
Oke kita bertemu lagi guys..
Jangan bosen-bosen sama ceritaku ya..
Baiklah tanpa basa basi lagi kita next ke cerita selanjutnya..
Sekedar mengingatkan.. budidayakan vote atau like sebelum membaca ya guys😋😉
____-____
Kembali ke kediaman Xiang..
Bao yang membawa tatakan berisikan makanan tiba-tiba masuk kedalam tanpa mengetuk pintu.
Semua yang ada di dalam seketika beralih menatap tatakan yang ada ditangan Bao.
"Ah.. sudah siap nih makanannya.." cetusku beralih bahasan.
"Kak bao bawa sini ayo.." ujar Vamp dengan tatapan laparnya.
"Kalian sabar dulu, saya belum membawa semua makanannya.. masih banyak makanan yang tertinggal didapur." Balas Bao meletakan makanan tepat dimeja patri yang tersedia.
"Hey yang mau cepet makan sana bantu kak Bao!!"
Seketika semua berbergegas bangkit dan berjalan mengikuti langkah Bao.
"Kak kok kakak gak bantu?" Tanya Vamp yang tengah berhenti tepat disamping pintu.
"Gak dong, putri mah bebas.." balasku merebahkan tubuhku.
Mendengar itu semua hanya geleng-geleng dan melanjutkan langkahnya.
____-____
Kini hidangan yang telah disiapkan sudah tertata rapi, berbagai jenis makanan terhidang dengan aroma yang menggugah selera.
"Wow.. kerja bagus kalian semua, apalagi kak Bao," Seru Xiang yang kini beranjak bangkit seraya memberikan ancungan dua jempol kearah Bao.
"Yee.. situ mah gampang tinggal makan" ejek Ao menduduki kursinya.
__ADS_1
"Idih, iri ye.." balasku tak trima.
"Udah Udah ayo kita makan.." ujar Bao menengahi.
Drago dan Phoenik hanya diam menyimak tapi tidak dengan tangan dan mulutnya, kini mulutnya sudah penuh dengan daging ayam dan tangannya masih sibuk menggenggam erat paha domba.
"Hey drago phoenik.. kalian ini gak sabaran yak, mana dagingnya diambil semua lagi!!" cetus Xiang menatap miris piring yang kini tersisa tulang belulang. Sedangkan yang memakan terlihat tenang menikmati makanannya.
"Salah siapa ribut mulu" ujar Drago mulai angkat bicara,sedari tadi ia masih sibuk melahab paha dombanya, kemudian Phoenik mengangguki ucapannya dengan mulut penuh, sedangkan Xiang hanya memberungut mendengar jawaban itu.
"Udah dong, Xiang'er makan yang lain aja." Bujuk Bao menatap wajah cemberutku. Tanganya pun bersinggah manis mengelus-elus rambut Xiang
Aku pun menikmati elusannya, hingga sebuah ide melintas di otakku,"Gak ada daging aku gak mau, kecuali.." ujarku sengaja berpura- pura merajuk kemudian menggantung ucapanku. Oke aku mulai siasatnya, batinku menyeringai senang.
"Kecuali apa??" Tanya Bao mengangkat sebelah alisnya. Mendengar respon itu membuat ku bertambah bahagia.
"Kecuali kakak mau menyuapi ku.. gimana??" Godaku sambil menaik turunkan kedua alisku.
"Alah dasar modus..!!" Seru Ao mengejek. Wajahnya terlihat begitu masam.
"Idih.. serah dong, lagian aku gak minta ke kamu blekk" balasku menjulurkan lidah. Aku sama sekali tak memperdulikannya karna tujuan utamaku sekarang bermanja-manja dengan bao, kan lumayan bisa manja sama cogan iya gak??
"Ya udah, mau makan sama apa?" Mendengar itu aku langsung berbinar, dengan antusias aku menujuk nujuk hidangan yang mau ku makan. Aku pun menatap Ao penuh kemenangan.
"Cekk.. dasar caper, modus.." gumam Ao masih sibuk mengejek Xiang yang tengah bermanja-manja minta disuapi oleh Bao. Bahkan tanpa malu Xiang sengaja memakan suapan dari Bao dengan gelepotan, dan kalian tahu bukan tujuannya jadi gk usah dijelasin lagi.
"Biarin aja napa, sensi amat" balas Vamp yang mendengar gumaman Ao.
