Reîncarnarea În Trecut

Reîncarnarea În Trecut
tiga puluh dua


__ADS_3

Cuss.. masih lanjut dan jangan bosen ama crita author yang masih ambrul adul ini😂😁


Next....


-----_-----


Pletakk


Sebuah pukulan kedua kembali mendarat dikepalaku.


"Mamah ih, ini sakit. Malah diulang lagi!!" Ujarku tak triama seraya mengelus pelan bekas pukulan itu.


"Salah kamu sendiri!! Lagian Mana mungkin ayahmu tega membunuh istri tercintanya ini" ujarnya bangga.


"Bisa aja tuh kalo khilaf" gumamku lirih.


Mendengar itu Xixi pun menatap tajam kearahku. Aku pun hanya menyengir kuda melihat itu.


Sedangkan Xiang asli yang diam menyimak hanya tertawa kecil melihat perbincangan itu. Ah.. ia nampak lebih angun dan berwibawa dari pada kedua wanita dan gadis itu.


"Sudahlah, aku tak ingin ribut lagi.. jadi critanya gini..."


______-______


Kita ke flash back lagi guys...


Pov Lan Xi


Aku tersenyum miris melihat tubuhku yang sudah tak berdaya dengan kucuran darah yang berceceran dimana-mana.


Mataku masih melihat jelas itu semua, bahkan mataku tak lepas dari bayi mungil yang masih menangis disamping ragaku.


Braakkk...


Sebuah pintu terbuka lebar dengan paksa


Aku pun tersentak kaget saat melihat pintu yang sedari tadi tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan paksa. Ku pincingkan mataku lebih tajam, hingga mataku menangkap sosok yang amat ku cintai.


"Lan Biooo!!!" Teriak ku kencang, namun sayangnya ia sama sekali tak mendengarnya.


Yang bio lakukan hanya berlari kearah ku lalu meraung raung menyedihkan menatap tubuhku yang terbujur kaku.


Huh.. kok gak denger sih!!" Sedihku menatapnya miris.


Mataku berkaca-kaca karna tak sanggup melihatnya menangis menyedihkan apalagi itu dikarenakan oleh diriku sendiri.


Ku setarakan tubuhku dengan nya yang masih sibuk mengusap rambut lepekku yang bercampur darah, ia bahkan tak segan memangku kepalaku itu.


Perlahan kuangkat ragu tanganku dan mencoba mengusap rambut hitam kelamnya. Namun sayang seribu sayang, aku yak mampu menyentuh tubuhnya ini seakan tembus seperti sebuah hologram. Dengan berat hati aku hanya menghela napas pelan. Dan menggengam tanganku sendiri.


Kulihat bao mengarahkan matanya pada sosok yang menyerang, namun sayang ia tak tahu siapa itu, karna ia terlalu lamban untuk menyadarinya. Dan Drazi tak membuang waktu untuk segara meninggalkan kami.

__ADS_1


Tap...


Sebuah tangan berukuran kecil layaknya anak balita tiba-tiba hinggap dibahuku yang masih bergetar.


Anak perempuan itu tersenyum lembut dan mulai menggapai wajahku. Tangannya yang kecil mencoba  membingkai wajahku dan mengusapnya pelan.


"Mamah.." lirihnya menatapku lembut.


Tak berlangsung lama sosok pria berjubah hitam datang, wajahnya tertutup rapat hingga aku tak mengetahui rupanya, namun aura kematiannya nampak menguar dengan begitu kuatnya.


"Sebaiknya kau segerah mengusap air matamu dan ikut denganku" dingin nya tanpa intonasi.


"Kalian siapa? Dan kenapa aku harus ikut dengan kalian?"


"Ckk.. kau memperlambat pekerjaanku" decih sosok berjubah.


Sedangkan anak balita tersenyum kemudian menariku agar berdiri.


"Mamah.. akan tahu nanti, tapi mamah harus ikut dulu.. karna dunia mama bukan disini lagi."


Aku hanya diam saat Anak itu berusaha menggenggam tanganku dan meraih tangan pria berjubah itu, tak berlangsung lama sebuah lingkaran datang dan menyedot kami masuk kedalam.


Wusshhh...


______-______


Aku pun membuka mataku yang sedari tadi terpejam. Menatap pemandangan yang tersuguhkan.


"Kau ku beri waktu bercerita, tapi sesuai perjanjian awal, kau ingat bukan?" Anak itu hanya menganguk patuh.


"Aku harus pergi, tugasku masih banyak" pria itu pun menghilang.


