Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Kedatangan Sepupu


__ADS_3

Kedua tangan yang saling menggenggam kian semakin erat. Hampir dua puluh empat jam genggaman itu tak kunjung lepas. Alfat setia mendampingi sang istri yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Yah, lima hari lalu wanita itu di larikan ke rumah sakit kala tubuh Citra kian lemas hingga tak bisa melakukan apa pun. Napsu makannya sudah turun bahkan tubuhnya kurus sangat drastis. Sedih tentu saja Alfat merasa sangat sedih sekali, bahkan untuk bekerja saja ia sudah tidak bisa fokus.


Memiliki atasan yang baik beruntung ia bertemu dengan Raul. Bukan keberuntungan lebih tepatnya, namun Raul melakukan ini semua demi memberi jarak pada Alfat dan Ratu. Jika tidak, entah dengan cara apa lagi ia membuat Ratu menyerah dengan pendiriannya untuk merebut Alfat dari Citra. Bekerja secara online satu-satunya akses yang di berikan oleh Raul.


"Mas, pergilah bekerja. Kita butuh uang untuk biaya. Bahkan kehidupan kita juga sangat pas-pasan." ujar Citra sadar beberapa hari sang suami bersamanya tanpa pergi kemana pun.


Pelan Alfat menggelengkan kepala. "Tidak, Mas akan tetap di sini. Ini juga Mas sedang kerja kan?" ujarnya meyakinkan sang istri.


Air mata Citra tanpa sadar menetes. Ia sedih melihat sang suami yang begitu tulus mencintainya harus terbebani dengan penyakit yang ia derita. Namun, ia juga tak ingin membuat sang suami meninggalkannya. Citra berjanji akan tetap bersama Alfat memperjuangkan pernikahan mereka tanpa ada kata menyerah.


"Jangan tinggalkan aku yah, Mas?" tuturnya membuat Alfat mencium tangan sang istri yang ia genggam begitu eratnya.


Alfat tersenyum kemudian menggelengkan kepala. "Tidak akan, Sayang. Untuk apa Mas meninggalkan kamu? Kamu satu-satunya wanita yang ada di hati Mas. Sampai kita tua kita akan tetap bersama."


Keduanya saling mengembangkan senyum hingga lama kelamaan Citra mulai terpejam kembali. Sejak di rawat di rumah sakit wanita itu sering menghabiskan waktunya untuk tidur. Meski pun begitu, tak semenit pun Alfat beranjak pergi. Ia dengan setia menunggu Citra jika tak ada kepentingan yang dokter perintah untuknya.


Di saat Citra tidur, Alfat pun laju menyelesaikan pekerjaannya. Hingga fokus pria itu buyar kala mendengar suara ketukan di pintu ruang rawat Citra. Keningnya mengernyit heran mendengar siapa kah yang datang?


"Al," Suara lembut mendayu di telinga Alfat ketika pintu ruang rawat itu terbuka lebar.


Bersamaan dengan wajah cantik dan tersenyum lebar, wanita itu masuk membawa sebuah parcel buah segar yang di tata dengan indah. Alfat kaget sampai refleks berdiri. Wajahnya mendadak tegang melihat kedatangan Ratu.


"Maaf aku baru sempat kesini. Bagaimana istri kamu?" tanya Ratu masih tetap mengembangkan senyuman lebar. Matanya bahkan tak sekali pun melirik wanita yang terbaring di ranjang pasien itu.


Ia terus menatap rindu wajah tampan yang satu minggu ini tak pernah ia lihat lagi.


"Nona, ada apa kemari?" Pertanyaan Alfat yang gugup justru membuat Ratu terkekeh.


"Kamu ini masih saja sama seperti dulu, mudah gugup. Aku kesini? yah buat jenguk istri kamu lah. Masa jenguk kamu? Itu dulu beda dong sama sekarang." kekehnya membuat Alfat kesal.


"Ratu, tolong jaga bicara kamu." Untuk pertama kalinya pria di depannya ini berkata sesantai itu tanpa menggunakan panggilan Nona. Ratu sempat terkejut, namun ia merubah mimik wajahnya santai kembali.


