
"Tapi kak..." ujar reo mencoba menyela, namun gio tak menghiraukan dan melanjukan ucapanya.
"Kau tahu Reo, setiap malam ibunda datang menemui ku lewat mimpi. Ia selalu menangis tanpa henti, bahkan kakak tak mampu menghentikan tangis itu. Hati kakak sakit setiap melihat buliran air mata yang meluruh dipipinya."
Gio menghentikan ucapannya. Hatinya kembali merasakan kesedihan itu.
"Kakak apa itu yang membuatmu selalu sulit tidur? Hingga lingkar hitam selalu menghiasi mata mu??"
Lirih Reo menyela.
Gio menganggukan kepalanya pelan. Tetesan air mata mengalir dipipinya, ia pun melanjutkan ucapan nya.
"Namun disetiap kedatanganya ibunda hanya diam menangis. Tapi berbeda dengan malam ini. Karna aku mendengar suara tangisnya sembari memanggil-manggil nama Xiang sontak aku yang mendengarnya pun terkejut. Lalu suatu memori datang menghampiri ku dan menunjukan kebenarannya."
Flash back..
Lan Gio pov:
Setelah kembali nya dari ruang kerja ayahanda, aku berjalan menuju kediamanku. Sebuah rencana pemberian hukuman berat untuk pembunuh kecil itu terlintas dan teruntai indah otakku. Tak sabar bagiku untuk segerah melakukannya.
Namun tak lama kemudian malam menghampiri dimana malam penuh dengan tangis ibunda selalu teriang didalam mimpiku.
Dengan sencangkir teh hangat tak lupa obat tidur yang terkandung didalamnya selalu hadir menemani malamku. Walau terasa berat bagiku untuk mengomsusi obat semacam itu tapi bagaimana lagi ini adalah rutinitas malamku. Aku tak akan bisa tertidur jikalau tak mengkonsumsinya.
Dan kini cangkir tea itu sudah ada digengamanku, perlahan kuteguk minumanku hingga habis tak tersisa.
Rasa kantuk silir datang menghampiri, kurebahkan tubuhku pelan diranjang kasurku.
Mataku masih merejab sayu hingga akhirnya aku terlelap tidur.
___--____--___
Disebuah tempat dimana rerumputan hijau mengering nampak seorang wanita cantik dengan hanfu putih bersih tengah duduk bersimpuh seraya menangis tanpa henti.
Aku yang seakan bangun akibat suara itu pun mendekat, ini bukan yang pertama kali kurasakan entah berapa kali, mungkin sudah berulang-ulang hingga aku tak sanggup menghitungnya.
Aku berlari mendekat kemudian memandang raut wanita itu, tatapannya sayu dengan mata memerah membuatku ikut merasakan kesedihannya.
"Mama.. " lirih ku mencoba menyentuh bahunya, namun sayang semua itu tak bisa disentuh. Bahkan seuntai rambutnya pun tak bisa ku sentuh.
__ADS_1
"Ma jangan menangis seperti ini, aku tak sanggup melihatmu menangis.. " lirihku sendu. Namun sama seperti biasa, wanita itu sama sekali tak menggubris ucapanku.
"Sebenarnya apa yang terjadi ma?? Mengapa kau selalu datang kemimpiku dalam keadaan menangis?? Apa yang sebenarnya ingin beritahukan padaku?? Kenapa engkau selalu bungkam dalam tangismu??" Sarkasku lirih, aku sudah tak tahan dengan kebisuan yang terbalut rikihan tangis.
Mendengar itu sang wanita seakan menoleh dan mulai menujukan ekspresinya.
Reaksi yang diberikannya membuatku sedikit lega, karna baru kali ini ucapanku mendapatkan reaksi seperti itu darinya.
"Mama boleh menceritakan apa yang ingin ibu critakan. Dan aku siap mendengar segala keluh kesah mama yang membuat mama tak tenang dan selalu datang kemimpiku" lembut ku mencoba mengajaknya berkomunikasih, sekarang situasi tangis mereda, dan tanpa sadar rumputnya mulai hidup bersama dengan senyuman yang tiba-tiba dilepaskan wanita itu.
