Reîncarnarea În Trecut

Reîncarnarea În Trecut
tiga puluh


__ADS_3

"Ah.. gimana kalo Xiang? Lan Xiang?? Mau??"


Bayi itu seperti membalasnya dengan diam tanpa protes. Melihat itu membuat Xixi berpikir bila anaknya menyetujui nama itu, dengan tersenyum lembar xixi berucap " baiklah putri mama yang cantik ini bernama Lan Xiang, ahh.. kau cantik banget si nak. Kek mahh.." kekehnya tertawa geli mendengar pujian yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri.


Matanya kini beralih kembali pada bayi yang ada didekapannya. Melihat bayi itu terlelap membuat Xiang tersenyum kembali, perlahan ia bangkit dan meletakan bayinya diranjang kecil yang entah kapan ia letakan dikediamannya.


"Tidur yang lelap putri kecil mamah.. "


Cup..


______-______


Ditengah keheningan malam sesosok hitam kembali muncul dari sebuah kabut  hitam yang ia buat , seringaian kejam nya nampak begitu jelas karna terpaan cahaya bulan purnama, ia masih berdiri disisi dimana jendela besar berada.


Matanya menatap tajam kearah ranjang kecil yang didalamnya terdapat bayi mungil yang sudah terbangun tanpa suara.


"Ahh.. jujur saja aku tahu kau sudah bangun, namun kau hanya diam karna tak mampu melakukan apa apa bayi kecil." Kekehnya datar melesat cepat kesamping ranjang itu.


Bayi itu masih terdiam sambil menatap remeh sosok didepannya.


Namun hal itu lagi-lagi dibalas dengan kekeh datar.


"Sebenarnya aku ingin bermain main dengan para prajurit yang tengah tertidur malas itu, tapi aku tak ingin membuat keributan. Maka dari itu kau harus diam dalam menemui mautmu bayi kecil. Kalau kau menangis maka kau membangunkan semua orang, dan itu membuat nyawa tak berdosa lainnya itu lenyap" ujarnya seraya mengeluarkan mana gelap dari tanganya. Mana itu dikeluarkan dalam bentuk sebuah pedang tajam yang dapat membelah atau menusuk apapun yang menghalanginya.


Namun hal itu tak membuat sang bayi ketakutan, bayi itu malah tertawa dengan suara khasnya. Ah.. sebelumnya ia belum pernah tertawa,


Tapi tak sengaja tawa itu membuat wanita yang tertidur diranjang sebelahnya terusik dan mencoba membuka matanya.


Ia tersentak mendengar tawa anak kecil yang tak lain putrinya, namun ada yang lebih membuatnya tersentak itu adalah sosok pria yang tengah berdiri diranjang putrinya.


"Aku yakin Dia bukan Bio,tapi siapa dia? Dan kenapa ia mengunakan mana gelap untuk membuat pedang setajam itu" batin Xixi berpikir, matanya masih mencoba memantau. Ada perasaan buruk yang menganjal hati.


"Apakah dia ingin membunuh putriku?!" Pekik xixi dalam batin saat melihat pedang itu diarahkan ke putrinya.


Pedang itu diangkat tinggi lalu diarahkan tepat pada jantung sang bayi, melihat itu Xixi memincing matanya dan segerah mengeluarkan mana yang masih bisa ia gunakan.


Plasshh...


Mana bereleman air melesat cepat mendorong pedang itu hingga terjatuh kelantai.


"Wah ternyata kau sudah bertindak, xixi. Kukira kau akan terus menyaksikanku saat pembunuhan  anakmu berlangsung." Datarnya mengarahkan matanya pada sosok wanita yang tengah berdiri dengan pandangan marah.


"Tak ada seorang ibu, yang tega melihat anaknya mati didepan matanya. Apalagi hanya berdiam demi menyelamatkan dirinya sendiri" balas xixi pedas.


"Yayaya.. terserah"


Plashhhhh...


Sebuah elemen gelap dilancarkan pada wanita yang tengah berdiri.

__ADS_1


Sedangkan sang wanita masih berdiri tegak mengunakan elemen airnya sebagai tameng.


"Ah.. ternyata kau masih sekuat dulu, xixi. Tapi apakah kau bisa melawanku dalam keadaan lemah seperti ini, ah jadi aku kasihan padamu."


"Aku tak peduli dengan diri ku sendiri, karna hidup anak ku lebih penting dari pada diriku." Balas xixi menyeringai kemudian melemparkan mana bereleman petir kearah sosok itu.


Melihat itu ia hanya tersenyum mengejek kemudian menghindar dengan mudah.


Xixi yang melihat gerakan itu bertambah menyeringai, dengan mengunakan elemen tumbuhan ia arahkan untuk mengambil anaknya kebekapannya.


Seakan paham akan serangan tadi, sosok itu nampak murka. Ia hanya dikelabuhi dengan mana tak berguna itu. Dengan cepat ia melesat mendekat.


