Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Bukan Pelakor


__ADS_3

Hening di kesunyian malam, sosok wanita dengan sepasang matanya menatap sebuah pintu yang ia temukan informasi jika di sana ada sang pujaan bersama wanita pangganggu hubungannya. Yah begitulah asumsi Ratu pada Citra yang seharusnya memberi label itu pada Ratu.


Pelan namun pasti tangan gadis itu terayun mengetuk pintu ruang rawat.


Tok tok tok


Hening, kembali ia mengetuknya lagi. Hingga terdengar suara pintu terbuka dari dalam.


“Nona?” Sapaan kaget dari Alfat membuat Ratu langsung tersenyum lebar.


“Rupanya hati ini selalu menuntun ke jalan yang tepat yah?” Ia menerobos masuk sebelum Alfat mempersilahkan masuk lebih dulu.


Duduk di samping Citra yang sudah terlelap. Ia menatap Citra dengan tatapan datar.


“Al…” panggilnya pelan.


“Iya, Nona.” jawab Alfat tanpa bisa berkata apapun lagi.

__ADS_1


“Bagaimana keadaannya?” tanya Ratu.


“Keadaan istri saya sudah stadium akhir, Nona. Jadi sulit untuk menyembuhkannya. Hanya bisa mencegah penyebaran saja untuk saat ini.” ujar Alfat dengan menunduk.


Ia sama sekali tak ingin berkontak mata dengan sang mantan.


“Berangkatlah keluar negeri, aku akan membantu semuanya.” ujar Ratu dengan yakin.


Hal yang tak pernah Alfat duga keluar dari bibir wanita itu. Wanita yang membuat Alfat hampir pusing menghadapi sikap obsesinya.


Ada debaran di jantung kala Citra yang ternyata tidak tidur bisa mendengar percakapan keduanya. Ia telah salah mencurigai wanita ini.


“Ya Tuhan, aku telah salah besar menuduh wanita ini. Bahkan dia dengan rela meminta suamiku membawaku berobat. Dan apa tadi? Sakitku sudah stadium akhir?” Dalam hati Citra begitu syok mendapati percakapan sang suami bersama Ratu.


“Berangkatlah.” Lagi Ratu menawarkan pada Alfat.


Meski ragu, namun Alfat merasa ini adalah waktu yang tepat untuknya bisa memaksimalkan kesembuhan Citra, pelan ia pun menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Baik, Nona. Kami akan berangkat.” tutur Alfat dan saat itu juga Ratu segera mengurus keberangkatan mereka melalui orangnya.


“Ya sudah. Kalau begitu aku boleh tidur di sini kan? Aku sangat mengantuk untuk kembali ke rumah rasanya tidak kuat lagi.” tutur Ratu yang kesekian kalinya membuat Alfat kaget.


Ingin menolak, namun tak bisa. Hanya anggukan kepala yang bisa Alfat lakukan.


“Baik. Silahkan, Nona seadanya saja.” Satu sofa yang bisa di gunakan untuk tidur di pakai oleh Ratu. Sementara Alfat yang ingin bergegas naik ke ranjang Citra terhenti kala Ratu bersuara.


“Jangan tidur di situ. Istrimu sedang sakit. Tidurlah di situ, itu akan lebih luas untukmu bukan? Lagi pula Citra juga akan sakit badannya kalau sempit.” Tangan Ratu menunjuk pada badcover yang semula di tempati Alfat tidur di lantai.


Lagi-lagi Alfat patuh, meski sebenarnya ia merasa tidak nyaman sebab badcover itu jaraknya sedikit lebih dekat dengan sofa tempat Ratu tidur.


Hingga Ratu berdiri meminimalisir lampu yang menyala. Ia pun berjalan menuju sofa dan memejamkan mata.


“Ayolah, Al. Tidurlah. Aku ingin tidur denganmu.” gumam Ratu dalam hati. Entah setan apa yang merasuki hati gadis bar bar ini hingga dengan nekat ia berharap Alfat segera terlelap dan ia bisa melancarkan niatnya.


“Aku tidak jahat kan? Bahkan aku mau membantu pengobatan Citra? Yah aku bukan pelakor kalau begini namanya.”

__ADS_1


__ADS_2