_______-_______
Di Kediaman Lan Gio..
"Kak ayo kita pergi kekediaman pembunuh itu, aku sudah tak sabar menghukumnya karna pergi seenaknya.. buat kita harus repot-repot mencarinya lagi" seru Lan Reo menyeringai penuh dendam.
"Buat apa Reo, aku malas bertemu dengannya"
"Tapi kak, aku ingin menyiksanya hingga ia mengingikan kematiannya sendiri"
"Reo, apa kamu sadar. Terkadang kakak berpikir.. kenapa kita harus menyakitinya? Bahkan ia tak tahu apa-apa saat hal menyakitkan itu terjadi. Dan Ia bahkan sama sekali tak merasakan kasih sayang Dari ibunda permaisuri. Bukankah kita masih beruntung karna kita sudah merasakan kasih sayang itu, walau itu tak berlangsung lama" balas Gio tertunduk, entah apa yang merasukinya ia tak tahu. Mulut seakan berbicara tanpa kendalinya, tapi ia juga sadar ucapannya memang suatu kebenaran.
__ADS_1
"Ada apa dengan kakak? Kenapa kakak berpikir seperti itu. Jangan bilang kakak sudah terhasut ucapan pembunuh itu!!!" Bentak Reo menatap nyalang, telinganya tak sudih mendengar belaan yang terucap dari mulut Gio.
"Apa kakak tahu, Dulu aku mendengar itu semua dari Ayahanda. Dan buat apa lita merasa kasihan pada pembunuh itu!!!"
"Reo sadarlah, bagaimana bisa seorang bayi yang baru lahir membunuh ibunya sendiri??? Berpikirlah secara logis Reo!!!" Balas Gio menaikan oktaf suaranya. Ia tahu sedari dulu ia melakukan sebuah kesalahan, dan ia tak ingin kesalahan itu terus terjadi. Bagaimana pun yang dikatakan pembunuh itu adalah adik bungsuhnya. Dan ia yakin itu semua adalah kesalah pahaman.
"Kak, kau membentak ku karna membela seorang pembunuh itu?? Sungguh aku bertambah benci padanya, aku.. aku merasa kakak satu satu ku telah diambil olehnya" ujar Reo melirih.
"Reo, bukankah kau yang membentakku terlebih dahulu??" Mendengar itu Reo hanya tertunduk, ia mengaku salah karna tanpa sengaja membentak sang kakak.
Melihat itu gio tersenyum samar kemudian melanjutkan ucapanya "Dan yang kakak lakukan hanya ingin menyadarkanmu. Bahwa apa yang kita lakukan ini salah. Lalu apa rasamu jikalau kaujadi Xiang?? Dimana ia dibenci oleh saudaranya sendiri bahkan kita tanpa hati menyiksanya hingga darah tak segan merembes kelantai, memar pun dengan angkuh menghiasi tubuhnya. Sungguh kakak menyesal telah melakukan itu semua.." lirih Gio berucap tubuhnya kini melemas, potongan kisah penyiksaan yang ia lakukan terhadap adik bungsuh nya terus berputar diotaknya. Sungguh hatinya merasakan penyesalan yang amat besar akan perilakunya dulu.
"Tapi kak..." ujar reo mencoba menyela, namun gio tak menghiraukan dan melanjukan ucapanya.
"Kau tahu Reo, setiap malam ibunda datang menemui ku lewat mimpi. Ia selalu menangis tanpa henti, bahkan kakak tak mampu menghentikan tangis itu. Hati kakak sakit setiap melihat buliran air mata yang meluruh dipipinya."
Gio menghentikan ucapannya. Hatinya kembali merasakan kesedihan itu.
"Kakak apa itu yang membuatmu selalu sulit tidur? Hingga lingkar hitam selalu menghiasi mata mu??"
Lirih Reo menyela.
Gio menganggukan kepalanya pelan. Tetesan air mata mengalir dipipinya, ia pun melanjutkan ucapan nya.
"Namun disetiap kedatanganya ibunda hanya diam menangis. Tapi berbeda dengan malam ini. Karna ibunda..."
_____--_____
Bersambung..
Maaf kalo part ini kesannya gk nyambung😣😔
Tapi jangan lupa like/votenya, plus coment dukunganya. Kalo mau kasih poin pun boleh, apalagi kalo koin 😂🤣
Dah👋👋
See you dipart selanjutnya.
___-___
__ADS_1