Xixi yang tak bisa menghindar hanya mundur beberapa langkah.


"Kau tak bisa menghindar dariku xixi, jikalau kau menghalangi tujuan utama ku maka kau harus siap menjadi musuhku sekaligus menjadi mayat yang mati mengenaskan" datarnya menatap murka dengan mata merahnya.


"Aku rela mati jika itu bisa menyelamatkan anakku! Ingat itu Drazi" balas xixi tegas tanpa takut.


"Ternyata kau sudah tak sayang nyawamu xixi dan aku tak menyaka kau masih ingat namaku"


Brakkk...


Dilancarkannya lagi mana gelap kearah xixi dan lagi-lagi ia hanya menghindar.


"Kau tak bisa terus menghindar xixi"


Drakkk...


Plashhh..


Dilemparkannya berkali kali mana gelap hingga membuat tubuh xixi yang tengah membekap putrinya kesulitan menghindar. Luka demi luka tertoreh dikulit putihnya, kain yamg ia pakai pun ikut tersobek-sobek. Kekuatanya kian melemah. Deru napas tak beraturan mulai terdengar.


"Ah.. kau benar lemah bukan" seringai nya kemudian memperbesar mana gelap yang akan dilemparkan.


Plashhh..


Bummmmmm!!!!


Darkkkhh..


Arggghh....


Sebuah letupan dan benturan terdengar keras dan mengerikan. Pekikan kesakitan terdengar begitu menyakitkan, ditambah lagi dengan tubuhnya yang mulai meluruh jatuh kelantai dengan darah yang terus keluar dari mulutnya.


Dengan posisi terduduk xixi masih membekap tubuh putrinya erat. Ia tak peduli lagi dengan apa pun, yang ada diotaknya hanya satu yaitu keselamatan putrinya.


"Kau cukup tangguh xixi, tapi apa kah kau bisa menahan tusukan pedang ku?" Seringai nya seraya menarik pedang yang telah terjatuh kearahnya. Pedang itu kini sudah digengamannya, dengan senyum kemenangan ia segarah menusukan pedang itu.


Melihat itu xixi pun reflek membalikan tubuhnya. Hal itu membuat pedang yang seharusnya menusuk bayi yang ada didekapannya beralih menusuk punggung mulusnya hingga darah tak segan keluar membasahi pakaiannya.

__ADS_1


Brukk...


Tubuhnya pun ambruk ketanah namun dengan sisa tenaganya ia berusaha menahan tubuhnya agar tidak menimpa putri nya.


Plashh....


Didorongnya pedang itu hingga menusuk lebih dalam.


Arrghhh...


Pekikan mengerikan terdengar menyedihkan.


Darah mengalir bertambah deras, hingga aliran darah itu menetes dari ujung pedang yang telah menembus badan xixi.


Tetesan itu jatuh tepat dikening putrinya. Membuat bayi itu menangis kencang melihat keadaan ibunya yang mengenaskan.


Tetesan air mata itu bercampur dengan darah yang mengalir menuju kedua matanya. Dan air mata itu seakan menguap menjadi kabut merah yang bersinar kehitaman.


Brakkk...


Ahhhhh!!!!


Tubuh sosok pria itu terpental setelah bersentuhan dengan kabut itu. Darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya.


"Oekkkk.... oekkk..."


Tangisan itu membuat kabut bertambah meluas, mengambil udara oksigen diruangan itu hingga membuat tekan kuat yang mempersulit pernapasan siapapun yang ada didalamnya, termasuk sosok itu.


"Da.. dasa..r bayi sialan!!" Ujarnya tergagap napasnya kian memberat, dadanya terasa tertekan dan kesulitan bernapas.


Namun tiba-tiba, suara dobrakkan pintu terdengar keras. Membuat kabut itu menipis dan hanya menyelimuti bayi kecil itu.


Tubuh xixi pun sudah tergeletak menganaskan tepat disamping sang bayi, darahnya masih terus keluar membuat lantai menjadi genangan darah begitu pula sang bayi yang sudah berlumaran darah lagi.


"Xixi !!!" Pekik seorang pria yang baru saja mendobrak pintu.


Tap.. tap.. tap..


Ia berlari menghampiri jasad xixi yang mengenaskan, tanganya bergetar saat berusaha membalikan tubuh xixi. Air matanya mengalir deras, ia pun menolehkan matanya kearah pria berjubah yang masih terduduk lemas menyandar dinding, sayangnya iya terlalu lambat untuk melakukan itu. Dan sosok itu pun lenyap sebelum tertangkap dilensa matanya.


"Agggggrhhh... sialll !!!!" Pekiknya meraung raung menyedihkan.


.___-___.


Bersambung😊


Jangan lupa like plus coment dukunganya okey😉


Kalo mau kasih poin atau koin pun boleh😂🤣

__ADS_1


Dahhh..


__ADS_2