
"Kalau begitu masukan saja dalam tasku kak, karna aku tak mungkin keluar masuk dimensi disembarangan tempat" bao hanya menangguk pelan menyetujui ucapan xiang.
"Ya sudah aku pamit keluar, mau cari udara yang lebih sejuk.. jangan cari aku ya kak, nanti kalo udah puas langsung balik kok!!" pekik ku berlari lalu melompati dinding pagar istana dengan gesit.
Suara bao yang akan keluar langsung tercekat terhenti ditengah jalan. Mulutnya pun mulai ia katupkan kembali. Kepalanya pun hanya mengeleng pelan kemudian melanjutkan jalannya.
____""_""____
Xiang tengah berada didalam hutan bagian timur, hutan itu baru beberapa kali ia masuki dan rasa penasarannya akan misteri yang pernah ia dengar membuatnya nekat untuk memasuki hutan timur itu lagi.
Flash back..
Saat itu aku tengah berjalan-jalan disebuah desa dipinggir pusat kota kerajaan lan.
"Desa apa ini? Kok rasa nya ada yang aneh" mataku mulai waspada menatap area sekeliling. Ada segelintir orang desa yang tengah berjalan tanpa menghiraukan keberadaanku yang tenag menatap mereka semua.
Hingga saat aku mulai melamunkan kejadian yang apa sebenarnya terjadi, sebuah tangan tiba-tiba menempuk bahunya pelan. Membuat xiang sontak melatah kaget.
"Maaf nona, apa yang nona lakukan disini" sopan pria baru baya berpakaian layaknya seorang petani.
"Eh.. itu, saya cuma jalan-jalan tanpa sengaja melihat desa ini, tapi saya rasa ada yang aneh didesa ini. Apa anda tahu penyebabnya??" Pria baru baya itu hanya tersenyum sopan dan menganggukan kepalannya pelan saat mendengar ucapanku.
"Nona sebaiknya anda ikut saya terlebih dahulu. Ada sesuatu yang akan saya sampaikan pada nona, tapi tak sopan jikalau saya menyampaikannya disini."
Entah ada apa denganku, aku serasa terhipnotis dengan ucapannya. Rasa waspada yang ada didiriku lenyap seketika dan tanpa ragu mengikuti langkahnya hingga akhirnya terhenti disebuah gubuk beratap jerami dengan dinding kayu yang nampak sedikit rapuh.
"Nona ini gubuk saya, maaf karena gubuk saya tak seindah dan sekokoh kediaman nona.."
Aku pun tersenyum lembut "anda terlalu berlebihan, walaupun saya memiliki kediaman indah pun tak ada gunanya jikalau disana bukanlah kebahagian yang saya dapatkan."
"Nona bersabarlah, semua ada waktunya.. ah sebelumnya mari masuk nona.." aku pun berjalan masuk.
"Nona duduklah terlebih dahulu, saya ingin kebelakang mengambil air untuk nona,"
"Anda tak perlu repot repot.." balasku mendapatkan gelengan pelan dari pria paru baya itu.
"Saya tak merasa direpotkan nona, duduklah.. saya pamit kebelakang dulu.." terpaksa aku menganguk dan mendaratkan pantatku ke kursi panjang yang telah tersedia.
"Mari minum dulu, maaf saya hanya bisa memberikan air putih saja untuk minuman nona.." ujarnya setelah kembali dengan nampan berisikan segelas ait dari bambu kuning.
__ADS_1
"Ini sudah cukup untuk saya, trimakasih.." perlahan aku mengambil gelas itu dan mendekatkannya pada bibirku. Ku esap perlahan dan merasakan sesuatu yang aneh dilidahku.
"Maaf nona, saya akan menceritakannya dengan cara saya sendiri.." ucapnya terdengar sayup sayup ditelingaku sebelum aku benar-benar terlelap.
Sebuah tepukan mendatar dibahuku, aku yang merasa terlelap sedikit terganggu dengan tepukan itu.
"Nona bangunlah.. saya akan menceritakannya.." suara lirih seorang pria paru baya terdengar mengalun indah ditelingaku. Bagaikan mantra pembangun tidur aku pun mulai merejab mata pelan.
"Emmghh.." lenguhku mengucek mata malas.
"Nona, lihatlah.." ia menunjukan sebuah hutan yang sepertinya berbatasan langsung dengan gubuknya.
Mataku mengikuti arahanya, karena semua masih terasa buram aku mencoba mengucek-ngucek dan melebarkan pandanganku lagi hingga semua menjadi jelas.
