Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Ambisius


__ADS_3

Ketenangan di wajah tampan Alfat mendadak sirna. Pria itu sampai melepaskan sendok di tangannya dan menghentikan makan malamnya. Entah mengapa mengingat tentang Ratu perasaannya menjadi terombang ambing. Pelan ia memejamkan mata sekilas dan kembali menatap wajah teduh di depannya. Jelas terlihat bagaimana Citra sangat menantikan jawaban darinya. Helaan napas usai menarik napas panjang membuat Citra yang melihatnya semakin sulit menahan sesak di dadanya.


Bohong jika ia baik-baik saja, dadanya bahkan saat ini sangat sesak melihat ekspresi sang suami. Meski hal itu tidaklah patut membuatnya marah, sebab hanya masa lalu. Namun, melihat bagaimana kelebihan fisik yang Ratu miliki sungguh membuat Citra merasa cemburu. Terlebih saat ini mereka sudah satu kantor. Di mana tempat suaminya bekerja adalah kekuasaan wanita yang membuatnya sangat cemburu itu.


"Dia mantan yang pernah Mas ceritakan sebelum kita menikah." ujar Alfat sontak membuat Citra mengembangkan senyum lebar. Demi menutupi sesak yang semakin menghimpit dadanya.


"Oh jadi dia perempuannya? Pantas saja Mas sulit melupakan ternyata dia. Wajar sih Mas, aku saja yang sebagai wanita bisa kagum lihat semua bentuk fisiknya. Cantik sekali, malah rasanya membayangkan jadi Mas pasti sakit yah lihat banyak pria kagum sama pasangan kita?" celetuk Citra berusaha terlihat baik-baik saja.


Bukannya menjawab, Alfat justru tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri. Segera tangannya menggenggam hangat tangan Citra yang berada di atas meja makan. Terasa dingin sekali, Alfat tahu istrinya sedang menahan cemburu.


"Cit, ayo katakan semuanya. Aku adalah suami mu, aku wajib bertanggung jawab menyelesaikan apa yang membuatmu resah. Jangan selalu berusaha kuat jika semuanya terlalu menyakitkan. Kita akan bersama selamanya, jangan mengutamakan aku tanpa memikirkan perasaanmu." Tak kuat menahan lebarnya senyum yang ia ukir, akhirnya Citra membungkam bibirnya yang sejak tadi terus bergetar.


Ia meneteskan air mata menahan sesak di dadanya yang tiba-tiba semakin kuat rasanya. Alfat yang melihat itu pun segera bergegas mendekati sang istri dengan meninggalkan kursi yang ia duduki. Beralih ke samping Citra dan memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Mas." ujarnya menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami. Alfat pelan mengusap rambut sang istri. Ia menggelengkan kepalanya.


"Apa yang harus di maafkan? Kamu tidak ada bersalah. Tolong jangan menangis. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Kamu percaya dengan pria ini kan?" tanyanya sembari menangkup kedua rahang Citra. Keduanya saling bertatapan begitu dalam.


Citra meneteskan air mata sembari menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan sang suami. "Maafkan aku, Mas Alfat. Aku hanya terlampau cemburu saja. Ini bukan masalah, tapi aku yang cari masalah." akunya dengan sadar jika suaminya tak melakukan apa pun.


"Ssst. Tidak, tidak ada yang salah. Kamu cemburu wajar, Citra. Aku ini suami kamu, pria yang patut kamu jaga jiwa dan raganya. Maaf yah, aku membuat kamu sedih. Dia hanya masa lalu, itu sebabnya aku membawa kamu pergi dari kantin tadi, sebab aku tidak ingin melukai hati kamu. Maaf jika aku tidak bisa berbuat lebih di depan kamu tadi. Jabatan aku hanya karyawan, Cit. Bahkan aku masih terikat kontrak dengan perusahaan itu. Untuk menegur dia aku takut akan berakibat fatal. Mereka orang berkuasa, ada baiknya aku hanya bisa menjauh tanpa memiliki masalah dengan orang seperti mereka." Panjang lebar Alfat menjelaskan hingga kini Citra pun mulai luluh. Ia baru ingat bagaimana suaminya bekerja selama ini.