"Pria menyebalkan" cibirku lirih saat menatap kepergiannya.


"Mama lucu.."kekehnya tersenyum


"Ah iya mah, kak itu adalah salah satu dari sekian banyak bawahan para penyabut nyawa loh.. dan asal mama tahu, apa yang mama ucapkan pasti terdengar olehnya" jelas anak itu membuat ku terbidik.


"Pantas auranya menyeramkan..' batinku lirih saat mengingat awal pertemuan dengannya.


"Tapi mamah gk usah takut, kak itu baik.. dan dia udah janji mau jaga tubuhku yang rapuh itu." Balas anak itu seakan paham ucapan batinku.


"Maksudmu??" Ia hanya tersenyum tanpa menjawabnya.


"Mah, mamah pasti bingung siapa aku dan mengapa aku mengaku sebagai anak mama" ujarnya mengalihkan bahasan.


"Aku adalah jiwa tanpa raga yang mama lahirkan. Dan aku adalah anak keempat mamah, lebih tepatnya adik kembar Lan Xiang. Sebenarnya....."


Wushhh...


Suara semilir angin tiba tiba mengencang.. membuat ribuan bunga sakura terjatuh ketanah. Dan sosok Pria itu kembali datang. Memotong ucapan yang ingin anak itu jelas akan padaku.

__ADS_1


"Katanya masih banyak tugas, nyatanya belum lama udah kembali kesini lagi" dengusku melihat kehadirannya.


Ia hanya diam dan menarik anak kecil itu kesisinya.


"Mah.. waktuku udah habis.. aku mau pamit pergi" lirihnya terduduk menatap tanah.


"Dan kau diam saja disini, ini adalah dunia keduamu setelah kau mati" dinginnya membuatku membeku.


"Mama tenang aja aku ini masih hidup kok, cuma gak bisa hidup bersama kakak tanpa raga. Dan aku harus pergi kedunia dimana masa depan menungguku." Pamitnya memberanikan diri mendongak kearahku. Sedangkan aku masih diam dengan air mata yang mengalir dipipiku. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Namun mulutku tak mampuh berkata hingga akhirnya aku hanya diam mendengarkan ucapan mereka.


Ku lihat dia melepas genggaman pria itu dan berlari kearahku, kemudian ia memeluk tubuhku erat.


"Aku tahu mama itu sedih karna perpisahan ini. Tapi ini takdirku, walau pun aku pergi dan gak ingat akan mama kandungku yang cantik ini tapi suatu saat nanti aku akan kembali dan aku minta sama mama buat mengingatkan siapa diriku yang  sebenarnya."


Anak itu melepas pelukan itu, dan berjalan menjauh mengikuti arah pria itu berjalan. Tubuhku masih membeku ditempat, baru saja aku harus meninggalkan orang-orang yang kucintai kemudian bertemu dengan salah satu anakku yang tidak ku ketahui, tapi tak berlangsung lama ia juga meninggalkanku.


Wushh..


Jiwanya kini benar benar menghilang dan tubuhku ambruk ketanah saat sesuatu yang membekukan tubuhku ikut lenyap bersama hilangnya jiwa anak itu.


Flash back off..


"Udah kek gitu critanya.."


"Lah kok masih tanda tanya si mah? Siapa diriku yang sebenarnya??" Dengusku tak puas dengan apa yang diceritakannya.


"Orang kamu yang ngasih tahu cuma kek gitu kok, jangan salahin mama ya!" balasnya melipat kedua tangannya.


Huh.. aku pun mendengus sebal dan membuang muka kesamping.


Tapi entah kenapa tubuhku tiba-tiba aku masuk kedalam dimensi lain dimana memori kecil Xiang berada.


Disana ada Lan Xiang asli, ia mengajakku melihat memori kecilnya hingga akhirnya ia meninggal akibat benturan keras yang mengenai kepala belakangnya.


Aku yang melihat semua kejadian itu menjadi sedih dan geram.


Rasa benciku terhadap kedua kakak laki-lakiku dan ayah pun menumpuk. Entah apa yang ku lakukan besok jikalau aku sudah kembali. Yang jelas aku akan membuatnya merasakan apa yang saudara kembarku rasakan.


___--___


Bersambungg..


Jangan lupa like, coment👉👈


Kalo mau kasih poin atau koin pun boleh banget hihi..👉😁👈


Dahh..


Eh sebenernya ada yang ngerasa aneh sama alurnya? tetep nikmatin aja ya, semua bakal dibahas dipart part selanjutnya..


See you👋

__ADS_1


__ADS_2