Reîncarnarea În Trecut

Reîncarnarea În Trecut
tiga puluh satu


__ADS_3

"Xixi !!!" Pekik seorang pria yang baru saja mendobrak pintu.


Tap.. tap.. tap..


Ia berlari menghampiri jasad xixi yang mengenaskan, tanganya bergetar saat berusaha membalikan tubuh xixi. Air matanya mengalir deras, ia pun menolehkan matanya kearah pria berjubah yang masih terduduk lemas menyandar dinding, sayangnya iya terlalu lambat untuk melakukan itu. Dan sosok itu pun lenyap sebelum tertangkap dilensa matanya.


"Agggggrhhh... sialll !!!!" Pekiknya meraung raung menyedihkan.


Namun, tak berlangsung lama memori itu tiba-tiba terhenti bergerak, seolah olah terhentikan oleh mesin waktu.


Gio yang masih nampak menangis hanya  menatap bingung.


Tapi berbeda dengan Xiang yang malah tertawa kecil seakan baru saja melihat kolosial drama.


"Hahaha.. si tua bangka itu menyalahkan diriku setelah kepergian mamah, padahal ia tahu bahwa aku hanya menangis saat kejadian itu berlangsung dan kabut itu sama sekali tak berpengaruh dengan mama"


Gio mulai memandang xiang, tanganya merangkak naik mengusap surai hitam milik xiang, ia pun menatap seduh.


"Gio, apa sekarang kau kasihan padaku?? Ah.. tapi bukankah kau menikmati perilaku kejammu yang kau lakukan padaku" sinis Xiang menyentak tangan itu dari kepalanya.


"Maaf.." lirih gio tertunduk.


"Sudahlah.. aku malas berlama-lama disini bersama mu, ah lebih baik sekarang aku kembali, kak Bao pasti menunggu" seru Xiang kemudian lenyap dari pandangan.


Gio menatap nanar pungung xiang yang mulai memudar tertelan kegelapan. Ia merasa iri pada Bao yang tak lain adalah pelayan setia yang merawat Xiang. Bahkan ia merasa semua kewajibanya sebagai seorang kakak pun telah terhantikan oleh pelanyan itu. Hingga akhirnya adik bungsunya lebih bergantung pada pelayan itu daripada dirinya.


"Mahh.. maaf, gio gagal menjadi kak yang baik untuk adik bungsu gio.." lirihnya terduduk di lantai. Tubuhnya terasa tak bertulang saat mengingat memori tentang kejadian tadi. Dan sekarang yang ada dihatinya hanya penyesalan.


______-______


Sebelumnya...


Kembali ke Xiang...


Aku tengah berada diruang dimensiku lebih tepatnya terduduk diatas batu hitam besar seraya mencoba memusatkan kembali pikiranku, mataku yang tengah terpejam tanpa sengaja memutar memori ku terjadi sebelumnya.


Dan entah mengapa diriku merasakan sesuatu yang ganjil.


Perlahan aku meneliti setiap kejadian yang terjadi sebelumnya.


Namun hasilnya nihil.


Aggrrhhh.." geramku kesal, kenapa disaat seperti ini aku harus merasakan sesuatu yang terasa ganjil. Kenapa gak kemarin-kemarin aja.

__ADS_1


Plak..


Kutampar pipiku sendiri mengunakan kedua tanganku dengan sengaja. Dengan itu aku pun tersadar dengan tujuanku awalku.


"Ini bukan saatnya mencari hal ganjil itu, Xiang. Kini waktunya meditasi agar kau mendapatkan memorimu kembali. Dan aku tak ingin hidup tanpa sebuah ingatan, walau ingatan itu adalah ingatan terburukmu.." tekad ku mencoba kembali bermeditasi.


Mata xiang kembali terbuka, namun ia sudah ada tempat lain. Matanya pun disuguhkan dengan indahnya bunga sakura yang terhampar luas.


"Ah.. putriku kau datang.." sapa  wanita cantik yang rupanya hampir mirip denganku.


Aku yang mendengar itu sontak menoleh.


"Aku yakin kau adalah ibunda permaisuri bukan" balasku kemudian memberi hormat.


