Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Sakitnya Citra


__ADS_3

Di remangnya ruangan rumah sakit, sepasang mata yang sedari tadi tertutup terlihat pelan terbuka sedikit demi sedikit. Ia adalah Citra, sakit hati dan ketenangan kini bersamaan ia dapatkan.


Meski tak ada yang tahu jika ia tengah menyaksikan sang suami yang terlelap di bawah sana tengah mendapat kecupan di keningnya dari wanita yang bukan istrinya.


“Dia begitu mencintaimu, Mas. Mungkin rasa cintaku bahkan terkalahkan dengan cintanya wanita itu. Aku merasa hidupku tidak akan mampu mencintaimu selamanya. Sebab aku sadar akan apa yang aku derita saat ini. Aku tidak akan sanggup jika sewaktu-waktu Mas memintaku untuk berusaha baik-baik saja dan bertahan.”


Berusaha menenangkan diri, Citra memilih memejamkan matanya pelan meneteskan air mata yang kian keluar.


Sementara di bawah, Ratu juga turut memejamkan mata kala merasakan bibirnya menyentuh kening pria yang sulit ia jangkau saat ini. Kerinduan yang terpendam kini melebur bersama dengan kecupan penuh cinta.


Sumpah demi apa pun hati Ratu berbunga-bunga mendapatkan kesempatan yang sama sekali tak ia duga datang padanya.


“Terimakasih untuk malam ini, Al.” tuturnya beranjak dari duduknya. Ratu bergegas keluar ruangan rawat Citra. Ia memilih kembali ke rumah pulang setelah melampiaskan rindu yang terpendam.

__ADS_1


Kepergiannya membuat tangis Citra kian deras. Ia sungguh tak kuasa merelakan sang suami di sentuh wanita lain. Namun, sadar jika sang suami sesungguhnya begitu menaruh cinta yang dalam pada wanita tersebut.


“Meski kamu tidak mengatakannya, Mas Alfat. Aku tahu semua yang kamu rasakan. Bahkan setiap malam kamu masih memikirkan Ratu. Aku tahu cintamu tidak akan pernah mati untuk wanita itu, Mas. Aku paham posisiku tidak sedalam wanita masalalu mu itu.” Tak bisa melampiaskan tangis, Citra hanya mampu menjerit di dalam hati.


Wanita yang begitu di cintai sang suami di masa lalu kini telah kembali dan menginginkan posisinya kembali.


Sepanjang malam Citra hanya bisa menangis sampai ia sendiri tak sadar kapan ia terlelap. Pada akhirnya di pagi hari yang bangun lebih awal adalah sang suami.


Alfat mengerjap beberapa kali saat merasakan ada kain hangat menutup tubuhnya. Selimut yang semalam di pakai oleh Ratu terletak di tubuhnya.


Yah, Ratu tak lagi ada di posisi semalam. Entah kemana perginya wanita itu, kini Alfat justru beralih menatap punggung sang istri yang membelakangi dirinya di atas brankar sana.


“Citra.” Panggilan dengan suara lirih itu kini terdengar. Namun, bukannya berbalik justru Citra memejamkan mata.

__ADS_1


“Sayang, sudah pagi. Kita bersihkan badan kamu dulu yah?” Dengan pelan dan lembut Alfat memegang bahu sang istri dan membalik tubuhnya.


Keningnya mengernyit heran kala melihat kelopak mata sang istri yang sudah bengkak. Jelas jika Citra sudah menangis sepanjang malam.


“Cit. Citra, ada apa? Mengapa menangis? Apa yang sakit?” tanya Alfat dengan memegang kedua pipi sang istri.


Tak bisa menahan tangis, barulah Citra membuka matanya yang tampak bola mata itu memerah.


“Mas,” suara bergetar nan lirih seiring Citra yang memeluk tubuh sang suami.


“Apa Ratu melakukan sesuatu? Katakan apa yang dia lakukan? Seharusnya Mas tidak tidur saat dia di sini. Kamu di apakan olehnya?”


Dalam hati Citra menjawab. “Cintaku di curi olehnya, Mas. Dia mengambilnya dariku. Aku sakit melihatnya, Mas.” Namun, Citra hanya bicara dalam hati dan ia hanya mampu bersuara.

__ADS_1


“Tidak ada yang dia lakukan. Bahkan dia tidak tidur di sini semalam, Mas. Dia pulang.” jawab Citra.


__ADS_2