"Dia tidur kan? tentu tidak akan mendengarnya. Masuklah ke kantor, Al. Aku bisa menggantikan mu di sini atau aku akan membayarkan orang untuk menjaga dia."


"Dia istriku. Aku bahkan rela meninggalkan pekerjaan demi menjaganya. Tolong jangan campuri rumah tanggaku, Ratu. Aku mohon." Alfat bahkan sampai menatap pilu wanita di depannya.


Sakit yang di derita Citra sudah cukup membuatnya merasa bersalah sebab tak bisa banyak membahagiakan sang istri saat bersamanya. Dan saat ini jangan sampai Citra sedih mendengar Ratu yang akan membantunya menyewa jasa penjaga. Sungguh, Alfat tak akan rela menjatuhkan satu tetes saja air mata wanita yang ia cintai kini.


"Permisi," suara seseorang dari arah pintu tiba-tiba menghentikan percakapan antara Alfat dan juga Ratu.


Keduanya menoleh bersamaan pada sumber suara, dan terlihatlah sosok dokter yang berjalan masuk. Di ikuti beberapa suster.


"Silahkan, Dokter." ujar Alfat yang mempersilahkan untuk memeriksa keadaan sang istri.


Beberapa menit usai akhirnya mereka menjelaskan pada Alfat.

__ADS_1


"Bagaimana istri saya, Dok?" tanyanya dengan wajah sendu. Berharap ada kebaikan yang akan ia dengarkan kali ini.


Pelan dokter menggelengkan kepala. "Tingkat kanker yang Ibu Citra alami sudah sangat tinggi, Pak. Sayangnya kita ketahui ini sudah di tahap jauh seandainya di awal mungkin masih besar kemungkinan. Tapi kembali lagi pada yang kuasa, tidak ada yang tidak mungkin untuk-Nya. Kita akan usahakan berbagai macam pencegahan lebih dulu, sebab kanker di otak Ibu Citra begitu cepat penyebarannya. Semoga semua mampu berjalan baik. Setidaknya kita hentikan dulu penyebarannya baru kita berpikir langkah untuk menyembuhkan beliau."


Alfat tak merespon apa pun yang dokter itu katakan. Pria itu hanya berdiam diri mencerna kata dari dokter. Rasanya sulit di percaya, sang istri sampai mendapat penyakit menakutkan itu.


Ratu yang melihat respon Alfat pun segera bersuara karena sadar Alfat tak akan mampu bicara lagi. "Baik Dokter, terimakasih. Jika ada pengobatan yang jauh lebih baik tolong usahakan dokter, bagaimana pun caranya dan berapa pun biayanya." tuturnya dan dokter pun mengangguk.


Tak tega melihat Alfat yang terdiam tanpa bisa bicara apa pun, akhirnya Ratu memberikan waktu pria itu untuk sendiri. Ia memilih pergi meninggalkan Alfat. Tak sanggup rasanya melihat wajah tenang pria yang sedari dulu ia kenal kini berubah menjadi sangat menyedihkan.


Sepanjang perjalanan pulang, Ratu berpikir.


"Kasihan, tapi aku juga mencintai Alfat. Maafkan aku, Cit. Aku terlalu egois. Tapi aku benar-benar tulus mencintai Alfat. Aku salah sudah menyia-nyiakan pria seperti Alfat. Dan kamu wanita yang paling beruntung mendapatkan cinta pria sepertinya." gumam Ratu tanpa bisa melupakan bayangan kejadian di rumah sakit tadi.


***


"Dari mana kamu, Ratu?" pertanyaan sang mami tiba-tiba saja mengejutkan gadis itu. Ratu yang berjalan gontai memasuki rumah kaget mendapati sang mami duduk dengan pria yang tidak asing menurutnya.


Ratu pun sontak tersenyum melihat siapa yang ia lihat saat ini.


"Eh saudara kembarku?" Ratu berjalan cepat memeluk sang sepupu. Pria yang bernama Firmansyah tampak menyambut pelukan hangat sepupunya itu.