"Hahaha.. kau benar nak..


dan kau adalah Ahisma, anakku yang berasal dari masa depan.."


"Apa maksud mu??" Tanya ku masih tak paham dengan ucapannya.


"Hahaha.. kau telah datang hisma, aku tak menyangka kita akan bertemu, adik.." sela gadis cantik yang rupanya mirip sekali dengan tubuh yang ku pakai saat ini. Aku yakin sekali bahwa ia adalah Lan Xiang, lebih tepatnya arwah lan xiang. Tapi kenapa dia memanggilku  adik?


"Tunggu apa maksud kalian?? Anak? Adik?? Aku tak paham!! Lagi pula aku berasal dari masa depan dan saat ini sudah ratusan abad yang lalu.." pekikku meminta penjelasan.


"Ah.. kau memang tak tahu soal ini his, dan asal kau tahu. Aku ini juga tak tahu sebelumnya.. tapi mamah menjelaskan padaku soal dirimu. Jadi minta penjelasan mama saja.."


Bukanya menjawab, wanita itu malah menyengir dan terkikik geli.


"Hehe.. tahu gak mamah lagi ketemu sama anak mamah yang lain.."


"Ha? Apa maksudnya??" Tanyaku dan Xiang asli bersamaan.


"Iya, tahu Gio kan. Kakak pertama kalian.."


Dua ekspresi berbeda dan bertolakan pun nampak jelas. Aku dengan ekspresi malas dan datar sedangkan xiang asli dengan Excited mengangguk senang. Kemudian aku pun ikut menganguk dengan malas.


"Nah mamah lagi ketemu sama gio, tahu gak ekspresinya lucu banget, ishh.. mama gemes jadi inget dulu waktu kecil!! Tapi tenang aja kalian juga bakal ketemu kok.. tapi sabar dan harus gantian."


"Ah.. gak sabar mahh!!" Pekik Xiang asli girang.


"Aku malas, jadi gak usah mah.. biar Xiang aja"


"No.. kamu harus ketemu kakakmu!!" Seru Xixi melotot.

__ADS_1


"Terserah lah mah, lagi males debat. Oh ya mamah belum jelasin tentang kenapa aku bisa jadi anak mama?? Atau jangan bilang karna aku masuk raga Xiang jadi mama nganggep aku anak mama??"


"Hemm.. gak kok, kamu itu beneran anak kandung mama.."


"Mah, jangan bilang mamah selingkuh trus hamil, habis sembilan bulan sepuluh hari melahirkan bayi, kemudian bayi itu dibuang dan ternyata itu aku" potongku berujar dramatis seperti yang ada di sinetron emak-emak.


Pletakk...


Sebuah pukulan melayang ke kepalaku dengan begitu kejamnya


"Aaawwhh.. sakit mah!! "


"Lagian kamu sih, ngarangnya keterlaluan.. masa iya mama mu yang cantik dan setia ini dibilang selingkuh mana ada!! Bahkan deket pria lain aja alamat dibunuh tuh sama ayah kalian"


"Mamah yang dibunuh??"


Pletakk


Sebuah pukulan kedua kembali mendarat dikepalaku.


"Mamah ih, ini sakit. Malah diulang lagi!!" Ujarku tak triama seraya mengelus pelan bekas pukulan itu.


"Salah kamu sendiri!! Lagian Mana mungkin ayahmu tega membunuh istri tercintanya ini" ujarnya bangga.


"Bisa aja tuh kalo khilaf" gumamku lirih.


Mendengar itu Xixi pun menatap tajam kearahku. Aku pun hanya menyengir kuda melihat itu.


Sedangkan Xiang asli yang diam menyimak hanya tertawa kecil melihat perbincangan itu. Ah.. ia nampak lebih angun dan berwibawa dari pada kedua wanita dan gadis itu.


"Sudahlah, aku tak ingin ribut lagi.. jadi critanya gini..."


______-______


Bersambung horee😎


Dadah..


Sampai jumpa di part selanjutnya..🙋‍♀️🙋‍♀️


Jangan lupa like plus coment dukunganya😉


Kalo mau kasih poin atau koin pun boleh banget 😂🤣 gak maksa kok👉👈

__ADS_1


Udah lah...


See you😗😍😊


__ADS_2