
Seorang prajurit berjalan melewati lorong-lorong istana dan berhenti didepan sebuah pintu kayu jati yang terbalutkan emas mulia. Pintu itu nampak indah dengan ukiran-ukiran kuno dengan gambar naga besar yang berada tepat ditengah pintu.
Perlahan prajurit itu mengetuk pelan pintu tersebut.
Tokk..
tokkk..
tokkk...
Suara ketukan pintu terdengar ditengah keheningan.
"Masuk!!" Balas seseorang dari dalam tegas.
______-______
Sang prajurit yang mendengarkan balasan itu pun membuka lebar pintu tersebut kemudian memasukinya.
"Salam hormat yang mulia kaisar Lan Bio.." hormat sang prajurit terduduk diatas lantai.
"Ya.. ada apa kau datang kemari?" Balas kaisar Lan Bio.
"Saya melaporkan bahwa panglima Kui Zio telah datang bersama tuan Putri Lan Xiang, mereka tengah menunggu kedatangan Yang Mulia di pintu Gapura istanah" jawab prajurit itu dengan tatapan yang masih sama.
"Baiklah suruh mereka masuk, dan jangan harap mendapat sambutan dari ku.." balasnya acuh, sungguh ia malas bertemu dengan putrinya apalagi jika harus menyambut kedatanganya.
"Tapi Yang Mulia.."
"Aku tak peduli, kau hanya tinggal mempersilahkan masuk dan perintahkan pelayan untuk membersihkan kediaman tapi jangan harap mendapatkan kediaman yang lebih pantas" cetus Kaisar Lan Bio memotong ucapan prajuritnya.
"Baik Yang Mulia, ucapan anda adalah perintah. Saya pamit undur diri" hormat sang prajurit sebelum berjalan keluar.
_______-_______
Disisi lain..
"Tuan, apa tubuhmu baik-baik saja??" Ujar seorang pria berpakaian hitam legam.
"Aku baik-baik saja" balas sosok lain yang tengah terduduk kursi kabasaranya.
"Tapi tuan, wajah anda nampak pucat. Dan beberapa Surai rambut anda mulai berubah warna.."
"Ah ini?!"tangannya mulai menggenggam rambutnya sendiri, mata tajamnya menatap helaian rambut yang ada di genggamannya. Nampak helaian rambut itu mulai memutih. Ia pun mengehela napas panjang.
"Aku tak menyangka jika mantra itu bisa membuatku seperti ini.." ujarnya menggenggam erat rambutnya.
"Sebaiknya anda tak mengunakan lagi tuan."
"Tidak!! Ini salah satu caraku agar bisa bertemu secara langsung dengannya!!" Cetusnya menatap tajam.
"Tapi tuan, itu sangat berbahaya.. dan itu berdampak langsung dengan raga anda.." tunduk sosok itu khawatir dengan junjungannya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, aku tak akan mati hanya karna mantra seperti ini" balasnya angkuh.
"Tapii..."
Tok..
tokk..
tok....
Suara ketukan pintu menghentikan ucapan itu. Pandang mereka mulai beralih kesebuah pintu besar.
"Masuk..!!"
Tap.. tap.. tap..
"Hormat hamba yang mulia.." sosok pengetuk pintu terduduk memberi hormat.
"Ya, apa yang ingin kau laporkan?"
"Hamba memberi kabar bahwa tuan putri Lan Xiang telah sampai dikerajaan Lan, dan hamba mendapat kabar bahwa Tuan putri masih diperlukan tidak baik oleh Kaisar Lan Bio." Jawab si pelapor lugas.
"Ahh.. sungguh menyebalkan, jika bukan karna ia adalah ayahnya mungkin aku sudah membunuhnya saat ini juga" geramnya mengepal.
"Memang apa yang dilakukan kaisar Lan Bio terhadap tuan putri Lan Xiang??" Tanya sosok berpakaian hitam itu menyela.
"Hamba mendengar bahwa Kaisar Lan Bio enggan menyabut kedatangan tuan putri, dan ditambah lagi dengan penempatan kediaman yang tak sepantasnya terhadap tuan putri." Balas si pelapor.
"Aggghhrr.. ku trima laporanmu, sekarang kembalilah dan pantau apa yang dilakukan bajing*n itu terhadap gadisku!!" Pintahnya membentak.
"Baik yang mulia.." sosok itu pun lenyap seketika tergantikan kabut asap yang masih tertinggalkan.