Bahkan perusahaan tempat Alfat magang ini adalah rejeki yang membuat mereka bisa menikah dan memiliki rumah serta hidup dengan mandiri tanpa bantuan orang tua mereka.


"Ssst. tidak ada alasan kamu cemburu. Satu-satunya wanita yang bisa menguatkan aku dan membuatku semangat itu cuman kamu, Cit. Aku sudah memilihmu menjadi wanita pendampingku selamanya. Jadi tolong jangan pernah cemburu pada siapa pun sekali pun itu bidadari." ujarnya yang sontak membuat Citra terkekeh lucu.


Keduanya pun berpelukan sangat erat dan kembali melanjutkan makan. Bukan makan sendiri-sendiri seperti sebelumnya. Justru kini Alfat menyuapi sang istri dan Citra pun turut menyuapi sang suami. Kemesraan semakin terasa dekat di keduanya. Tanpa mereka perdulikan bagaimana sosok wanita di rumah yang berbeda.

__ADS_1


Suasana makan yang sangat lama tak terjalin di kediaman Wijaya rupanya sama saja seperti biasa tak ada yang berbeda, meski ada satu orang yang baru kembali. Ratu dan Raul sama-sama duduk di kursi meja makan. Pria paruh baya yang duduk berhadapan langsung dengan sang putri tampak menggelengkan kepala saat menyadari Ratu yang tak kunjung memakan makan malamnya.


"Kenapa makanan di mainkan seperti itu?" pertanyaan terdengar dari bibir sang papi. Ratu pun menghentikan aksi tangannya yang mengaduk makanan sedari tadi.


"Aku mau memimpin perusahaan asal Papi serahkan semua kuasa perusahaan ke tangan Ratu." ujarnya tiba-tiba terdengar ambisius di telinga Raul.


Tentu saja hal itu membuat Raul menghentikan makannya dan meletakkan sendok dan garpu. Ia menautkan kedua tangan di depan wajahnya dengan siku yang bertumpu pada meja makan. Di tatapnya lekat wajah sang putri.


"Kamu pikir mengalihkan perusahaan semudah itu, Ratu? Perusahaan memang akan jatuh pada kuasamu, tapi tidak sekarang. Kamu masih harus perlu banyak belajar. Papi akan tetap mendampingi kamu sampai kamu benar-benar bisa mengendalikan semuanya."


"Aku bisa, Pi. Aku bisa lakukan apa pun. Semua pengalaman ku di luar negeri sudah cukup untuk memimpin perusahaan." ujarnya mengungkit bagaimana ia bekerja sembari kuliah di luar negeri atas dasar didikan sang papi.


Raul menghela napas kasar. "Apa yang membuat kamu seambisius ini? Apa masih kurang uang yang kamu dapatkan?" tanya Raul penasaran.

__ADS_1


Sebab yang ia tahu sang putri sangat bar bar, Ratu hanya suka dengan apa yang ia inginkan termasuk bersenang-senang mencari kehidupannya di luar sana. Dan tiba-tiba saja baru sehari bekerja di perusahaan ia meminta hak kekuasaan, tentu saja terdengar sangat aneh. Bahkan Raul masih ingat bagaimana laporan sang anak buah siang tadi mengenai putrinya yang sangat susah di kendalikan untuk datang ke kantor.


Mengenalkan Ratu sebagai pimpinan di perusahaan bukanlah semata memindahkan kekuasaan. Selagi Raul belum yakin dan berani melepakan sang anak sendiri terjun ke dunia bisnis, ia tak akan gegabah. Di luar sana tentu sangat banyak yang mengharapkan perusahaannya hancur dan menjadi ladang bagi perusahaan lain untuk meraup investor mereka.


__ADS_2