
"Udah kek gitu critanya.."
"Lah kok masih tanda tanya si mah? Siapa diriku yang sebenarnya??" Dengusku tak puas dengan apa yang diceritakannya.
"Orang kamu yang ngasih tahu cuma kek gitu kok, jangan salahin mama ya!" balasnya melipat kedua tangannya.
Huh.. aku pun mendengus sebal dan membuang muka kesamping.
Tapi entah kenapa tubuhku tiba-tiba aku masuk kedalam dimensi lain dimana memori kecil Xiang berada.
Disana ada Lan Xiang asli, ia mengajakku melihat memori kecilnya hingga akhirnya ia meninggal akibat benturan keras yang mengenai kepala belakangnya.
Aku yang melihat semua kejadian itu menjadi sedih dan geram.
Rasa benciku terhadap kedua kakak laki-lakiku dan ayah pun menumpuk. Entah apa yang ku lakukan besok jikalau aku sudah kembali. Yang jelas aku akan membuatnya merasakan apa yang saudara kembarku rasakan.
_____-_____
Sekarang aku keluar dari dimensi dimana memori Lan Xiang Asli diperlihatkan.
"Ah, mama belum tanya siapa namamu saat dimasa depan??"
"Namaku ahisma dwi fajarloka mah, biasa dipanggil hisma.." balasku menjawab pertanyaannya.
"Nama yang aneh.." cibirnya membuatku memberungut sebal.
"Mah jangan gitu dong, kasian hisma mama ledek terus.. lagian yang buat nama bukan hisma.. melainkan orang tua hisma dari masa depan" bela Xiang asli menengahi perdebatan yang tak akan ada selesainya.
"Aku setuju sama kakak.."
"Sudahlah males mama huh, sekarang siapkan dirimu Xiang, Gio akan memasuki memori mama yang terakhir dan tugasmu menunjukan jalannya.." seusainya berucap sebuah lingkaran menarik Xiang masuk kedalam. Dan Xiang menemui gio dalam wujud bocah berumur tujuh tahun.(ada dipart sebelumnya..)
"Oh ya mama lupa belom ngasih tahu kamu soal perbedaan waktu kalian datang"
"Maksud mama perbedaan Waktu datangnya aku dan Gio itu?"
"Iya.."
"Jadi??"
"Sebenarnya Gio datang lebih dulu dari pada kamu, dan ia akan kembali bangun dihari yang berbeda.. lebih tepat satu hari sebelum kamu datang"
"Jadi aku semacam datang ke hari kemarin??"
"Iya.. dan sekarang nyata Gio sebenarnya sudah bangun dan beraktifitas seperti biasa,
tapi nanti kau akan bertemu denganya secara langsung setelah Xiang kembali,
Huh!! entahlah mama sebenarnya agak bingung jelasinnya biar agak detail dan mudah dipahami"
"Udahlah mah, gak penting juga.. " seruku memutar mata malas saat membahasnya.
__ADS_1
Tak berlangsung lama Xiang asli kembali datang melalui pusaran lingkaran.
Kini tinggal aku, dan karna begitu malas aku masih terduduk tanpa berniat mendekati lingkaran itu.
"Cepat lah nak!!" Jengkel Xixi mendorongku dengan teganya.
"Mamah tega banget si!! Serasa anak angkat nih" cibirku saat berada didalam lingkaran itu.
Aku pun datang ke memori dimana semua kesengsaraan yang terjadi pada ku dan Xiang asli bermula.
Tapi yang membuatku sebal adalah harus bertemu dengan seseorang yang paling kuhindari yah walau dia itu saudaraku sih..
Udalah males bahasanya, intinya setelah memori berhenti aku pun meninggalkannya sendiri tanpa pamit atau menyapanya..
"Kau harus merasakan apa yang dirasakan saudara kembarku" sinisku dalam batin.
"Ah.. gimana pertemuan kalian?? Bukankah ini yang pertama kali??" Tanya Xiang Asli girang, entahlah ia terlalu baik atau gimana. Ck.. jadi inget betapa bodohnya diriku dulu.
"Sangat menyebalkan saat bertemu denganya.. lagian ia menganggap aku adalah kau, kak"
Mendengar itu Xiang asli hanya terkekeh manis, "bukankah itu memang ragaku.."
Aku pun memberengut sebal, yang malah mendapatkan tawa angun dari Xiang Asli.
"Gak mama gak kakak, sama aja suka ngeledek huh!" Dengusku memalingkan wajah.
