Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Perintah Pulang


__ADS_3

Berharap dengan kabar baik, namun kini pulang harus dengan membawa kabar buruk. Citra merebahkan kasar tubuhnya di atas sofa dengan tangan yang menggenggam beberapa bungkus obat. Air matanya menetes tak tahu harus melakukan apa saat ini. Citra meraih ponsel dan mencoba menghubungi sang suami. Tak ada lagi orang yang ia pikirkan selain Alfat untuk memberi tahu kabar buruk ini.


"Mas, kamu kemana? angkat telepon aku." gumamnya gelisah menunggu sambungan telepon yang tak kunjung mendapatkan jawaban.


Hingga kedua kalinya Citra kembali menelepon barulah sambungan telepon tersambung. Namun, bukan suara seorang pria yang ia dengar, melainkan suara seorang wanita.


"Halo," lembut dan sangat anggun. Jelas Citra mengenali suara ini. Yah, meski baru sekali bertemu secara langsung bukan tak mungkin ia bisa mengingat suara yang kerap mengganggu tidur nyenyaknya.


"Boleh bergabung?"


"Apa kau juga bekerja di sini?"  Dua pertanyaan yang pernah Ratu tujukan pada Citra masih jelas terdengar bagaimana nada bicara wanita itu.

__ADS_1


Dan kini Citra mendengar suara itu kembali pada ponsel milik sang suami. Semakin sakit rasanya hati wanita itu bahkan sakit di tubuhnya sudah terkalahkan saat itu juga. Pelan dengan tangan gemetar Citra mematikan panggilannya. Tak kuasa menahan tangis yang pecah saat ini.


Di seberang sana tampak Ratu menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa di matikan? Apa sama sekali tidak ingin bicara padaku? Padahal aku kan berniat mengajaknya bernego untuk Alfat." gumam Ratu yang terhenti kala melihat sang pria masuk ke kamar hotel mereka.


Alfat membawakan sebuah cemilah untuk Ratu yang ia beli dari luar sesuai dengan permintaan wanita itu. Buru-buru pergi membuat Alfat sampai lupa untuk menghubungi istrinya.


"Al, sekarang aku harus istirahat. Kau bisa kerjakan pekerjaanmu yang bisa di kerjakan dari jauh dulu." titahnya bergegas merebahkan tubuh tanpa berniat memakan apa yang Alfat barusan bawa untuknya.


Tanpa membantah, pria itu pun patuh. Ia membuka laptop di kasur itu dan duduk bersandar. Tanpa perduli bagaimana Ratu tertidur memandang ke arahnya.


Gelisah, ia pun beranjak keluar kamar mencoba menghubungi sang istri. "Kenapa feelingku tidak enak begini? Apa terjadi sesuatu dengan Citra? Apa Ratu yang mengangkat panggilan tadi?" berbagai dugaan buruk menghinggapi pikiran pria itu.

__ADS_1


Beberapa kali bahkan ia mencoba menelepon namun tak juga mendapatkan jawaban. Alfat akhirnya menyerah dan mengirimkan beberapa pesan pada sang istri yang berisi semua tentang kecemasannya sebab sedari pagi Citra tak kunjung memberikannya kabar.


Tanpa ia tahu di sisi yang berbeda, wanita itu tengah menangis menatap ponsel tanpa berniat menyentuhnya. Segala pikiran buruk sudah tertanam di kepala Citra. Bahkan sakit di tubuhnya semakin terasa kembali saat ini. Lari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perut yang tersisa, Citra terduduk di lantai tak kuasa menahan sakit.


***


Di perusahaan seorang pria yang merupakan pimpinan perusahaan tampak sangat marah. Ketiadaan Alfat sangat berpengaruh saat ini. Ia bahkan marah pada semua karyawan yang ada di ruang meeting saat ini. Segera utusannya menghubungi Dani di mana sebagai tangan kanan Ratu. Sebab Jery yang seharusnya ikut bersama Ratu harus tinggal demi membagi tugas dengan sang atasan di perusahaan.


"Apa? Kembali? Kita baru saja sampai kemarin." Ratu murka mendengar ucapan sang bawahan kala Dani menyampaikan apa yang di perintahkan oleh sang Tuan besar. Tak menjawab, Dani hanya bisa menunduk.


"Apa tidak bisa orang lain yang menggantikan Alfat? Kenapa harus dia?" kesal Ratu bertanya pada Dani.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nona. Tuan Raul sudah menyerahkan semua tanggung jawab ini padanya dan tidak akan semudah itu menyerahkan pada tangan lainnya. Sebab manager keuangan sangatlah penting dan sensitif. Hanya orang-orang tertentu yang bisa Tuan Raul percayakan."


Ratu untuk beberapa saat hening. Ia kesal karena sang ayah harus membatalkan rencana yang ia susun sedemikian rupa.


__ADS_2