
"Grrr.. sial!!"
"Sebaiknya nona tak usah berurusan lagi dengan putri Lan Xiang, saya tak ingin nona terluka.."
Mata Cian menatap nyalang, ia menyetarakan tubuhnya kemudian menyapit wajah pria itu keras.
"Aku tak peduli akan hal itu, Ia harus mati mengenaskan ditanganku,"
"Dan kau harus menuruti ucapan ku atau semua keluargamu akan itu mati ditanganku" bisiknya lirih tepat ditelinga pria itu, namun terdengar menyeramkan.
"Sekarang pergilah !!"
Dengan terseok-seok ia berjalan keluar, tubuhnya masih terbengkuk tak berani berdiri tegak.
"Sial, ternyata dia juga seorang putri, pantas saja ia berani menantangku.. argghh.. awas kau, aku tak mengijinkanmu selamat dari gengamanku, kecuali kau mati mengenaskan ditanganku" gumamnya bertekad sebelum merebahkan tubuhnya.
____-____
Disisi lain..
"Apa yang kalian dapatkan??" Datar seorang pria berpakaian kabasara disinggahsananya.
"Hormat hamba yang mulia,"
Seorang pria maju kedepan kemudian dengan penuh hormat memberi salam. Matanya tak berani menatap sosok yang ada disinggasana itu. Karna aura dan wibawanya begitu kuat membuat siapa pun tunduk dihadapanya.
"Laporkan tugas mu dalam setengah menit , dimulai dari sekarang" balasnya datar.
"Baik yang mulia.."
Ia pun mendekat kemudian membisikkan laporan yang telah didapatkan dengan cepat dan padat.
Sosok pria berpakaian kabasaranya hanya mengangguk saat mendengarkan ucapanya. Bibirnya menyeringai puas, dan ia menahan tawa saat mendengarnya.
"Baiklah.. kau bisa keluar, aku ingin sendiri terlebih dahulu."
Dengan hormat sosok pria itu pamit sebelum kepergianya.
"Ah.. aku tak menyaka, bahwa ia sebegitu hebatnya hingga mendapatkan permainan yang cukup menguras tenang bawahanku." Cetusnya sebelum fokus lagi pada berkas-berkas yang ada dimejanya.
______-______
Kembali pada Hisma..
"Aku hanya menatap cengong saat mengetahui keberadaanku sekarang. "
__ADS_1
"Bukannya aku masih ada didimensi lain bukan disini?? Dimana mama?? Kaka??" Mataku kembali berkeliling dan yang kudapatkan adalah dimensi milikku sendiri.
"Aggrrhhh!!" Jengkelku mengacak rambut asal. Aku belum pamit lagi, huh!! mau dicap anak dan adik apaan aku, ckk..
Udahlah.. sekarang aku mau kembali dulu.
____-____
Pov Author....
Dikediaman Xiang tengah terjadi sebuah keributan besar, seorang Pria dengan pakaian khas seorang Pangeran tengah berdecak pinggang menatap Bao dengan tatapan kesal.
"Awas kalian, aku ingin bertemu dengan Si pembunuh itu!!" Bentak Reo menatap kesal.
"Maaf pangeran, anda tidak diperbolehkan masuk, tuan putri sedang tidak ada dikediamannya" balas Bao dengan pandangan tertunduk.
"Aku tak peduli!! Aku harus bertemu dengannya!!"
Sementara Drago dan Phoenik hanya menatap jengah kearah Reo berada. Tubuhnya masih tersandar didinding pembatas. Wajah tak bersahabat sangat terlihat jelas di wajah keduanya.
"Maaf pangeran, lebih baik anda pergi dari kediaman ini. Tuan kami pasti sangat muak melihat wajah pangeran yang memang memuakan itu, jadi pergilah.." seru Drago memancing amarah Reo.
Dengan tatapan nyalang ia layangkan. " kau siapa ha?!! Beraninya kau mengataiku dan menyuruhku pergi!!"
"Aku hanya seorang pengawal Setia yang menjaga Putri Xiang dari segala bahaya yang mengancamnya termasuk dirimu, pangeran"
"Minggir gak ?!!"
"Sekali kami mengatakam tidak maka tak akan berubah kecuali tuan kami yang memintanya.." balas Phoenik ikut menyela.
"Aggrhh minggir!!!" Pekik Reo keras mencoba menyingkirkan Drago dan Phoenik yang menghadang.
"Kalian ada apa sih, kenapa ribut-ribut??!"
Semua pun mengalihkan perhatiannya, menatap sosok yang baru saja berbicara.