"Enak aja bilang saudara kembar. Kita beda yah? Kepalaku lunak tidak seperti kepalamu yang keras." ocehnya sontak membuat Ratu mengerucutkan bibirnya kesal.


Melihat keduanya sangat akrab, Eris memilih pergi memberikan ruang keduanya saling bertukar cerita.


"Capek nggak?" tanya Firman kala mereka sudah duduk bersampingan.


Firman melihat jelas wajah Ratu yang tidak seperti biasa. Jelas tercetak sangat banyak beban pikirannya saat ini. Ratu pun menggelengkan kepala. "Tidak, pasti mau ngajak jalan yah? Ayo tapi gantu baju dulu yah sekalian mandi."


Tanpa menolak, Firman pun menyetujui ucapan sang sepupu. Cukup lama ia duduk menunggu Ratu bersiap, hingga akhirnya gadis itu keluar dari kamar dan menghampiri Firman.


"Ayo jalan." ajaknya.


Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih sekitar lima belas menit, sky bar salah satu hotel berbintang menjadi pilihan Firman saat ini. Keduanya tampak bersantai sore itu menikmati senja yang terlihat jelas dari sky bar lantai paling atas dan semi out door. Firman menatap wajah Ratu yang menatap sinar mentari senja kala itu.


"Rat," panggilnya pelan.


"Hem?" jawab Ratu acuh tak acuh.


"Siapa pasangan sekarang? masih jomblo aja atau?" pertanyaan yang rasanya sudah bisa Ratu pahami akan mengarah ke mana.


"Nanya atau mastikan nih yang Mami katakan?" telak Firman tampak kikuk lantaran ketahuan oleh Ratu jika sudah tahu cerita tentangnya.


"Yah pengen dengar jelasnya dan benarnya dari kamu kan nggak salah. Memang aku nggak boleh tahu yah?" tanya Firman berusaha tenang agar Ratu tidak membatasi ucapannya nanti.

__ADS_1


Sejenak keadaan mendadak hening. Ratu menikmati minuman di tangannya hingga beberapa kali tenggak.


"Alfat kamu pasti tahu kan, dari dulu dia itu satu-satunya pria yang paling mengerti aku. Selalu bisa buat aku kuat dan tenang di tengah-tengah Mami dan Papi yang selalu tidak pernah perduli sama anaknya sendiri. Sampai saat ini aku ternyata masih butuh sosok itu, Fir. Alfat satu-satunya pria yang aku mau. Bukan siapa-siapa. Sampai kapan pun perasaan yang pernah aku remehkan nyatanya tidak bisa berubah. Justru semakin kesini rasa itu semakin tumbuh menggunung." ujarnya berterus terang.


Kini Ratu bicara dari hati ke hati pada Firman. Benar apa yang menjadi dugaan Eris, pria inilah satu-satunya pria yang bisa membuat Ratu bicara dengan hati. Tanpa melibatkan emosi dan keras kepalanya. Setidaknya walau pun sedikit, Firman bisa memberikan masukan pada Ratu. Itu yang di harapkan Eris ke depannya.


"Merebut suami wanita lain itu bukanlah sebuah hal yang baik, Ratu. Bahkan aku mendengar istrinya saat ini tengah sakit keras. Apa kamu tega?"


Ratu menggelengkan kepala mendengar pertanyaan dari Firman kala itu. "Aku terlahir menjadi wanita tak punya hati, Fir. Bagaimana bisa aku merasakan tega atau tidaknya pada orang lain. Yang aku tahu dari kecil adalah memperjuangkan apa yang membuat aku bisa bertahan hidup dan bertahan mencari kebahagiaan. Sebab Tuhan menciptakan aku tanpa ada garis kebahagiaan jika tidak aku berkeras kepala mencarinya."


Mendengar ungkapan hati sang sepupu, Firman sampai terkekeh. Ia sungguh tak mengerti dengan jalan hidup keluarga Ratu. Apa sebegitu mirisnya kah sampai bisa merubah pola pikir gadis di sampingnya saat ini?