"Hutan itu adalah hutan bagian timur kerajaan Lan, dikuasai hawa gelap dan berada dicengkaraman raja kegelapan, dark king Drazi."
"Tapi tenang saja, walau begitu hutan bagian timur tidak akan berbahaya untuk penduduk disekitarnya. Hanya saja dilarang keluar jika matahari mulai tenggelam. Itu karena saat matahari tenggelam maka penghuni hutan akan melakukan aktivitasnya."
"Lalu apa yang terjadi jika melanggar larangan itu??" Tanyaku mulai penasaran.
"Nyawa adalah taruhannya.. "
"Tentu, saya akan menujukan hal terpenting dihutan ini. Karna sesungguhnya hutan ini adalah milik nona" ujarnya membuatku mengerutkan dahi bingung.
"Maksudnya??"
"Marii.. " ujarnya berjalan memasuki hutan tanpa memerdulikan pertanyaanku.
Aku hanya mengikutinya tanpa menentang, sungguh ini pertama kalinya aku berjalan-jalan tanpa raga saat memasuki hutan yang penuh kegelapan yang membuatku agak merinding.
"Maksud anda apa tadi??" Tanyaku lagi mencoba menghilangkan keheningan yang agak menyeramkan.
Pria paru baya itu hanya tersenyum tanpa menghentikan langkahnya. Hingga akhirnya disebuah gua ia berhenti dan berbalik arah menatapku.
"Apa yang nona rasakan sekarang?? Apa masih sama seperti awal nona masuk??"
Aku terdiam, perlahan melangkah mendekati gua itu dan mencoba menyentuhnya.. sayangnya semua itu tak mampu ku sentuh. Ah.. aku lupa bahwa ragaku terpisah dengan jiwaku.
"Rasanya nyaman, hangat, dan familiar sekali.." jawabku masih enggan mengalihakan pandangan pada gua itu.
__ADS_1
Ia tersenyum, "mari kita kembali, waktu hendak menjelang pagi.. sebaiknya nona segerah kembali sebelum ada yang menyadarinya"
"Tapi..??"
"Disini sebagian kekuatan cahaya disimpan. Nona bisa kembali dengan raga nona lain hari. Dan tugas nona mengambil hak nona dan membawa cahaya kehutan ini, marii.." tepukan bahu kembali kurasa. Pandanganku pun kembali memburam hingga semua gelap.
Flash back off..
____-__-____
Xiang sudah berhadapan langsung dengan hutan bagian timur. Matanya menelisik mencari gubuk yang pernah ia singgahi tapi nyatanya gubuk itu sama sekali tidak ada. Hanya tumpukan kayu yang ada disana.
"Apakah yang kemarin itu hanya ilusi?? Lalu siapa pria paru baya yang kutemui?" Monolog xiang menatap gelapnya hutan.
Tapi siapa sangka ditengah gelapanya hutan sosok bermata merah tengah mengintai pergerakannya.
"Nanti dulu, ah.. aku lupa ini kan malam hari, jadi para penghuni hutan tengah beraktivitas" ujarnya tertunduk saat merasakan sesuatu yang sepertinya tengah mengitai pergerakan yang dilakukan.
"Heyy, aku tahu kalian tengah mengintai ku. Jadi keluarlah.. aku ingin tahu bentuk kalian" teriak xiang ditengah keheningan.
"Kalau tak ingin keluar baiklah, aku yang akan pergi. Dah.." xiang membalikan tubuhnya dan berjalan menjauhi hutan.
Tapi sebuah sepoi angin melesat cepat membuat goresan luka dipipi putih xiang.
"Sudah keluar.." ujar xiang menatap sosok yang ada didepannya. Tangannya mencoba mengusap darah yang mengalir pipinya, diesaplah darah itu pelan.
"Bentuk kalian buruk, buruk sekali.. apa ini bentuk asli kalian? Atau hanya karena aura gelap yang kalian serap?" Sinisnya menatap sosok dihadapannya tajam.
"Ayo bermain.. tapi tenang saja katanya kalian itu hakku, jadi aku tak mungkin membunuh kalian" seringai xiang terangkat seraya mengeluarkan eleman petir dikedua tangannya.
.........
Bersambung😊
Like like like plisss😔
Kalo dapet 30 langsung tancap gas next ditunggu oke😂
Jan lupa voment pendukungnya dadah....
__ADS_1