
Setelah hari itu, semua berjalan normal seperti biasa.
Tak ada lagi salam sapa yang terucap saat Xiang bertemu dengan Kaisar Lan Bio maupun kakak keduanya. Tapi Xiang sama sekali cuek tak pikir pusing, emm.. bukannya dari dulu memang seperti itu.
Berbeda dengan Gio, ia nampak berusaha mendekati adik bungsunya, walau selalu mendapatkan penolakan keras tapi ia tak peduli dan terus berusaha. Baginya semua yang dia lakukan sekarang masih belum sepadan dengan semua penyiksaan yang telah ia torehkan.
Tapi disisi lain ia mulai menghindar dari ayah dan adik keduanya. Entah mengapa ia selalu merasa muak saat melihat wajah reo berserta bibirnya yang selalu mengeluarkan kalimat ejekan yang tertuju untuk Xiang.
_____-_____
Dan saat ini tinggal menunggu hari dimana perlombaan akan diadakan. Xiang dibantu dengan Bao menata persiapan yang akan dibawa ke istana kekaisaran bulan.
"Kak bao apa kau sudah memasukan semua barang yang sudahku dituliskan??"
"Hampir semua, Xiang'er. Hanya tinggal beberapa yang belum dimasukan." Balas Bao masih sibuk mengepak keperluan yang dibutuhkan.
"Kalo gitu aku pamit ke hutan selatan, Vamp pasti sudah menunggu kedatanganku.. aku tinggal ya kak"
"Baiklah, berhati-hatilah dijalan!! Biarlah saya yang akan menyelesaikan pekerjaan ini"
"Makasih ya kak, aku pamit.. dah" dengan sigap Xiang mengambil tas kain berisikan makanan dari atas meja. Kaki nya berjalan riang keluar dari kekediaman ingin menuju taman belakang istana terlebih.
Tapi baru saja kakinya menginjak lorong istana, matanya menangkap penampakan yang ia hindari, siapa lagi kalau bukan Reo.
"Mau pergi kemana kau pembunuh" sinis Reo membuat Xiang memandangnya jengah. Mulutnya masih terdiam tak membalas ucapan tak bermutu itu, kakinya engan berhenti dan memilih berjalan meninggalkan reo seorang diri.
"Apa kau tak punya telinga he!!" Seru Reo membalikan tubuhnya, matanya menatap remeh punggung belakang Xiang.
Mendengar itu membuat Xiang ikut berbalik dan membalas tatapan itu tajam. Senyum seringai melebar.
"Apa kau tak nampak telingaku, R.E.O?? Kau tanya aku punya telinga atau tidak?? Apa perlu kutunjukan dimana telinga ku" balas Xiang memberi kesan mengejek disetiap katanya.
__ADS_1
"Ahh.. apakah Reo, kakak keduaku yang paling membenciku ini tak mampu melihat dengan jelas?? Apa perlu kubuatkan kaca mata tebal untukmu?" Sambungnya membalas tatapan remeh itu. Tak tahan dengan jawaban itu Reo langsung melengos pergi membawa amarah yang masih terpendam dihatinya.
"Upps..apa ucapan ku terlalu ramah?? sampai-sampai lawan bicaraku kabur tak tahan dengan ucapan ramahku ini hahaha" tawa Xiang mengelegar saat menatap kepergian Reo dengan wajah manahan amarah.
Xiang pun melangkahkan kakinya melanjutkan jalannya. Setelah sampai ditaman, tanpa basa-basi ia mengeluarkan eleman angin yang biasa dipakai untuk menyelimuti kedua kakinya. Dengan langkah bagai sepoi angin Xiang sampai tujuannya dengan hitungan menit.
"Hai, vamp sudah kubilang jangan memaksa tubuhmu. Sekarang beristirahatlah..!" Seru Xiang setelah menetralkan mananya lalu berjalan mendekati rumah kayu yang sudah satu bulan ia buat dengan mana bereleman tumbuhan.
Rumah kayu itu tampak cantik alami, dengan dedaunan kecil yang hidup menempel pada dinding kayu, selain itu banyak tumbuhan hias merambat yang menjutai beraturan menambah kesan sejuk setiap mata memandangnya.