"Rat, tidak ada manusia yang hidup tanpa garis bahagianya. Kita hanya sama-sama saling berjuang mencarinya. Sebelum berpikir untuk hal yang bahagia sendiri, berpikirlah dengan cara apa kita menempuhnya. Jika hasil yang kamu dapat tidak bahagia, apa kamu sudah pernah berpikir sebelumnya apa yang kamu putuskan untuk mencapai hal itu?"


Ratu diam beberapa saat tanpa bisa menjawab. Ia memejamkan mata meresapi setiap kata yang Firman ucapkan barusan padanya.


Pelan Firman menggenggam tangan sang sepupu.


"Kamu bisa tanpa dia. Jika dia jodohmu pasti Tuhan akan berikan jalan dengan cara yang baik. Bukan seperti yang kamu lakukan saat ini. Aku tidak bisa melihat sepupu aku jadi pelakor. Itu adalah wanita yang sangat rendah, Rat. Ayo tunjukkan pada Alfat jika kamu adalah wanita yang layak di lirik jika memang pada akhirnya kalian bisa berjodoh."


Pelan tangan Firman menepuk pundak Ratu.


"Aku sangat mencintai dia, Fir. Sumpah aku bisa gila jauh sama dia. Rasanya aku pengen jadi pria dan dia aku jadikan perempuan biar aku bisa nikahin dia paksa terus aku kurung di rumah."


Bukannya sedih mendengar curhatan sang sepupu, Firman sampai tidak sadar menyemprotkan minuman di mulutnya lantaran tak bisa menahan tawa.


"Kok ketawa sih?" Ratu memajukan bibirnya kesal.


Firman menggelengkan kepala beberapa kali. "Kamu lucu sih." ujarnya.


"Pernikahan itu tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Kamu pikir setelah bisa menikah dan memiliki orangnya kamu akan bahagia? Justru tidak sama sekali, Rat. Kamu bisa saja untuk satu hari akan merasa puas telah mendapatkan apa yang kamu mau. Tapi, satu yang kamu lupa. Cinta. Memiliki raga tanpa bisa memili jiwa itu jauh lebih menyakitkan, Rat. Sepanjang pernikahan kamu akan menangis sebab tidak bisa memiliki jiwa pasanganmu. Jadi, sebelum memutuskan untuk menikah, curilah dulu hatinya. Dan ingat dengan cara yang benar. Pelakor itu sudah di gariskan tidak akan damai hidupnya bersama suami yang hasil ia rebut. Satu lagi, jangan lupa wanita yang kamu rebut suaminya sedang berjuang hidup dan mati. Jangan sampai sumpahnya sangat sakit untuk kamu, Tuhan pasti akan mengabulkan sumpah orang yang sakit dan teraniaya."


Panjang lebar Firman berkata hingga Ratu yang mendengar sampai menguap merasa kantuk. "Pantes aja nama kamu Firman. Sudah kayak Firman-Firman Tuhan aja panjang banget bicaranya." ledek Ratu yang tak di tanggapi sama sekali oleh pria itu.


***


Makan malam kembali berdua membuat Eris berniat buka suara pada sang suami.


"Pi," panggilnya pelan.


"Hem?" respon Raul yang dingin rasanya membuat Eris sangat malas bicara. Namun, saat ini ia harus bicara dengan sang suami.


"Ratu di bawa Firman jalan-jalan. Dia datang atas permintaan aku. Aku minta Firman kasih masukan ke Ratu semoga saja dengan begitu bisa jadi jalan yang baik." pelan ia berucap agar sang suami tak naik darah lagi.


"Kenapa tunggu seperti ini baru mau ikut turun tangan? Kemarin-kemarin kemana saja? Belum merasa ada masalah dengan Ratu? Atau ada hal yang bikin Mami malu dengan teman-teman atau karir Mami di luar sana?"

__ADS_1


Tepat seperti dugaannya, sang suami pasti akan memulai pertengkaran jika bukan ia yang memulai. Eris enggan meladeni ocehan suaminya itu. Ia pun memilih untuk melanjutkan makan usai menghela napas kasar.


__ADS_2