Ratu Sang Penguasa

Ratu Sang Penguasa
Tamat


__ADS_3

“Papi, tolong nikahkan aku dengan Alfat. Aku sudah menyiapkan semuanya.” ujar Ratu dengan entengnya.


Alfat dan lainnya sama-sama membuka mulut tercengang mendengar bisikan Ratu. Melihat di sekeliling banyak yang hadir dari perusahaan, sungguh Raul tak bisa berkata apa pun lagi.


Matanya hanya menatap sekeliling dengan tatapan bingung. Sedangkan Alfat tampak mengerjapkan matanya yang tiba-tiba saja gelap akibat syok dengan perlakuan Ratu.


“Ratu, apa-apaan kamu ini?” tanya Raul.


“Nikahkan aku, Papi. Jangan membuat nama keluarga kita malu, Pi.” Raul memijat keningnya mendengar ucapan sang anak.


Bagaimana mungkin Ratu bisa berkata takut membuat malu keluarga. Justru dirinya sendirilah yang bisa membuat nama keluarga malu.


“Pi, bagaimana ini?” tanya sang istri mendekati suaminya.


Kini tak ada yang bisa Raul katakan selain menatap pada sosok Alfat. Yang tentunya bisa memutuskan semua ini. Menerima atau tidak pernikahan dadakan yang Ratu lakukan.


“Alfat, bagaimana ini?” tanya Raul pasrah.

__ADS_1


Apa pun yang Alfat katakan, Raul akan menerima. Sebab sifat gila anaknya benar-benar di luar dugaan.


“Saya bersedia, Tuan.” jawab Alfat mantap dan membuat wajah Ratu tersenyum penuh kemenangan.


Kali ini misinya berhasil dengan baik. Ratu tersenyum sumringah dan pernikahan pun berlangsung lancar.


“Akhirnya Ratu sang penguasa sudah berhasil memikat pujaan hatinya.” gumam Ratu bersorak dalam hati.


Ia tak lepas dari senyuk sejak pernikahan di nyatakan sah. Dan semua tamu undangan pun akhirnya tampak bubar satu persatu. Tinggallah keluarga inti di mesjid itu.


“Ratu, apa yang di pikiranmu? Pernikahan ini bukan hal yang sepele? Kamu sadar melakukan semua ini?” tanya Raul saatnya menyidang sang anak.


“Al, kita pulang yuk. Badanku lelah.” ujar Ratu.


Ia menggandeng tangan Alfat menuju mobil dan bergegas pulang. Raul benar-benar pusing melihat tingkah sang anak.


“Sudahlah, Pi. Mungkin inilah jalan jodoh anak kita. Alfat pun pria baik-baik kan?” Raul pun mengangguk pasrah mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


Mereka pun pulang ke rumah dengan keadaan lemas. Berbeda dengan Ratu yang tampak semangat sekali. Sebab bulan madu pun telah ia rencanakan bersama suami tercinta.


Beberapa koper miliknya sudah berdiri tegak tanda siap untuk berangkat.


“Sepertinya memang ini jalan takdirku. Citra maafkan aku. Aku tidak bermaksud cepat melupakan kamu, Sayang. Tapi, mungkin Tuhan telah mengatur semua ini. Damailah kamu di sana, Cit.” Alfat yang mengingat sang istri kini akhirnya mengikhlaskan semuanya. Dan siap memulai lembaran baru dengan Ratu.


Mereka berangkat hari itu juga keluar negeri setelah Ratu membersihkan diri dan mengisi perutnya. Alfat berbicara saat Ratu mandi dengan kedua mertuanya.


Mendengar keikhlasan Alfat, Raul sendiri pun merasa lega. Setidaknya dalam pernikahan mereka tidak ada yang merasa terpaksa dan berakhir saling menyakiti.


***


Singkat cerita setibanya di Paris, keduanya sama-sama saling melepaskan hasrat mereka. Cinta yang lama akhirnya bersemi kembali dengan usaha Ratu yang begitu gigih.


Wanita itu tampak menikmati sentuhan lembut suaminya hingga beberapa kali tubuhnya menegang. Alfat pun begitu ketagihan dengan perlakuan sang istri yang masih kaku.


Malam pertama akhirnya benar-benar Ratu rasakan. Hingga keduanya terlelap di tempat tidur mewah itu.

__ADS_1


Perjuangan Ratu yang gigih berakhir dengan ketidak sia-siaan. Meski sedikit gila namun semua penuh pertimbangan. Cinta yang sesungguhnya akhirnya bisa ia dapatkan.


__ADS_2