhkan itu investor untuk..." belum sempat Raul berkata panjang lebar, Ratu sudah lebih dulu menahannya.


"Pi, sudah. Aku tidak butuh semua penjelasan itu. Aku ingin meninjau langsung pembangunan. Sekarang Papi katakan di mana saja biar aku tentukan akan mendatangi yang mana saja." Helaan napas kasar Raul keluarkan. Lagi-lagi anaknya begitu keras kepala.


Namun, mendengar permintaan Ratu sepertinya ada baiknya juga jika sang anak terjun langsung ke lapangan sekali-sekali. Akhirnya ia pun setuju dan memberikan beberapa data kota yang mereka bangun rumah sakit cabang di sana.


Meski cukup jauh, namun semua masih bisa di jangkau oleh kendaraan roda empat. Seulas senyum mengembang di wajah cantik Ratu.


"Papi senang kalau kau mau memulai semua dari lapangan. Itu akan jauh lebih mudah memahami bisnis." ujar Raul yang tak mendapat jawaban apa pun dari Ratu.


"Besok aku akan berangkat pagi-pagi." jawab Ratu pada akhirnya.


Raul pun setuju. "Baiklah, biar Papi akan siapkan orang-orang yang akan membantu selama perjalanan dan di lapangan." ujarnya setuju.


"Tidak, biarkan aku yang memilih sesuai dengan instingku, Pi. Kali ini biarkan aku bertindak untuk bisa belajar ke depannya."

__ADS_1


Tak bisa di bantah, Raul hanya mengedikkan bahunya. Ratu dengan senang keluar dari ruang sang ayah membawa berkas yang berisi data kota rumah sakit mereka.


__ADS_2