
Kala Citra berjuang menahan sakit, berbeda halnya dengan Alfat yang tidak bisa tidur saat ini. Bukan karena satu kamar dengan sang mantan. Lebih tepatnya karena ia memikirkan sang istri yang tidak bisa di beri kabar melalui panggilan. Satu hari ini Citra begitu mencemaskan dirinya, dan sekarang untuk sekedar menelepon saja ia tidak bisa.
"Aku harus menghubungi Citra." kekeuh Alfat pun bangkit dari tempat tidurnya. Pria itu bergegas keluar kamar dan berniat menelpon.
Wanita yang ia pikir tengah terlelap rupanya belum tidur sepenuhnya. Ratu membuka mata lebar dan menatap punggung Alfat yang berlalu dari kamar. Bukan mencegah, melainkan Ratu hanya menatapnya nanar. Ada kesedihan yang mendalam ia rasakan saat ini kala pria yang begitu ia inginkan sama sekali tak pernah menoleh padanya.
Di luar Alfat melewati beberapa bodyguard yang berjaga, sementara Dani sudah tak ada di sana. Ia yakin pria itu pasti tengah memasuki kamar lainnya.
Dan seperti yang Alfat duga, pria yang ia pikirkan barusan memang benar tengah berada di kamar lain dengan tubuh wanita bergoyang di atasnya. Suara erangan dan racauan lainnya menggema di ruang kedap suara itu. Dani sangat menikmati permainan partner ranjangnya kali ini.
Beberapa kali keduanya saling beradu mulut hingga tubuh mereka sama-sama tumbang. Keringat mengucur deras dari tubuh keduanya. Dani terpejam dan si wanita pun melangkah pergi meninggalkan kamar itu.
Di sisi luar, Alfat tengah menunggu panggilannya terangkat. Cukup lama ia menempelkan benda pipih itu hingga tak kunjung mendapat jawaban. "Kemana Citra? Apa sudah tidur? Tapi biasanya ponselnya selalu di angkat setiap aku menelpon meski pun tidur." Alfat merasa semakin tidak tenang.
__ADS_1
"Hai, kamar nomor berapa? Mau aku bantu?" Mendengar suara wanita menyapa di balik punggungnya, sontak Alfat terjingkat kaget. Ia berbalik dan melihat sosok wanita dengan wajah yang sedikit berantakan serta bibir berwarna polos tanpa lisptik berjalan tersenyum ke arahnya.
Alfat menggeleng cepat. "Tidak, terimakasih. Saya bersama istri kok." ujarnya berbohong demi menyelamatkan dirinya.
Wanita seperti itu tentu tidak akan kenal malu. Ia bisa saja berbuat nekat demi mencari kepuasan dan juga uang. Alfat tidak ingin terjadi sesuatu padanya, sudah cukup ia berada satu kamar dengan Ratu dan bisa kapan pun menjadi masalah besar untuknya dan Citra.
Tring Tring Tring
Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar saat itu. Alfat pun melihat ponselnya dan mengangkat panggilan dari sang istri tanpa melihat wanita tadi yang sudah melenggang pergi usai memainkan sebelah matanya.
"Cit, kamu sakit? Wajah kamu pucat." ia panik melihat bagaimana sang istri terbaring lemas di atas tempat tidur. Tanpa Alfat tahu jika sebelumnya Citra tidak mengangkat panggilan video darinya karena sedang berada di kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya lagi.
Senyuman kecil Citra paksakan saat ini. "Enggak, Mas. Aku bukan sakit. Tadi kan olahraga terus kecapekan karena nggak biasa." elaknya untuk menenangkan sang suami. Mendengar hal itu Alfat pun tampak menghela napasnya kasar.
__ADS_1
"Kamu benar nggak kenapa-kenapa kan? Bukan karena sakit serius kan?" tanyanya lagi memastikan sang istri baik-baik saja.
Citra mengembangkan senyum semakin lebar. "Aku baik-baik saja kok, Mas." tuturnya dengan memaksakan wajah baik-baik saja. Bahkan Citra saat ini sangat menahan mual di perutnya. Pusing yang ia rasakan justru semakin terasa saat ini.
Ada banyak hal yang ingin Citra tanyakan pada sang suami termasuk saat ini suaminya mengapa menelpon di luar kamar. Namun, rasa sakit yang menyerangnya saat ini membuat Citra tak sanggup menahan waktu bervidio call dengan sang suami.
"Mas, sudah dulu yah? Aku ngantuk banget. Mas istirahat saja besok kan sudah harus kerja pagi-pagi." ujarnya memilih untuk segera mengakhiri.
Untungnya Alfat pun juga setuju sebab ia tidak ingin berlama-lama komunikasi dengan sang istri takut akan mendapat pertanyaan yang banyak. Termasuk makan siang yang tadi di makan oleh Ratu.
Akhirnya panggilan pun berakhir setelah keduanya berucap salam. Kini Alfat melangkah kembali ke arah kamarnya bersama Ratu. Sementara Citra sudah berlari ke kamar mandi kembali.
"Sepertinya aku harus periksa besok. Tapi apa ini termasuk pertanda hamil? Jika aku benar hamil, Mas Alfat pasti akan sangat senang." Citra tersenyum bahagia di tengah-tengah sakit yang menyerang tubuhnya.
__ADS_1
Tangannya mengelus perut rata miliknya dan tersenyum menatap perut di bawah sana. "Semoga kamu benar hadir yah, Nak?" ujarnya penuh harap.