
"Kita bagi tugas, kalian bertiga" ujarku menunjuk 3 orang prajurit "akan mendapatkan tugas mencari barang kayu dan membuat api, sisanya bertugas mencari hewan maupun buah yang bisa dimakan."
"Baiklah tuan putri.. "
Namun baru beberapa langkah sebuah semak belungkar nampak tergoyang sesuatu, semua yang melihatnya nampak bersiaga. Bahkan Drago dan Phoenik pun langsung berlari kilat menjadi tameng pelindungku.
"Kreettkkkk...!!"
Suara patahan kayu terdengar nyaring.
"Stersstt.."
.....______
Mataku mulai menelisik tajam hingga sebuah bayangan kecil tertangkap lensa mataku.
Sesuatu berwarna putih menyembul diantara semak belungkar, para prajurit yang melihat itu langsung siap siaga meluncurkan mana panah ciptaanya.
"Jangan lakukan itu" pekikku tegas sembil berjalan mendekat. Mereka hanya menatap bingung, dan aku yang menyadari akan hal itu hanya menyidikan bahu acuh.
Greeppp...!!
Seekor kelinci berbulu putih bersih dengan mata berwarna hitam pekat kini berpindah kedekapanku.
"Bukankah kau yang waktu itu" gumamku mengelus bulunya pelan.
Seakan paham sang kelinci mengerak-gerakan kepalanya keatas bawah tanda mengiyakan.
"Hihihi kau lucu.." kekehku pelan yang malah mendapatkan tatapan aneh.
"Heyy..!? berhenti menatapku seperti itu, lebih baik kalian lakukan tugas masing-masing!!" Cetusku membuat mereka salah tingkah dan mulai berpisah menjalankan tugas.
"Kak Bao kau jaga Vamp, aku akan mencari buruan bersama Drago dan Phoenik. Oh ya titip ini" ku ulurkan kelinci yang ada didekapankan dan menyerahkannya kepada Bao.
"Jaga dengan baik kak, jangan sampai lecet. Dahhh..."
"Ayo Drago, Phoenik waktunya berburu.. let's go.." pekik ku berlari masuk kedalam hutan.
Drago maupun Phoenik hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Xiang, dan tanpa banyak bicara mereka pun berjalan santai mengikuti langkahnya.
........._____..........
Sekawanan rusa liar nampak beristirahat disebuah lahan dengan rerumputan menghampar luas. Mereka pun menikmati itu semua.
Sedangkan disisi Lain Xiang dan kedua hewan kontraknya tengah mengawasi hewan itu dari jarak yang cukup jauh.
"Drago, Phoenik bidiklah rusa itu, cukup dua ekor saja. Dan jangan tumbangkan mereka semua." Cetusku yang dibalas dengan sebuah anggukan.
Dengan mengeluarkan serpihan mana Es kecil bahkan sangat kecil sekecil jarum, Phoenik mencoba membidik seekor rusa bertubuh paling gemuk.
"Hey itu hewan buruan ku kau harus membidik yang lain" cetus Drago dengan gumpalan magma api di ujung jarinya.
__ADS_1
"Aku duluan!!" balas Phoenik tak trima.
"Gak !! Yang Benar aku duluan!!"
Perdepatan pun terjadi, Xiang yang melihat itu hanya memutar mata jengah. Dengan malas ia berjalan menjauh mendekati sebuah sosok bayangan yang tak sengaja di lihat.
Wushh...
Semilir angin dengan kecepatan kilat terdengar jelas, Mengagetkan sosok itu.
"Hey, kau yang waktu itu?" Celetukku lirih.
Sosok itu menoleh, menampilkan wajah bertopengnya.
"Tak kusangka kita bertemu lagi, ah.. aku belum berterima kasih pada anda mu nona." Cetusnya menatap teduh.
"Hehe.. aku tak pernah meminta kata terima kasih darimu,tapi yang ku minta adalah balasanmu suatu saat nanti." Balasku terkekeh.
"Kau sangat sungguh unik, baru kali ini aku mendapatkan jawaban seperti itu"
"Jelas dong!! made in langka, cuma satu di dunia" ujarku menepuk dada angkuh.
"Hahaha.. " sosok itu terkekeh, wajahnya nampak bertambah tampan walau sebagian wajah itu tertutup potongan topeng.