Mendengar suara itu membuat Vamp menoleh kesumber suara kemudian mendapati sosok gadis yang telah dianggap kakaknya sendiri, ia pun dengan segera menghentikan latihannya.
Hanfu biru tua yang terpadukan dengan kain dasar putihnya kini dibasahi keringat yang menetes keluar dari kulitnya putih pucat. Tanganya mengusap keringat dahinya pelan.
"Kak, apa kakak jadi meninggalkan kerajaan Lan untuk perlombaan itu" Vamp mendekat, Xiang hanya menoleh sebentar dan masih sibuk mengeluarkan makanan yang dibawa didalam tas kainnya.
"Tentu saja, lagian kak memang diharuskan mengikutinya. Nih makan, tadi kak Bao udah buat banyak untuk kita"
Setelah berhasil menelan makanannya, vamp mulai bertanya"Jadi selama kak pergi apakah vamp ikut?"
"Kalo mau ikut gimana dengan latihanmu? Kau ingin menundanya??"
"Latihan ya??" Vamp terdiam sebentar dan mengetuk-ngetuk meja yang terdapat didepannya pelan.
Tuk.. tukk.. tukkk..
"Sebenarnya Vamp masih ingin latihan agar cepat bisa mengendalikan diri, tapi Vamp bosan juga dan ingin pergi melihat perlombaan kakak"
Xiang menganguk-anggukan kepalanya pelan. Mulutnya yang masih penuh dengan sudah payah ia segera menelannya bulat-bulat.
"Kalau begitu ikutlah, besok kita berangkat. Jadi setelah kau menyelesaikan latihan hari ini kita langsung pulang dan menyiapkan keperluan yang ingin kau bawa"
__ADS_1
"Baiklah, vamp ingin melanjutkan latihannya dulu. Kakak beristirahatlah nanti kalo latihan vamp selesai vamp akan membangunkan kakak" balas Vamp antusias matanya berbinar binar mendengar jawaban Xiang.
Tangannya sigap menyaut gelas berisikan air susu yang dibawa Xiang. Dan menegaknya sampai habis.
_____-_____
"Vamp apa keperluanmu telah disiapkan semua!!" Pekikku berdecak pinggang menatap jengah kearah bocah yang kini dengan santainya berbaring diranjang.
"Sudahlah kak, tenang aja. Bawaan vamp gk banyak seperti apa yang kakak bawa"
"Idih.. aku bawa banyak buat keperluan kita juga kali. Lagian sebagian besar sudah kumasukan dalam ruang dimensi." Balasku jengkel dengan ucapannya.
"Ah ya kak emang kita berangkat kapan?? Jam berapa??"
"Besok pagi-pagi sekitaran jam 03.00 dan diperkiraan akan sampai ditujuan pukul lima sore."
Setelah itu Xiang bangkit dan melenggang pergi meninggalkan Vamp seorang diri.
"Xiang'er kenapa anda keluar dari kediaman?? ini sudah larut malam dan udara malam tidak baik buat tibuh anda" aku yang mendengar itu sontak membalikan tubuhku, mendapati Bao yang tengah menenteng sesuatu ditangannya.
"Apa yang ada ditanganmu?" Tanyaku tak menghiraukan ucapannya.
"Ahh.. ini hanya beberapa obat yang baru saja saya kumpulkan buat persiapan besok pagi." Balas Bao tersenyum menatap bermacam tanaman yang ia bawa.
"Kalau begitu masukan saja dalam tasku kak, karna aku tak mungkin keluar masuk dimensi disembarangan tempat" bao hanya menangguk pelan menyetujui ucapan xiang.
"Ya sudah aku pamit keluar, mau cari udara yang lebih sejuk.. jangan cari aku ya kak, nanti kalo udah puas langsung balik kok!!" pekik ku berlari lalu melompati dinding pagar istana dengan gesit.
Suara bao yang akan keluar langsung tercekat terhenti ditengah jalan. Mulutnya pun mulai ia katupkan kembali. Kepalanya pun hanya mengeleng pelan kemudian melanjutkan jalannya.
____"_"____
__ADS_1
Bersambung😊