
Malam yang panjang kini Ratu gunakan memikirkan serta mencerna setiap kata yang Firman katakan. Ambisi untuk memiliki Alfat masih tertanam begitu kokoh di diri Ratu. Hanya saja ada kata yang tidak bisa ia terima. Yaitu pelakor.
“Enak saja aku di katai pelakor. Aku ini beda sama pelakor. Aku jelas-jelas mencintai Alfat dengan tulus. Bahkan aku sangat cantik. Memangnya ada namanya pelakor cantik? Nggak dong. Pokoknya aku bukan pelakor. Aku hanya merebut Alfat dari Citra saja.” ujarnya membela diri dengan keras kepalanya.
Jika membayangkan semua ucapannya yang membuat sang sepupu sadar, rupanya salah besar. Sepanjang jalan Firman bertelponan dengan Eris yang merupakan tantenya. Ia menceritakan bagaimana ekspresi Ratu kala mendengar semua ceramahnya.
Eris pun sangat antusias mendengar hingga beberapa kali wanita paruh baya itu heboh sendiri di kamar tanpa perduli Raul yang berdecak kesal lantaran kaget.
“Iya iya terus gimana lagi, Fir?” tanyanya memukul kasur tanpa sadar sebab gemas pada sang anak.
“Pokoknya aunty tenang saja. Ratu pasti luluh kok, tadi aja mukanya sudah mati kutu. Kita lihat besok apa dia masih ingat sama pria itu?” Eris tampak tersenyum puas.
Beberapa kali ia bahkan memuji sang keponakan dengan senyuman yang mengembang sempurna.
Raul hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Mami yakin? Kenapa harus berlebihan begitu hebohnya?” celetuk Raul dengan tampang masa bodoh.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang suami sontak saja senyum di wajah Eris memudar berganti tatapan kesal.
“Papi itu kenapa sih suka sekali menghapus kesenangan orang? Mami lagi nggak sabar nih lihat wajah anak kita besok bagaimana? Firman itu benar-benar ahlinya untuk kepala Ratu yang seperti batu itu. Sama kayak Papi.” Memilih untuk tidur lebih dulu, Eris menarik kasar selimutnya.
Berbicara dengan sang suami saja dengan menambah kerutan di wajahnya. Tak ada ketenangan sedikit pun yang ia dapatkan selain menegangkan otot wajahnya.
“Lihat saja besok.” lirih Raul bersuara. Berpikir sang istri tak mendengar lagi. Nyatanya Eris justru membuka matanya lebar.
“Kalau masih terjadi, Papi yang harus mikir.” ujarnya kesal membalikkan tubuh membelakangi sang suami.
“Karena itu sumpah Papi pada Ratu. Papi pikirkan caranya, Mami sudah berusaha hari ini. Besok giliran Papi, jangan sampai anak kita jadi pelakor.”
Hening keadaan di dalam kamar. Keduanya pun saling memunggungi dan memeluk guling masing-masing. Hingga tak lama kemudian semua terlelap dengan nyaman kecuali Ratu.
Gadis ini masih betah menatap langit kamarnya. Banyak sekali tampilan wajah Alfat di setiap sudut kamarnya.
__ADS_1
“Aaah bisa gila kalau begini terus. Coba aja nggak ada istrinya sudah aku datangi saja Alfat malam ini. Atau…” Tiba-tiba Ratu tampak memikirkan sebuah ide.
Senyuman licik terbit di wajahnya dan secepat kilat gadis itu bersiap dengan pakaian rapi serta wajah bersih tanpa make up hanya pelembab bibir saja. Namun, meski begitu Ratu tetap sangat cantik.
Hening dan sunyi, rumah megah milik Raul tampak minim pencahayaan. Pelan namun pasti Ratu sudah keluar dari rumah.
“Nona Ratu…” seorang security menyapa sang majikan tanpa berani bertanya.
“Buka gerbangnya.” Pintah Ratu yang segera di lakukan tanpa bantahan.
Ratu bukan lagi anak kecil yang harus di jaga ketat.
Mobil melaju dengan cepat, Ratu tampak tersenyum sumringah. Akhirnya ia mendapat cara untuk mengurangi rasa gelisah karena rindu ini.
“Al…i’m coming!” Serunya berteriak sembari menyetir mobil membelah jalanan yang tampak sedikit sunyi itu.
__ADS_1