"Tuan sebaiknya anda beristirahatlah.. hamba tak ingin terjadi apa-apa terhadap raga anda.."
"Yayaya.. aku kan mengistirahatkan ragaku, sebaiknya kau pergi lakukan dan tugasmu dengan baik" ujarnya seraya berjalan pergi menuju ruang peristirahatannya.
"Baik tuan, ucapaan anda adalah perintah.." balas sosok hitam tertunduk kemudian pergi menghilang.
_______-_______
"Ah lama sekali.." cetus Xiang yang sedari tadi berdiri menunggu kedatangan sang prajurit.
"Mungkin ini karna akan diadakan penyambutan kedatangan tuan putri.." seru salah satu prajurit yang berjaga.
"Ah itu mustahil, mana mau si tua bangka itu menyambut kedatanganku.." sarkasku memutar mata malas.
"Sebaiknya tuan putri menjaga ucapaan anda, mungkin saja itu memang kebenarannya.." ujar Kui Zio memberi nasihat.
"Itu sungguh mustahil, dan aku berani taruhan.. lalu untuk ucapanku aku hanya berkata sebenarnya" balasku tersenyum miring saat melihat sang prajurit yang tengah berjalan mendekat.
"Kita lihat saja" bisik Ku pelan.
__ADS_1
"Selamat datang tuan putri, anda bisa langsung memasuki kediaman anda.. " cetus sang prajurit.
"bagaimana..??" lirihku berbisik. mereka pun terdiam tak menjawab ucapanku.
"Ahh.. baiklah, lagi pula aku sudah memperkirakan bila ini akan terjadi.. "ujarku meninggalkan mereka semua yang kemudian disusul oleh yang lain.
"Emm.. seharusnya tadi aku langsung masuk.." cetusku menyesal sambil berjalan menuju kediamanku sendiri.
"Ah sudahlah.. tak perlu dipikirkan, lagian si tua itu tak penting bukan.." balas Drago yang ada disamping.
"Kau benar drago.." ujarku tersenyum.
Semua telah pergi tinggal aku, drago, Phoenik dan vamp yang masih terduduk diranjangku. Sedangkan Bao tengah sibuk menyiapkan makanan.
"Sebaiknya aku masuk kedalam ruang dimensi untuk sementara waktu, sungguh bosan berdiam diri di kediaman sempit ini" ujarku yang kemudian mendapatkan anggukan dari drago dan Phoenik, sedang vamp dan Ao hanya diam menyimak.
"Menurut ku itu ide bagus lagi pula anda masih dalam tahapan rendah, dan yang kemarin tuan lakukan hanyalah pembukaan awal.." cerus Drago menerangkan.
"Aku setuju dengan ucapan naga bipolar ini, karna tuan tak bisa terus mengandalkan pedang itu atau pun kami.. karna tak selamanya kami disisi anda.." ujar Phoenik melanjutkan ucapan drago.
"Maksudnya??" Beoku bingung.
"Ya walaupun kami berdua selalu menjadi tameng tuan, tapi disaat terdesak anda tak mungkin menunggu kami bukan apalagi musuh akan menyerang jikalau anda tengah lengah maupun tak ada dijangkauan kami"
"Oke.. ucapan kalian memang benar, dan aku tak ingin menjadikan kalian tameng karna bagiku kalian sudah seperti saudaraku hehe.. biarkan aku mempelajari semua yang tersimpan disini(seraya menujuk dadaku) dan aku yang akan melindungi kalian.."
Bao yang membawa tatakan berisikan makanan tiba-tiba masuk kedalam tanpa mengetuk pintu.
Semua yang ada di dalam seketika beralih menatap tatakan yang ada ditangan Bao.
"Ah.. sudah siap nih makanannya.." cetusku beralih bahasan.
"Kak bao bawa sini ayo.." ujar Vamp dengan tatapan laparnya.
"Kalian sabar dulu, saya belum membawa semua makanannya.. masih banyak makanan yang tertinggal didapur." Balas Bao meletakan makanan tepat dimeja patri yang tersedia.
"Hey yang mau cepet makan sana bantu kak Bao!!"
Seketika semua berbergegas bangkit dan berjalan mengikuti langkah Bao.
"Kak kok kakak gak bantu?" Tanya Vamp yang tengah berhenti tepat disamping pintu.
"Gak dong, putri mah bebas.." balasku merebahkan tubuhku.
Mendengar itu semua hanya geleng-geleng dan melanjutkan langkahnya.
______-______
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak😉😄
__ADS_1