
Malam harinya di kediaman Raul Wijaya, keheningan di kala ia dan sang istri makan malam terpecahkan saat derap langkah kaki dari arah pintu utama tiba-tiba terdengar. Dimana gadis yang menjadi satu-satunya pewaris tunggal kini menampakkan wajah yang tampak kusam.
“Sebentar yah Papi,” sebagai istri Eris datang mendekati sang anak.
“Ratu, dari mana saja kamu? Lihat penampilan kamu ini.” Ia bahkan sampai menggelengkan kepala melihat penampilan Ratu yang bahkan tampak acak-acakan wajah penuh dengan keringat.
“Sudah, Mi. Aku capek.” Ia bergegas melangkah melewati kedua orangtuanya.
Tak kembali pada meja makan, Eris justru memilih mendekati para bodyguard yang bertugas menjaga anak gadisnya.
“Ini video laporannya, Nyonya.” Dani menyerahkan sebuah ponsel yang sontak membuat Eris hanya bisa menghela napas kasar.
Balap mobil yang bahkan membuat bulu di tangannya berdiri serentak. Merinding melihat tingkah sang anak yang menyerupai pria.
“Kenapa? Bertingkah aneh lagi?” tebak Raul menatap sang istri yang melangkah duduk di kursi meja makan dengan menatap suaminya pasrah.
__ADS_1
Melihat tak ada respon sang istri, Raul pun menghentikan makan malam. Ia bersandar pada sandaran kursi. Pikirannya menerawang pada tingkah sang anak.
“Minggu ini dia harus aku temukan dengan anak dari Tuan Jamil.” Mendengar penuturan dari sang suami, Eris tak serta merta setuju.
“Papi yang benar saja? Mereka itu keluarga alim. Bagaimana mau dengan anak kita yang seperti itu?” ujarnya tak habis pikir dengan ide suaminya.
Justru hal inilah yang ada di dalam kepala Raul, anaknya butuh didikan yang ekstrim untuk bisa berubah.
“Kita terlalu membebaskan Ratu. Papi yakin keluarga Tuan Jamil akan bisa menundukkan gadis keras kita.” tutur Raul penuh keyakinan.
Sementara Eris yang mendengar hanya bisa menghela napasnya kasar. Ia tak mau ambil pusing dengan keputusan sang suami. Sebab kerjaannya juga sudah cukup menguras tenaga.
Di dalam kamarnya, gadis yang tengah di bahas kedua orangtuanya tampak gelisah.
“Tahan Ratu, tahan. Kamu harus tahan diri kamu. Okey? Alfat harus lihat kamu jadi wanita yang baik.” ujar Ratu gelisah. Ia tengah susah payah menahan diri untuk tidak menyusul pria itu ke luar negeri.
__ADS_1
“Yah, aku harus baik-baik saja di sini. Alfat akan jatuh hati padaku lagi. Aku wanita yang baik menolong istrinya. Iya, Ratu gadis yang baik.” Terus ia bergumam di sela mandi, mengganti baju hingga ingin tidur.
Meski tubuh terasa lelah, sayang kedua mata gadis itu masih saja terjaga. “Aduh nggak bisa tidur.” rutuknya sangat kesal.
Tanpa tahan lagi, Ratu sudah menggenggam ponsel dan menekan panggil pada nomor yang tak lain adalah milik sang mantan.
Beberapa kali panggilan itu ia tunggu namun tak juga ada jawaban.
“Apa dia sibuk ngurus Citra yah?” tanya Ratu lirih.
Tanpa ia tahu jika sebenarnya Alfat melihat ponsel itu. Bahkan kini pria itu tak ada niat sama sekali untuk mengangkat panggilan sang mantan.
“Kenapa nggak di angkat, Mas? Apa itu dari Ratu?” Pertanyaan yang sontak membuat wajah Alfat tergugup.
Ia menoleh pada sang istri serta tangannya langsung mengambil ponsel memasukkan ke dalam saku celana.
__ADS_1
“Bukan, itu panggilan dari bawahan Mas di kantor. Biarkan saja, Mas ingin mereka belajar menyelesaikan kerjaan sendiri. Tidak serta merta meminta bantuan Mas terus.” Alibi Alfat yang jelas membuat Citra masih tak percaya.
Bahkan jelas kedua mata istrinya itu tadi melihat nama yang tertera di layar ponsel suaminya.