Melihat itu ia hanya menaikan sebelah alis matanya bingung.
"Hey..Jawab!! kok malah diem sih?!"
"Kak Gio sejak kapan ada disini??"
"Belum lama, lagian kenapa sih ribut, berisik tahu gakk!! Para pelayan pun tutup telinga mendengar perdebatan kalian, jadi, apa yang kalian ributkan??"
"Aku hanya ingin bertemu dengan Si pembunuh itu, tapi mereka melarangnya!" Jawab Reo menujuk kearah Bao, Drago dan Phoenik berada.
__ADS_1
"Hey, aku sudah bilang bahwa tuan kami sedang tidak dikediamanya!! Dan satu lagi kami tak ingin kalian masuk kekediaman tuan kami, apalagi untuk menyiksanya lagi!!" sahut Drago tak tahan dengan hinaan yang Reo lontarkan untuk Xiang yang tak lain tuannya.
"Iya !! aku pun tak menginjinkan kalian masuk, tak peduli lagi kalian ini siapa, karna bagiku cukup dulu kalian menyiksa tuan kami!!" Tambah Bao mengutarakan ketidak sukaanya.
"Lihat mereka kak!! Lihat !! Mereka telah merendahkan kita, padahal kasta mereka jauh lebih rendah dari pada kita. Dan lagi mereka pun juga terpengaruh oleh Pembunuh itu" cetus Reo nyalang suaranya meninggi dan matanya memerah mendengar itu.
"Bahkan kakak pun mulai terpengaruh. Yang kakak critakan itu hanya mimpi!! Dan kemungkinan itu salah satu cara agar kau mau berpihak padanya!!" Ujar Reo masih belum menerima semua yang diucapakan Gio. Ia menuduh Xiang melakukan sebuah Sihir atau mantra agar semua dipihaknya, dan ia berpikir bahwa mimpi yang diceritakan Gio merupakan salah satu tipu daya yang dilancarkan xiang.
"Apa kau sudah tak mempercayai ku, Reo??" Lirih Gio membuat Reo tergagap.
"Bukan- bu.. bukan begitu maksudku kak.." tunduk Reo menyesali ucapannya.
"Aku hanya.. tak ingin kau berbaik hati pada pembunuh itu.."
"Sudahlah.. jika kau tak mempercayai ku, aku tak masalah. Tapi aku harap kau tak menyesal" balas Gio sebelum melangkah meninggalkan mereka semua.
"Aagrrrhh.. sial kenapa sekarang kakak memihaknya!!!" Pekik Reo keras setelah melihat kepergian Gio dari pandanganya, ia merasa kecewa karna kakak yang sedari dulu mendukung nya kini malah memihak pada Xiang, yang telah dianggap musuhnya.
Krieettt...
Pintu besar kediaman Xiang terbuka , menampakan seorang gadis yang tengah menujukan ekspresi masamnya.
"Bisa gak, gak usah berisik dikediaman orang. Kalo mau berisik dikediaman sendiri sana, ganggu aja" serunya memutar mata jengah.
Reo yang mendengar itu langsung memincingkan matanya, wajah memerah ingin meluapkan amarahnya. Namun sebelum ucapan dan umpatan keluar.
"Sial*n !!!...."
"Kak Bao, Drago, Phoenik masuklah. Gak usah peduliin pangeran gila kaya dia" seru Xiang Memotong ucapan Reo,tanganya menarik tangan mereka dan berjalan masuk ke kediamannya tanpa memperdulikan umpatan yang dilontarkan Reo untuknya.
Brakkk!!
Pintu besar itu kembali tertutup dengan keras.
Reo yang melihat itu langsung mengumpat kasar kemudian meninggalkan kediaman Xiang dengan emosi yang memuncak.
"Awas kau pembunuh, aku tak akan membiarkan kau mersakan kebahagia. Karna aku akan mengambil satu demi satu orang-orang yang kau sayangi itu. Karna aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan sampai sekarang" gumam Reo penuh emosi, tanganya sudah gatal ingin sekali membunuh satu persatu pelayan dan pengawal setia milik Xiang tanpa mengetahui siapa mereka sebenarnya.
____-____
Haha.. dah bersambung lagi nih..
Karna author lagi semangat nih, jadi up hari ini. Padahal tugas sekolah lagi numpuk numpuknya huhu😭😢 tapi lagi gk minat ngerjain jadi nyeleweng ke ngelanjutin crita ini☺
Moga pada suka dan menikmati critanya..🙄😶
__ADS_1
Makasihh..
See you👋👋