
Dua jam perjalanan sudah keduanya tempuh namun Alfat tak kunjung buka suara. Sebagai wanita Ratu pun tidak ingin menjatuhkan dirinya di hadapan pria lain. Sebab Dani juga ada di mobil bersama mereka dan beberapa pria di belakang dengan mobil lainnya. Keheningan terus berlangsung. Bukan karena marah namun Alfat lebih membatasi dirinya selain antara atasan dan bawahan, ia juga tengah menjaga hati sang istri yang gelisah di rumah memikirkan perjalanan yang entah akan pulang kapan.
Hingga kantuk pun mulai menyerang, Ratu pelan menutup matanya menyerah untuk menunggu Alfat mengajaknya bicara. Melihat wanita di sampingnya sudah terpejam, rasa lega menghampiri dada pria itu. Akhirnya ia bisa menikmati perjalanan dengan tenang juga.
Sementara di rumah yang di tinggalkan oleh Ratu, sepasang suami istri tengah duduk berdua dengan wajah serius. Eris dan Raul sampai rela menunda jam kerja mereka karena memikirkan anak semata wayang yang suka sekali membuat mereka pusing.
"Alfat itu mantan terakhir Ratu yang Papi tahu." sahut pria paruh baya itu setelah sekian lama berpikir dengan kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Apa Papi yakin tidak ada pria lain lagi setelahnya? Ka Ratu lama di luar negeri masa iya nggak ada pacaran sama laki-laki lain?" Eris merasa tak percaya. Yang ia tahu selama ini anaknya sangat suka bergaul bahkan sering menginap di luar apartemen saat di luar negeri. Namun, ia tidak tahu apa yang terjadi sebab terlalu percaya pada sang suami untuk mengawasi anaknya.
"Kamu terlalu sibuk dengan dunia kamu sendiri, Mi. Sampai tentang anak sendiri saja kamu masih bertanya dengan aku yang seorang ayah. Benar-benar keterlaluan kamu." gerutu Raul menatap kesal sang istri.
Niat hati untuk berdiskusi, justru keduanya harus berdebat lagi saat ini.
"Jangan sampai itu terjadi. Ratu anak kita satu-satunya. Alfat itu sudah punya istri bahkan istrinya setiap hari ke perusahaan untuk makan siang bersama Alfat." cerita Tuan Raul menurut orang kepercayaannya yang selalu siap siaga mengawasi sang anak.
__ADS_1
Mendengar Alfat yang sudah memiliki istri, semakin pusing saja rasanya kepala Eris. "Haduh apa kata teman-teman Mami kalau itu benar, Pi? Bisa rusak reputasi Mami jadi pembisnis kalau begini. Ini tidak bisa di biarkan." Bukannya mencemaskan keadaan sang anak, justru sebagai ibu ia lebih cemas dengan nama baiknya sendiri.
Tak ada gunanya rasanya berbicara dengan Eris, Raul pun menggelengkan kepala kesal dan bergegas meninggalkan sang istri menuju mobil. Bekerja ke perusahaan rasanya akan jauh lebih baik dan menghasilkan uang dari pada berdiskusi dengan sang istri yang hanya menambah darah tinggi saja menurutnya.
"Pi! Papi!" teriak Eris memanggil sang suami namun tak ada respon dari Raul.
Sejenak ia duduk terdiam memikirkan semuanya dan mulailah terbuka pikirannya. "Ratu menyukai Alfat mantan SMA dulu. Alfat bekerja di perusahaan suamiku dan sekarang mereka perjalanan ke luar kota? Alfat sudah menikah? Astaga itu artinya Ratu mau jadi pelakor? Tidak, ini tidak boleh." Panik ia pun sampai bingung harus melakukan apa saat ini.
__ADS_1
Beberapa kali Eris menghela napas kasar berusaha menghubungi entah siapa yang ia hubungi. Yang jelas kini ia sadar mengapa sang suami memilih pergi meninggalkannya seorang diri di rumah.