
Brakkk!!
Pintu besar itu kembali tertutup dengan keras.
Reo yang melihat itu langsung mengumpat kasar kemudian meninggalkan kediaman Xiang dengan emosi yang memuncak.
"Awas kau pembunuh, aku tak akan membiarkan kau mersakan kebahagia. Karna aku akan mengambil satu demi satu orang-orang yang kau sayangi itu. Karna aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan sampai sekarang" gumam Reo penuh emosi, tanganya sudah gatal ingin sekali membunuh satu persatu pelayan dan pengawal setia milik Xiang tanpa mengetahui siapa mereka sebenarnya.
____-____
Didalam kediaman Xiang..
"Ada apasih dari tadi?? Kenapa kalian ribut? Berisik tahu!! Masa pulang-pulang malah disuguhi suara berisik kalian" ketusku menatap sebal mereka semua.
"Sejak kapan kau kembali??" Tanya Drago kembali datar tanpa menjawab pekataan yang ku lontarkan.
"Baru aja, trus belum buka mata aja udah brisik, nganggu banget tahu gak?!"
"Maaf Xiang'er. Tadi pangeran Reo datang ingin bertemu anda, tapi karna anda tak ada dikediaman kami berusaha menahannya. Dan karena itu munculah keributan" terang Bao tertunduk.
Aku hanya menghela napas pelan,
Sepertinya Gio sudah menceritakan semua mimpinya pada Reo."batinku bermonolog.
"Sebenarnya ada apa?? Kenapa pangeran Reo ingin datang menemui anda dan mengatakan bahwa crita tentang mimpi Gio ada hubunganya dengan anda?"
"ah.. dugaanku benar"
"maksudnya??" tanya mereka bingung.
"Emm.. gimana ya, sebenarnya critanya panjang kak, dan malas menceritakannya secara rinci. Jadi gini masalah itu sejujurnya memang ada hubungannya dengan ku. Karna Gio juga bermimpi tentang memori yang mengisahkan bagaimana mamah terbunuh." Kuhentikan ucapanku dan kembali menarik napas kemudian membuangnya perlahan.
"lalu disana semua kejadian ditayangkan.. dan terbongkarlah kesalah pahaman itu, perkiraanku Reo tak trima jikalau Gio kini berpihak padaku. Entahlah sebenarnya aku pun sedikit bingung, kenapa sebegitu bencinya Reo padaku. Tapi kalo dipikir lagi, Sa..bodohlah itu hak dia"
"Jadi begitu, ya sudahlah dia itu gak penting. Kalau buat masalah tinggal tangannin aja" sahut Phoenik.
Aku hanya mengganguk mengiyakan ucapannya.
"Emm.. ya, dimana Ao dan Vamp sedari tadi aku tak melihatnya??"
"Mereka sedang bermain bersama disalah satu taman istana" balas Bao tersenyum.
"Di taman mana? Aku ingin kesana!!"
"Taman belakang, dekat perbatasan istana dengan hutan selatan"
"Baiklah, aku pergi dulu.. kalian terserah mau ngapain asalkan jangan aneh-aneh" pekikku berlari keluar meninggalkan mereka dikediamannya.
"Mirip sekali dengan anak-anak.." cibir Drago yang diangguki oleh yang lain.
__ADS_1
_____-_____
"Ao, Vamp aku datang!!" Panggil ku keras membuat mereka yang tengah bermain sontak mencari sumber suara.
"Ckk.. gangguin aja, kukira orang gila yang berteriak ternyata yang datang lebih gila dari pada orang gila" cibir Ao membuatku sebal.
"Bodo amat sih, blekk" sahutku menjulur lidah.
"Udah-udah kebiasaan kalo ketemu pasti ribut, kalo gk ketemu tanya satu sama lain. Dasar kalian emang gila semua" sela Vamp membuat keduanya saling membuang muka.
"Huh !! Siapa yang kangen tupai got kayak dia"
"Siapa juga yang kangen orang gila kayak dia"
Seru xiang bersamaan dengan Ao.
"Cie kompak banget nih ye.." ledek Vamp terkekeh.
"Aauuh ah gelap" dengusku memutar mata malas mendengar ledekan Vamp.
"Ah ya aku mau jalan-jalan kehutan itu" kutunjukan hutan selatan yang berbatasan langsung dengan taman istanah ini.
"Ada yang mau iku??"
"Buat apa?? Buang-buang waktu" balas Ao kemudian meninggalkan taman ini.
"Yaudah sih, kalo gak mau.." teriakku membalas ucapannya.
"Kenapa kakak tahu kalo aku akan membunuh seseorang jikalau mencium bau darah?? Kayaknya aku belum pernah cerita" Tanya Vamp polos.
