
Setibanya di hotel lebih tepatnya di depan kamar milik Ratu, beberapa orang pria berdiri bersama Alfat yang menggenggam kopernya. Pria itu tampak menoleh ke beberapa pria yang bersamanya saat ini. Bingung, tentu saja Alfat sangat bingung. Sebab semuanya berdiri seolah menjaga depan kamar milik nona mereka tanpa bicara apa pun pada Alfat.
"Kenapa saya tidak mendapatkan kunci kamar?" tanya Alfat pada Dani yang merasa sangat bingung. Matanya menatap ke arah tangan bodyguar sang atasan yang memang tak memegang kartu akses lainnya.
"Anda tidak perlu menggunakan kunci, sebab kamar Nona Ratu sudah terbuka untuk anda." jawaban datar dari Dani sontak membuat Alfat membulatkan matanya kaget.
Apa itu artinya mereka akan satu kamar? Tidak. Ini tidak benar, bagaimana mungkin Alfat tidur di kamar yang sama dengan wanita lain sementara ia sudah memiliki istri dan Citra saat ini pasti sudah menunggu kabar darinya. Lama terdiam mematung, Alfat hanya menatap nanar pintu kamar yang masih terbuka itu. Di dalam sana Ratu sudah masuk lebih dulu dan entah melakukan apa saat ini.
"Dan, tutup pintunya jika dia sudah masuk." teriak Ratu tanpa bantahan.
__ADS_1
Dani yang mendapatkan perintah pun segera menganggukkan kepala pada Alfat pertanda jika pria itu harus segera masuk dan jangan membantah. Atau semua akan kacau karena Ratu murka. Tanpa bisa menolak, Alfat pun melangkah masuk ragu. Pelan tenggorokannya meneguk kasar salivah karena gugup.
Senyuman pun mengembang tatkala wajah cantik yang sudah bersih dari make up itu menatap sosok yang baru saja masuk ke dalam kamar. Jelas Alfat melihat kamar yang memang terdiri dari dua bed. Meski pun begitu, tetap saja mereka berada di ruangan yang sama satu malam atau mungkin beberapa malam ke depan.
"Segeralah mandi dan istirahat. Besok kita sudah harus bekerja." pintah Ratu dengan lembut.
"Bagaimana kalau aku menelpon dan Ratu mengacaukannya? Tidak. Aku tidak ingin Citra salah paham padaku. Sebaiknya aku mengirim pesan saja, dan besok aku harus bangun pagi untuk menelponnya." gumam Alfat dalam hati dan menekan tombol kirim.
Mata yang semula tampak mengantuk tiba-tiba saja terbuka lebar. Citra bahkan sampai terduduk dari posisi baringnya. Wajahnya mendung kala mendapati hanya pesan singkat yang sang suami kirimkan padanya.
__ADS_1
"Tenang, Cit. Mas Alfat pasti sangat lelah itu sebabnya dia tidak menelponmu." ujarnya berusaha menenangkan diri tanpa bisa menahan air mata yang terus berjatuhan. Entah apa yang wanita ini rasakan saat ini. Yang jelas ia berusaha kuat dan berpikir positif meski instingnya sebagai seorang istri begitu terasa kuat.
Pelan tubuhnya ia rebahkan kembali, namun Citra tiba-tiba saja merasakan gejolak yang sangat tidak enak di perutnya. Wanita itu berlari cepat menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Seluruh isi perutnya pun tumpah di wastafel. Pelan ia membersihkan semua sisa kotoran bahkan Citra melihat jelas wajahnya yang pucat di depan cermin saat ini. Pandangannya terasa bergoyang.
"Kepalaku..." keluhnya merasa pusing. Sulit berjalan namun ia berusaha kuat untuk berjalan kembali ke atas ranjang. Citra berbaring dengan tubuh yang ia balut selimut tebal.
Meski sakit di tubuhnya terasa semakin kuat, Citra berusaha tetap tenang. Ia tak ingin panik dan menghubungi sang suami.
"Mas Alfat sedang lelah dan besok harus bekerja. Aku tidak boleh mengganggunya." ujar Citra dengan sabar menahan sakit di perut serta kepala.
__ADS_1