Reîncarnarea În Trecut

Reîncarnarea În Trecut
tiga belas


__ADS_3

Xiang berlari kecil mendekati toko makanan ringan yang ada disisi kanan jalan. Toko kecil itu nampak menjajakan roti isi berbentuk bulat dengan berbagai jenis isian.


" tuann.. bolehkan saya membeli yang ini, ini, ini" ujar ku menunjuk berbagai roti dengan jenis isian yang kupilih.


"Baik nona, ini.." balasnya sopan setelah memasukan beberapa roti yang kupilih itu kedalam wadah. Tangannya menyodorkan wadah itu. Aku pun menerimanya dengan senang hati.


"Berapa tuan??"


"Emm sepertinya nona pelanggan baru ya??" Tanya nya.


"Iya hehe" aku tertawa canggung seraya mengaruk tengukku pelan.


"Kalau begitu nona tak perlu membayar, anggap saja ini promo "


"Benarkah??" Tanyaku tak percaya. Aku membelinya segini banyaknya tapi kenapa ia malah memberikannya percuma.


"Tentu.." balasnya tersenyum.


"Baiklah tuan terima kasih, kami permisi.." kami pun bergegas pergi menyusuri pasar mencari sebuah toko kain.


Namun ditengah jalan tepat disebuah gang gelap, nampak seorang anak berbaju kumal tengah memeluk tubuhnya sendiri.


Aku yang melihat itu langsung mendekat. Tak perduli dengan tatapan ketiga pria yang ada dibelakangnku.


"Hai adik kecil.." sapaku ramah.


Anak itu tersentak kaget, wajahnya yang tertutup oleh kedua tanganya kini mendongak menatapku. Tapi yang ku peroleh hanya mata ketakutan dan luka disekujur tubuhnya.


"Kakak siapa?? Jangan mendekat!! " pekiknya ketakutan, matanya memerah dan keringat bercucuran membasahi luka yang ia miliki.


"Ehh.. jangan takut, aku tak akan melakukan hal buruk padamu" dengan tersenyum lembut aku mencoba mengelus surai putihnya yang lepek dan kotor terkena darah.


"Apa kakak tak takut padaku? Mataku merah dan aku bisa membunuh siapa saja jika aku tak bisa mengendalikannya.." balasnya tertunduk lesu dan terlihat menikmati elusan dikepalanya.


"Buat apa aku takut?? Kau tak lihat aku punya 3 pengawal yang ada dibelakangku, dan lagi aku bukan gadis cengeng yang tak bisa beladiri"


"Tapi aku aku bisa membunuh mereka dengan mudah" balasnya polos.


"Hei kami tak selemah itu, dan jangan kira kami hanya sekumpulan  manusia bodoh yang tak memiliki apa pun yang tak bisa dipamerkan" ujar Phoenik tak terima.


"Benarkah??" Ia merejab-rejab. Mata merah bulatnya nampak lucu bahkan tak ada mimik seram yang tercipta diwajah anak itu. Hal itu membuat Ziang tersenyum sambil menarik kedua sudut pipi anak itu gemas.

__ADS_1


"Tentu, jadi kau tak perlu takut untuk berdekatan dengan kami,  karna aku dan mereka akan menjagamu sampai kau bisa mengontrol mana yang kau punya, Vampire kecil."


"Vampir?? Apa itu Vampire?" Tanya anak itu bingung mendengar ucapan Xiang.


"Vampire itu ee..." aku tak mungkin menjelaskannya, bahwa vampire adalah hewan haus darah yang memiliki mata merah dan taring panjang.


"Kak, kok melamun??"


"Ahh iya, Vampire itu nama pemberian kakak untukmu, kamu mau??" Balasku asal. Hufft semoga saja mau.


"Emm.. baiklah aku mau" ia nampak tersenyum, tapi berbeda dengan dragi dan phoenik yang sekarang  mulai menelisik ingatan milik anak itu. Ia takut jika anak itu akan melakukan hal buruk pada tuannya.


"Baiklah, jadi kau nama kamu Vampire. Aku akan memanggilmu Vamp oke"


"Baik.." balasnya nampak lebih semangat.


Aku yang mendengar itu langsung bersyukur, untung saja gak repot jelasin dan ya gak papa kali ya pakai nama itu" batinku lirih.