Aku yang mendengar perkataan polos itu hanya tertawa kecil "bahkan kelemahan mu kakak tahu"
"Benarkah?? Lalu apa kelemahanku kak?" Tanya Vamp antusias
"Tentu aku tahu dan itu ada pada bagian jantung(tunjuk ku mengarah jantungnya) serta senjata perak, jadi apabila kau terkena pisau atau pedang yang terbuat dari perak maka tubuhmu akan terluka dan butuh waktu lama untuk kembali sembuh seperti semua. Tapi jika kau terluka oleh senjata yang terbuat dari logam biasa maka luka itu dapat langsung sembuh seketika, itu pun tergantung kekuatan regenerasimu."
"Ah.. sepertinya apa yang kakak katakan memang benar, karna dulu aku pernah melihat mereka saat membunuh kedua orang tuaku dan mereka mengunakan sebilah pedang perak kemudian menusuknya tepat pada bagian jantung ayah ibuku." ujar Vamp tertunduk sedih.
"Hey jangan sedih.." ujarku mencoba menghiburnya sambil mengusap kepala vamp pelan.
"Ah, bagaimana jika kau berhasil mengendalikannya kakak akan mengajarimu beberapa cara beladiri mengunakan mana, dan jika semua telah kau lalui maka mari kita membalaskan dendammu.. tapi satu yang perlu diingat, gunakan apa yang kau punya untuk kebaikan dan kebenaran.. oke" Aku tersenyum kemudian menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan yang membuatnya terlihat manis.
"Baik kak!!"
"Let's go ke dalam hutan" pekikku bersamaan dengan vamp, wajah sedihnya telah berubah menjadi raut antusias penuh semangat.
_______-_______
"Kak kita sudah berjalan jauh, lalu kita akan berhenti dimana??"
__ADS_1
"Ah kau sudah lelah Vamp?? Ayolah ini salah satu latihanmu, stamina mu akan semakin terlatih dan itu akan berpengaruh dengan kekuatan regenerasimu" terangku seraya melompat tinggi mengambil buah yang tergantung dipohonnya yang tengah berbuah banyak.
"Baiklah kak, aku akan menurut semua ucapanmu!" Serunya membuat ku tertawa.
"Mana ada harus menuruti ucapanku, trus jika aku nyuruhmu gantung diri gimana?? Apa kau akan melakukannya??" Balasku membuatnya terdiam.
diulurkan buah yang baru saja ku petik kearah Vamp berada "apa yang tadi kamu lakukan itu bagus, jadi jika kamu disuruh melakukan sesuatu, sebelum melakukannya kamu harus mengetahui tujuannya.. karna tak semua yang diperintahkan itu adalah suatu kebenaran yang harus dikerjakan, paham??" Ia mengangguk pelan, kakinya nampak bergetar karna kelelahan. Lagi-lagi aku tersenyum tipis melihatnya.
"Sepertinya kita sampai sini dulu, kau ternyata sudah kehabisan tenaga, dan ingat kau tak boleh memaksakan diri karna itu akan merusak tubuhmu secara perlahan" ujarku menasihatinya.
Tanganku mencoba menyentuh bahunya, mengalirkan sedikit mana bereleman cahaya untuk memulihkan tenaganya yang hampir habis itu.
"Sekarang bagaimana? Apa masih kuat berjalan?? Atau kita berteleportasi saja??"
"Tidak usah kak, dengan kak mengalirkan mana kakak aku merasa cukup kuat untuk berjalan pulang, jangankan berjalan berlari pun aku sanggup.." sahutnya membuatku tertawa geli. Ah kurasa hari ini aku banyak tersenyum atau tertawa deh.
"Mau balapan??"
"Siapa takut, tapi kakak gak boleh curang ya!!"
"Curang gimana??" Balasku menaikan sebelah alisku pura pura bingung dengan ucapanya.
"Gak boleh pakek teleportasi!! Gak boleh pakek mana!! Harus lari dengan kekuatan fisik kakak!"sahutnya membuatku cemberut.
"Kok gitu?"
"Kalo gak gitu aku kalah telak lah kak!!" Balasnya membuatku terkekeh lagi.
"Yaudah deh"
Satu
Dua
Tiga..
_____-_____
Bersambung..
_____-_____
maaf kalo dipart ini, atau part-part sebelumnya banyak banget mengunakan kata Ku dan Ku, soal crita ini mengambil sudut pandang Orang PERTAMA..
maaf banget ya kalo gak nyaman sama Kata KU yang terlalu banyak☺
kalo ada waktu senggang Author mau minta bantuan sama Editor(temen author) buat merevisi ulang..
_____-_____
__ADS_1
See you..