Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Pengakuan Citra


__ADS_3

Setelah berdiri cukup lama menunggu pintu terbuka, Alfat tak menyerah kembali mengetuk pintu. Wajah letihnya berubah menjadi bingung sebab tak biasanya sang istri lama membuka pintu bahkan tak mengangkat panggilan darinya.


"Citra kemana yah?" tanyanya pada diri sendiri dan hendak menekan bel serta berniat mengetuk pintu juga. Membuka dengan kunci cadangan tentu saja tidak bisa sebab terkunci dari dalam.


Hingga tak lama kemudian terdengarlah pintu terbuka. Tampak sosok wanita yang sudah membuat Alfat sangat cemas. Wajah basah dan pucat membuat Alfat menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.


"Mas, kamu sudah pulang?" pertanyaan dari Citra membuat pelukan sang suami terlepas. Alfat menatap dalam kedua mata sang istri.


"Dari mana saja? Mengapa aku menghubungi istriku seperti menghubungi presiden saja susah sekali." keluh Alfat seketika membuat Citra terkekeh mendengarnya.


Tak berniat menjawab, wanita itu meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya. Pelan ia menarik tas kerja sang suami serta koper. Namun, Alfat mencegahnya. Ia memilih membawa kopernya sendiri sebab melihat wajah sang istri yang mengkhawatirkan tentu saja Alfat tak tenang.


"Mas mau makan dulu?"


"Sudah jangan pikirkan Mas. Sekarang ayo ke kamar. Mas ingin bicara sama kamu." Alfat menarik tangan sang istri untuk mengikuti langkahnya menuju kamar.

__ADS_1


Citra pun patuh tanpa membantah, ia juga sangat banyak hal yang ingin di bahas oleh sang suami. Bahkan Citra merasa sangat tidak sabar untuk mengajukan beberapa pertanyaan dan mencurahkan hatinya yang tengah gundah dan tubuhnya yang sakit.


Keduanya pun tiba di dalam kamar, tampak Alfat menggenggam tangan sang istri erat saat mereka duduk di sisi bibir tempat tidur.


"Dari mana saja? apa yang kamu lakukan? Apa kamu sakit? Kenapa tidak memberi tahu Mas? Bisa lewat pesan kan? Kamu sangat membuat Mas cemas, Cit. Mas tidak bisa konsentrasi juga kerja di sana." Pertanyaan dari bibir sang suami membuat Citra menarik napas dalam.


Bukan menjawab, justru Citra balik bertanya. "Mas, kapan kamu pulang? Kenapa mendadak tiba-tiba sudah di rumah saja? Kamu taruh ponsel kamu di mana, Mas? Kenapa aku bahkan tidak bisa tahu kamu saat tidur sebentar saja? Kamu tidur sendirian kan, Mas?"


Kikuk, Alfat tampak menelan salivahnya kasar. Ingin berbohong ia takut jika sang istri ternyata tahu sesuatu saat ia berada di luar kota. Namun, ingin jujur sungguh Alfat tak sampai hati mengatakan sebenarnya pada sang istri. Pelan, pria itu menarik napas dalam lalu menghembuskan secara kasar.


"Sayang, semuanya tidak ada apa-apa. Mas murni bekerja di sana. Sumpah demi apa pun Mas tidak melakukan hal yang membuat kamu sakit. Mas tahu batasan." jawaban yang Alfat berikan justru semakin membuat Citra berpikir yang tidak-tidak.


Ia mengerutkan kening mendengar ucapan sang suami yang membuatnya merasa tak sinkron dengan pertanyaannya barusan.


"Mas, coba jawab pertanyaan aku dengan benar. Kenapa jawabannya seperti aku sedang menuduh Mas melakukan kesalahan?" Alfat tak bisa berkata apa pun lagi. Ia bingung menata kata apa yang akan ia ucapkan saat ini.

__ADS_1


Hingga kecanggungan yang terjadi akhirnya pecah saat Citra berlari ke arah kamar mandi. Alfat tentu saja mengejar sang istri.


"Cit, kamu sakit?" tanyanya kaget melihat sang istri yang sudah mengeluarkan seluruh isi perutnya. Citra terus muntah tanpa bisa menjawab pertanyaan sang suami. Lama wanita itu berdiri hingga ia tak kuat lagi menahan tubuh dan bersandar pada dinding kamar mandi.


Alfat berdiri memegang tangan sang istri. "Sayang, kenapa tidak bilang kalau sakit? ayo kita ke rumah sakit sekarang."


Tangan yang Alfat tarik erat untuk keluar dari kamar membuat Citra menghentikan langkah sang suami. Ia menggeleng saat wajah suaminya menatap penuh tanya.


"Tidak perlu, Mas. Aku sudah periksa." Air mata seketika menetes begitu saja kala Citra melihat wajah sang suami yang penuh tanya. Bahkan bibir wanita itu sampai bergetar menahan sesak di dada saat hendak menyampaikan berita buruk ini.


Ia sendiri sangat takut dengan penyakit yang di deritanya. Pelan Alfat menggenggam tangan sang istri meyakinkan jika semua baik-baik saja dan meminta Citra mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.


Pelukan kekuatan Alfat berikan pada sang istri. Lalu ia berkata dengan pelan dan lembut. "Cit, katakan? Apa hasil pemeriksaannya? Apa pun itu jangan takut kita punya Tuhan. Mas akan ada bersama kamu dan kita hadapi ini sama-sama." ucapan Alfat pun akhirnya membuat Citra sejenak memejamkan matanya.


"Aku terkena kanker otak, Mas." Setelah mengatakan itu Citra pun menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


__ADS_2