"Emm.. sekarang coba Vamp berdiri, biar kakak bersihin dulu pakai Vamp" kutarik tanganya pelan hingga ia berdiri tegak. Tanganku mulai mengumpulkan mana dan menyalurkannya teratur. Gak lama dan gak repot baju kumal itu telah berganti menjadi bersih, bahkan lukanya pun perlahan menghilang.


"Hahaha.. ternyata Vamp ganteng banget, imut lagi.. " cetusku girang melihat bagaimana penampilan Vamp yang sekarang. Wajahnya benar-benar tampan dan imut secara bersamaan. Aku yakin jika ia ada di jamanku pasti sudah menjadi model anak-anak yang terkenal dan mempunyai jutaan follower.


"Hehe.." aku menyengir kecil dan Vamp terlihat cemberut sambil mengusap pipi pucat putihnya tang memerah.


"Eh ya.. Vamp pasti belum tahu siapa nama mereka dan namaku" kugandeng tanganya pelan keluar dari gang, sedangkan si trio cowok hanya mengekor dibelakang.


"Belum.."


"Jadi nama kakak xiang, kamu bisa panggil Kak xiang, nah kalo yang rambutnya hitam kemarahan itu namanya Drago, terus yang rambut putih itu Phoenik, nah yang disamping Phoenik itu kak Bao. Dan lagi tupai menyebalkan yang ada di pelukan kak Bao itu namanya si tupai Got Ao." Terangku menujuk mereka satu demi satu.


"Heyy.. kenapa kau hanya  mengejek ku dihadapan bocah kecil itu" pekik Ao masih dalam dekapan Bao.


"Ao !!" Peringat Bao menatap Ao tajam.


"Kasian deh lo, marahin terus kak" ledekku menjulurkan lidah kerahnya.


Vamp yang melihat perdebatan itu hanya tersenyum kecil, ia merasakan sesuatu yang ia ingin dari dulu. Dan sekarang dewa telah berbaik hati padanya dengan cara mempertemukannya dengan sekumpulan orang aneh yang memiliki kepribadian berbeda-beda, namun saling menyayangi dengan caranya sendiri.


Xiang ikut tersenyum, saat melihat Vamp tersenyum tipis. Bahkan ia menghentikan perdepatannya dengan Ao hanya karna senyuman Vamp.


...........

__ADS_1


"Sungguh ini hari yang melelahkan.." Xiang merebahkan tubuhnya pelan. Sedangkan Vamp yang melihat itu hanya berdiri dengan beberapa bawaan yang ia bawa.


"Vamp tidurlah sekarang, aku akan tidur disampingmu. Dan letakan barang-barang itu disana, nanti aku akan mencoba membuat beberapa alat dan hanfu dari barang itu." Ujar ku pelan sembari memajamkan mataku lelah.


"Baik kak" Vamp meletakkan sesuai dengan perintah. Tubuhnya langsung ia bantingkan ke ranjang tepat disisi kanan Xiang berada.


"Sungguh melelahkan.." gumamnya lirih sebelum terbawa arus mimpi.


.......


"Jadi??"


"Sesuai rencana tuan, mereka telah terlelap dipenginapan yang ada di pusat kota." Balas pria berhanfu hitam polos.


"Emm, baiklah.. "


"Tuan.." panggilnya lirih.


Sang junjunganya terdiam menunggu kelanjutan tanpa membalas ucapan itu.


"Ada sekelompok hama yang ingin mengusik keberadaanmya. Apa saya harus menghancurkannya atau biarkan mereka yang menghamcurkannya sendiri"


"Jalanilah sesuai dengan kesepakatan awal, kau tak perlu ikut campur bila ia masih bisa menghadapinya. Lagian aku yakin tikus itu akan mati mengenaskan ditangannya sendiri" pria itu menyeringai, sungguh ia ingin sekali melihat  itu terjadi didepan matanya. Hanya saja perkerjaan menyebalkan selalu menghadang keingingannya.


...


Plis kasih dukungan sama coment penyematnya😢


Kutunggu ya..


Kalo gak kek nya bakal cuma sampe sini aja😞


............                                      .


........                 🙋‍♀️                    ..


....         bersambung             ....


..    salam dari Author    ........


.                                         ...........

__ADS_1


__ADS_2