
"Sial, gara-gara mereka. Aku jadi terus kepikiran, huh!" decak Lan Xiang sebal memukul kepalanya agak keras.
"Aku harus memastikannya dulu, dan setelah itu perlombaan cabang tanding berakhir aku harus segera kembali mengecek keadaan hutan timur. Aku merasa sedikit risau seperti tengah terjadi sesuatu di sana," celetuknya lalu melesat pergi ingin menyelusup ke dalam istana.
___*_*___
"Akkhh... dimana tempatnya?!" Xiang terus mengendap-endap seorang diri melewati gelapnya malam. Ia berjalan ringan di sisi dinding kayu mahoni berukiran indah. Memantau sekeliling berharap tidak ada satupun penjaga yang melihat gerak geriknya.
Hingga tepat di salah satu kediaman, ia terhenti.
Kediaman itu paling mencolok karena memiliki ruang dan halaman yang paling besar. Ukirannya begitu indah tak tertandingi. Tapi, ada yang sedikit kurang. Rasanya... kehidupan disana sedikit bermasalah, itulah yang terpikir di batin Xiang.
"Ah... ternyata jendela itu nampak sedikit terbuka, dan aura kuat menguar begitu dominan. Tapi, sepertinya ada yang tidak beres."
Wushhh...
Blassshh...
Lesatan angin terhenti di samping jendela itu, matanya mengintai menatap area dalam ruang. Menampakkan sosok pria yang tengah terbaring lemah di ranjang yang terdapat di dalamnya.
Entah apa yang mengendalikan jiwanya, hingga tanpa sadar ia melesat masuk dan menatap pria itu lebih dekat. Dan dapat dilihat kabut hitam menguar menyelubungi pria itu.
Tangannya merambat ragu menyentuh wajah rupawan sang pria yang tengah terlelap pulas. Rasa aneh merambat kembali tanpa diminta.
"Ahh... rambutnya?! Apa ini yang drago dan Phoenix maksud?" Ia mengusap pelan, menempelkan jari-jarinya ke arah surai putih itu. Lalu kabut itu menyisih saat tangannya bersentuhan dengan kulit itu.
"Aku tak tahu kita akan bertemu lagi di masa ini, apa tak cukup pengorbanan yang kulakukan?"
"Dan kenapa kau melakukan semua ini Lihatlah, kondisimu memburuk... dan–dan kutukan itu mulai membentuk. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan hingga membuatmu melakukan hal di luar batas manusia!"
"Jikalau kau tanya rasa ini. Maka, akan kujawab jujur, aku memang masih menyimpannya. Bahkan masih di tempat yang sama tanpa terusik sedikit pun. Tapi, aku sadar jika kau memang bukan takdirku."
Tes...
__ADS_1
Air matanya sudah tak mampu ia bendung lagi, lolos begitu saja mengalir melewati pipi putihnya dan terjatuh tepat di baju kebesaran yang masih dikenakan pria itu.
"Dan walaupun kau bersanding denganku suatu saat nanti–tapi bagiku kau tetap bukan takdirku. Karena raga ini, raga ini bukan milikku. Dan yang kau inginkan adalah raga ini bukan? Sedangkan aku hanyalah jiwa tanpa raga... ah, mengatakannya saja membuatku sedih."
Tetes demi tetes air matanya mengalir semakin deras, rasa sesak yang dialami menambah siksaan batinnya.
Mendapati itu, ia hanya tersenyum getir kemudian melamun memikirkan nasib cintanya yang terlalu malang. Hingga akhirnya, suara langkah kaki dan suara-suara seseorang membuatnya tersadar dan segera mengambil tindakan untuk bersembunyi.
Tap... tap...
Krieett...
"Sepertinya keadaan yang mulia mulai melemah, aku tak menyaka akan terjadi hal seperti ini." Tanganya menyentuh lengan pria itu dan memeriksa denyut nadi yang rasanya terlalu lemah dan kinerja jantungnya mengalami sedikit kendala.
"Lalu apa yang harus dilakukan? perlombaan harus tetap dilaksanakan... dan jikalau kabar ini merebak tentu menimbulkan sesuatu yang tak diinginkan. Aku yakin banyak musuh memanfaatkan keadaan ini."
Hembusan napas terdengar mengalir begitu jelas. Ia menatap tuannya khawatir, apalagi nonanya masih belum berada di pihak mereka.
"Yang kutahu, tuan mendapatkan mantranya dari hutan timur kerajaan Lan. Ada kemungkinan penghuni hutan itu mengetahui hal tersebut...."