"Kau bertambah tampan saat terkekeh, sayangnya kau menutup ketampanan mu" cetusku tanpa sengaja.
" Uppss.. " aku pun yang sadar atas ucapanku sendiri segera menutup mulutku kemudian menyengir lebar. "Aku hanya jujur hehe.."
"Tuan?!"
"Ah Drago,Phoenik?" Balasku tersentak kaget.
"Kau bicara dengan siapa?" Tanya Phoenik menatap sekeliling namun hasilnya nihil, tak ada orang lain selain mereka bertiga.
"Ahh.. tadi aku bertemu dengan pria bertopeng yang pernah ku selamatkan." Jawabku menatap rusa yang ia panggul di bahunya.
"Lalu dimana pria itu?"
"Ia telah pergi, apa kalian tak merasakan auranya?" Tanyaku bingung dengan ucapanya.
"Sama sekali tidak," ujar Phoenik mengeleng.
"Aku pun tak merasakannya, dan menurutku ia bukan orang sembarangan." Ujar Drago membuatku menoleh kearah nya.
"Ya aku setuju dengan ucapanmu,"
"Hey-hey sudahlah jangan bahas dia terus, ayo kita kembali" ajakku tak mau ambil pusing tentang siapa sosok bertopeng itu.
"Ah nanti dulu, kenapa banyak darah berceceran" ujar ku seraya berjalan mendekati ceceran darah.
Nampaklah beberapa bangkai rusa yang tergeletak dirimbunnya rumput. Mataku yang melihat itu pun beralih.
__ADS_1
"Drago , Phoenik apa ini!!" Pekik ku menatap mereka tajam.
Mereka yang mendengar itu hanya menyengir lebar dengan posisi tangan menggaruk tengkuk yang sama sekali tak gatal.
____-_____-____
"Halo.. Aku datang" pekiku yang langsung menjadi sorotan.
"Anda sudah datang tuan Putri?!" Ujar Kui Zio menyabut.
"Tentu,"balasku tersenyum "Ah apa tugas perapian sudah selesai??"
"Sudah tuan putri" balas salah satu prajurit yang jaraknya tak jauh dari perapian yang telah menyala.
"Baguss lah kalo begitu,ah.. tadi Kami sudah mendapat 2 rusa segar dan kalian beristirahatlah aku akan menyiapkan santapan makan malamnya." Lanjutku mengambil rusa dari tangan Phoenik.
"Tak perlu tuan putri, biar kami yang menyiapkan itu semua"
"Aku tak ingin dibantah, jadi menurutlah" balasku acuh kemudian pergi keperapian.
Waktu berjalan cepat, daging rusa segar kini berubah menjadi daging panggang dengan aroma sedap yang menggugah selera.
"Hey, mendekatlah!! Santapan makan malam telah matang, mari kita makan bersama" teriakku membuat mereka semua berkumpul dan membentuk lingkaran kecil.
Dengan sigap Xiang membagikan Daging panggang itu merata, meraka yang menyantap itu langsung berbinar, cita rasa yang terkandung sangat sempurana.
"Ini sangat lezat tuan putri" puji salah satu prajurit yang tengah menyantap daging itu.
"Benar sekali.. rasanya saya tak rela mengabiskanya tapi ada daya saya tak bisa menahan diri untuk tak memakan danging ini lagi dan lagi" balas prajurit yang lain.
"Haha.. kalian terlalu memuji, ambil saja jika masih ingin lagi. Masih ada satu ekor yang masih belum diolah jadi nikmati saja."
"Ah iya, Kak Bao mana kelinci putih itu?" Tanya ku teringat dengan kelinci yayng belum lama kutangkap.
"Maafkan saya, tadi saat ada pergi bersama Drago dan Phoenik. Kelinci itu memberontak dan terlepas" jawab Bao menunduk.
"Yahh.." gerutuku sedih.
"Maaf.." ujar Bao tertunduk.
"Sudahlah gak masalah, suatu saat bakal ketemu lagi kok. Ah ini udah malem, kalian beristirahatlah." Cetusku mengakhiri, kemudian beranjak pergi menaiki salah satu pohon yang memilik cabang ranting besar.
"Aku mau tidur dulu, selamat malam" pekikku merebahkan tubuh diantara dua cabang ranting besar itu.
............______----
Bersambung..
Jangan lupa tinggalkan jejak dan coment pendukung..😉
Trimakasihh..👋
__ADS_1