
Tiba di ruangan, ia pun kembali menghubungi Jery, sang asisten. Segera pria itu pun datang tanpa menunggu lama. Belum usai ia menutup pintu, Ratu sudah memintanya kembali keluar untuk menuju ruang kerja Alfat.
"Keruangan manager keuangan dan beri tahu kan jika besok aku akan membawanya ke cabang rumah sakit yang masih proses pembangunan." patuh Jery mengangguk atas perintah sang nona. Ia melangkah menuju ruangan kerja Alfat dengan pikiran yang mulai menebak-nebak.
"Apa sebenarnya yang Nona Ratu rencanakan? Tidak mungkinkan dia masih menaruh hati dengan Alfat? Iya lagi pula dia sudah menikah juga. Tentu tidak mungkin, toh pergaulan Nona di luar negeri pasti dengan pria-pria kelas atas juga." ujarnya bergumam sepanjang jalan.
Setibanya di depan ruangan kerja Alfat, Jery melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari ruang kerja Alfat. Dia adalah Citra, istrinya Alfat. Tentu keduanya tak asing lagi sebab selama kerja di kantor ini, Alfat pun sering membawa sang istri dalam rangkaian acara kantor yang melibatkan kehadiran sang istri.
"Loh ada Pak Jery," sapa Citra dengan ramah. Begitu pun Jery yang turut tersenyum dan menyapanya.
__ADS_1
"Apa kabar, Bu Citra?" sapanya hangat.
"Baik, Pak. Ya sudah silahkan masuk Pak, mau ketemu Mas Alfat kan? Saya sudah harus pulang. Permisi yah, Pak?" ujarnya berpamitan dan Jery segera mengetuk pintu ruangan Alfat sebelum masuk ke dalam sana.
Alfat yang sempat mengira sang istri kembali kini tampak tersenyum. "Loh Pak Jery? Saya pikir istri saya." wajah Alfat yang sedikit terkejut membuat Jery hanya tersenyum dengan wajah datarnya.
"Silahkan duduk, Pak." ujarnya mempersilahkan dan Jery pun duduk dengan tenang sebelum ia memulai berbicara. Hening sesaat terjadi di ruangan Alfat, sebab Jery sendiri berpikir ini rasanya tidak mungkin. Apa sangkut pautnya Alfat dengan perjalanan Ratu dari kota lain ke kota lainnya. Bahkan pekerjaan Alfat banyak yang lebih penting dari pada mengawasi pembangunan.
"Em Nona Ratu meminta saya memberi tahu anda jika besok pagi akan pergi ke luar kota. Beberapa proyek rumah sakit membutuhkan pengawasan langsung dari Nona Ratu. Semua juga atas persetujuan dari Tuan Raul." Mendengar hal itu Alfat yang semula duduk tegak mendadak menyandarkan kepalanya dan memijat pelipisnya.
__ADS_1
Hal yang paling ia takutkan pelan mulai berjalan, namun sebagai seorang pria ia berusaha berpikir positif jika ini murni tentang pekerjaan. "Baiklah, saya akan bersiap untuk besok. Dan hari ini saya akan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor sebelum berangkat." jawabnya menyanggupi tanpa bisa membantah.
"Hati-hatilah." Sebelum pergi Jery sempat menyampaikan kalimat itu pada Alfat. Namun, Alfat tak bersuara apa pun. Ia mengabari sang istri melalui pesan singkat untuk memberi tahu jika pulang sedikit terlambat karena lemnbur.
Di dalam mobil taksi, Citra tampak membaca pesan sang suami. Ia tak menunjukkan respon apa pun selain perasaan gelisah yang coba ia tahan. Sebab ini bukan pertama kalinya Alfat lembur, ia pun menikmati perjalanan pulang.
"Semoga saja kamu bisa teguh dalam iman kamu, Mas. Aku takut sekali saat ini." gumamnya.
***
__ADS_1
Di ruang kerja milik Ratu, wanita itu justru bekerja begitu semangat, senyuman di wajahnya sepanjang hari tak pernah pudar dari wajahnya. Hari esok akan segera tiba, dimana ia akan memiliki waktu yang cukup panjang bersama dengan Alfat. Setidaknya tidak ada penghalang waktu untuk bekerja sendiri-sendiri. Mereka akan terus berdampingan selama waktu yang Ratu inginkan.