Pelan wanita itu tersenyum, tanganya terulur menyentuh wajahku.
"Gio, Xiang gio.. Xiang..!!!" Pekiknya tiba-tiba berteriak lagi, rumput pun kembali kering seakan mendengar pekikan itu.
"Mama, ya ini gio.. tapi mengapa dengan Xiang mah?" Tanyaku bingung dengan perubahan ekspresinya yang seketika itu.
Wanita itu kembali menangis, mulut pucatnya bergetar memanggil-manggil nama Xiang.
Hingga sebuah lingkaran muncul tepat dimana terkumpulnya air mata yang telah berjatuhan berulang kali.
Aku yang melihat nya bertambah bingung, lingkaran itu semakin besar. Bahkan aku bisa merasakan sebuah tarikan yang seakan mengajakku masuk kedalam nya.
"Masuklah nak.. kau akan mengetahui semua yang sebenarnya terjadi.. dan kau akan tahu mengapa aku selalu menangis dimimpimu.." lembutnya membuatku teringat kemasa lalu dimana ucapan lembutnya selalu kudengarkan dari mulut mamaku.
Belum menjawab. Aku seakan tak mampuh menahan lingkaran dimensi lain yang menarik.
Wushhh...
Tubuh ku tertarik sempurna masuk kedalamnya.
_______--_______
Kembali ke Lan Xiang...
"Aahh.. aku kenyang kak.." senyumku lebar menatap suapan terakhir dari Bao.
"Sesuap lagi Xiang'er" lembut Bao yang mendapat tatapan sinis dari Ao.
"Baiklah kak, apa sih yang enggak buat kakak.. hehe.." balasku masih senang mengodanya. ku naik turunkan alisku mengejek kearah Ao.
__ADS_1
"Cihhh.. " Ao hanya berdecih sebal dan memalingkan pandanganya.
Sambil mengunyah suapan terakhir aku hanya tertawa melihat ekspresi Ao.
"Ckk.. kenapa Tuan Bao mau dijadiin babu oleh Gadis jelek itu" batin Ao jengkel.
Seakan mendengar ucapan batin Ao, drogo yang sedari tadi diam langsung memelottinya.
Aku yang tak peduli hanya menelan makanan itu dan mengecup pipi bao.
Cupp..
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Bao. Wajahnya langsung memerah saat mendapat kecupanku.
"Kak aku mau meditasi di ruang dimensiku, jadi jangan kangen ya.." ujarku mengedipkan mata genit. Wajahnya pun bertambah merah.
"Ah yang tadi itu kecupan terima kasih udah mau nyuapin aku hehe.."
"Em.. i..itu su.. sudah kewajiban.. ku sebagai.. pelayan pu..putri" balas Bao gugup. Wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus, dan aku yang melihatnya kembali tertawa kecil seraya menampilkan senyum lembut kearahnya. Tanganku yang sudah gemas pun mencubit kedua pipinya hingga memerah.
"Aaww.. sakit Xiang'er.." lirihnya mencoba melepas cubitanku.
"Sudahlah Tuan, sebaiknya tuan tak membuang buang waktu begitu saja. Karna kini sudah waktunya tuan bermeditasi dan memperdalam kekuatan mana tuan. Kecuali tuan tak ingin mendapatkan kembali ingatan tuan.." Sela Drago datar membuatku langsung cemberut dan melepaskan cubitanku dari pipi Bao.
"Huh..Ganggu aja sih, kek yang itu tahu gak" dengusku sebal seraya menujuk kearah Ao yang tengah tersenyum menyebalkan.
Drago hanya memandang jengah, sedang Phoenik dan Vamp sama sekali tak memperdulikan dan sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Dengan menghentakan kaki sebal aku berjalan ke ranjang dan segera memasuki ruang dimensi tanpa berucap lagi.
_____-_____
Bersambung...
jangan lupa like/votenya, plus coment dukunganya. Kalo mau kasih poin pun boleh, apalagi kalo koin 😂🤣
Dah👋👋
See you dipart selanjutnya.
__ADS_1
......_-_____