"Kita harus menyelidikinya."
"Arrghh...." Geraman kesal lolos dari bibir pria yang tengah menjadi topik pembicaraan itu. Membuat mereka yang berbincang mengatupkan mulutnya dan memberi hormat.
"Kalian menggangu istirahatku...," geramnya datar.
Mereka hanya menunduk tanpa memberi jawaban.
"Jika tidak ada yang penting, maka pergilah. Aku masih ingin mengistirahatkan tubuhku ini," ucapnya memutuskan.
"Hormat hamba tuan, keadaan anda terlalu lemah... kami memutuskan untuk mencari tahu apa yang bisa membatalkan kutukan itu sebelum terbentuk sempurna... Kami harap tuan tidak ceroboh dan mengunakan mantra itu lagi untuk menemui nona...," lirih salah satu dari mereka membuka suara.
"Ckk, terserah kalian. Aku masih bisa mengurus tubuhku. Jadi, kalian tak perlu mengatur apapun yang kulakukan. Kalian hanya diizinkan untuk menasihatiku lalu untuk masalah keputusannya, akulah yang memutuskan. Ingat itu!"
__ADS_1
"Tapi, tuan. Jika tuan melanggarnya akan sangat berbahaya... apa lagi kami baru saja mendapat berita tentang penyerangan mana gelap terhadap salah satu hutan di wilayah kekaisaran. Jika tidak segera dicegah, maka korbannya tak hanya penghuni hutan. Tapi, para manusia yang ada di sekitarnya. Tercatat 150 warga mati akibat penyerangan hewan spritual yang dikendalikan mana gelap itu." Terang seorang pria dengan kacamata bulat yang bertengger di hidung mancungnya.
"Selain itu, saya mendapat informasi tentang kerajaan kegelapan. Bahwa, mereka mengincar nyawa nona dan mereka bisa datang kapan saja di waktu Yang Mulia lengah untuk menaklukkan kekaisaran."
Lan Xiang yang bersembunyi lama-lama tersulut emosi mendengar semua itu. Apalagi ia paham, bahwa nona yang mereka maksud adalah dirinya.
Batinnya terus menggerutu tak jelas hingga akhirnya sebuah kalimat lolos dari bibir tebalnya.
"Hei, kalian! Sadar tidak sih kalau tuan kalian masih tengah terbaring lemas... Bahkan untuk berdiri pun aku tak yakin mampu. Tapi, kalian justru menambah beban pikirannya. Ayolah, kalian ingin membuat tuan kalian itu stress dan bunuh diri begitu?!" Ketus Lan Xiang tiba-tiba menyela perbincangan mereka. Tubuhnya baru saja keluar dari persembunyiannya dan sayangnya kini ia merutuki sendiri tingkahnya yang di luar kendali.
"Nona?!"
"Xiang'er..."
"He–hei," balas xiang menyengir kuda. Dia benar-benar mati kutu sekarang. Dia menyerahkan dirinya sendiri ke dalam kandang serigala dengan posisi Zheang sebagai sang alpa.
"Sejak kapan nona ada di kediaman tuan?!"
"Apa itu penting?" balasnya mengangkat sebelah alisnya.
"Sudahlah, maaf mengganggu. Aku mau pulang dulu deh. Dah...." Dengan gesit Lan Xiang menghilang membuat semua yang ada di sana bingung dengan tingkah nonanya.
Kecuali pria yang terbaring di ranjang, Zheang hanya tersentum tipis di balik wajah datarnya. Jujur, dia mendengar semua kalimat yang mengalir dari bibir tebal gadis kecilnya. Hanya saja, ia memilih diam dan mendengarkan ocehan gadis kecilnya itu.
"Sial, aku harus menggunakan portal sesegera mungkin. Hutan timur–aku harus ke sana dan menanyakan pembatal kutukan yang terjadi di tubuh Kaisar Zheang. Selain itu, aku harus memperkuat diriku. Aku tak ingin mati di tangan pembunuh itu... dan sebaliknya, aku akan membalaskan dendam ibuku, karena dia juga kakak tersiksa arrgghh!"
"Dark King Drazi, tunggu aku sebentar, dan akan kubalaskan semua yang kau torehkan pada keluargaku!" Lan Xiang berteriak menggelegar diikuti angin semilir setajam pisau, dan petir menggelegar berwarna merah.
........
Bersambung...
Jangan lupa like and koment guys..😊
__ADS_1