"Ah ya dimana mama?? Kok aku balik enggak ada?" Kutolehkan menatap sekeliling saat menyadari bahwa mama tak ada ditempatnya.
"Gak tahu, tadi pamit pergi dan belum balik sampe sekarang"
"Ah.. kutarik perkataanku lagi" cibirku menyesal mengucapkannya.
"Dih, baper nak"
"Aau ah.. gelap, mending balik disini diledek terus.. beda gk kaya dikediamku disana mah dikangenin trus bisa ngeledek Bao sama Ao" jengkelku bangkit berdiri.
"Ulu ulu.. anak mamah yang bontot lagi jengkel nih.."
"Iya mah, gemes ya.. pengin nyubit deh"tambah Xiang Asli meledek.
"Cubit ginjal-cubit ginjal" lirihku mencibir.
"Eh ya.. nih mama dapet titipan tadi dari si itu" ujar Xixi mengeluarkan sebuah batu delima dengan pancaran cahaya mengelilinginya.
"Ha?? Itu siapa??" Bingungku seraya mengambil batu delima itu. namun mama hanya diam tak menjawab.
Slassshh..
Saat batu itu beralih kedalam tanganku, sebuah cahaya menyilaukan datang tiba-tiba. Batu itu seakan masuk kedalam tubuhku bersamaan dengan lenyapnya cahaya menyilaukan. Tubuhku terasa lebih ringan dan segar. Sebagian rambutku ikut berwarna merah. Dan saat mataku terbuka aku merasakan ada sesuatu didahiku.
Tanganku mencoba meraba, ternyata batu itu berpindah masuk kedalam dahiku. Tapi tak berlangsung lama dahiku kembali seperti semula, hanya dahi yang lain tetep sama gk berubah lagi.
__ADS_1
"Kau tahu tadi matamu ikut berubah merah loh.." ujar Xixi terpanah.
"Tak hanya itu wajahmu berubah 180° mama yakin itu wujudmu yang asli."
Aku hanya menyidikan bahu acuh, entahlah aku yakin sekarang tubuh ini sudah berubah seperti semula lagi, tak mungkin aku kembali dalam keadaan seperti itu. Mungkin hanya rambut saja yang sedikit berubah.
_____€-€______
"Gimana kabar tentang kutu kecil itu?" Sinis Cian menatap tajam sosok yang terduduk dibawahnya.
"Dia telah kembali kekediamannya, dan ternyata ia adalah putri Kaisar Lan Bio" balas sosok pria tergugu.
Mendengar itu Cian mengeram kesal,
grekkk!!
crakkkk!!
"Arrgghhhh..!!" Pekik pria itu tertunduk hingga menyentuh tanah. Tulang punggung terasa remuk karena pijakan keras yang Cian layangkan. Namun mulutnya tak berani mengentikan tindakan itu pada dirinya.
"Kau harus slalu mengawasinya, jangan sampai tertinggal info sedikit pun. Jangan lupa kirimkan pembunuh bayaran terkuat, aku ingin melihatnya mati mengenaskan karna sudah berani menantangku!! Mengerti?!"
"Tapi.."
"Tapi apa hah!!!" Bentak Cian keras.
"Sebagian dari kami telah terbunuh tanpa jejak, bahkan saya tak tahu siapa yang melakukan itu" lirihnya masih mengeram menahan sakit.
"Grrr.. sial!!"
"Sebaiknya nona tak usah barusan lagi dengan putri Lan Xiang, saya tak ingin nona terluka.."
Mata Cian menatap nyalang, ia menyetarakan tubuhnya kemudian menyapit wajah pria itu keras.
"Aku tak peduli akan hal itu, Ia harus mati mengenaskan ditanganku,"
"Dan kau harus menuruti ucapan ku atau semua keluargamu akan itu mati ditanganku" bisiknya lirih tepat ditelinga pria itu, namun terdengar menyeramkan.
"Sekarang pergilah !!"
Dengan terseok-seok ia berjalan keluar, tubuhnya masih terbengkuk tak berani berdiri tegak.
"Sial, ternyata dia juga seorang putri, pantas saja ia berani menantangku.. argghh.. awas kau, aku tak mengijinkanmu selamat dari gengamanku, kecuali kau mati mengenaskan ditanganku" gumamnya bertekad sebelum merebahkan tubuhnya.
____-____
Bersambung😄
Jangan lupa like ya guys..
Coment juga ya☺
__ADS_1
Poin atau koin pun boleh..
See you👋👋