
Sebuah pohon tua, ya sebuah pohon layaknya pohon beringin yang tumbuh kering tanpa sehelai daun dengan aura mana gelap yang menguar sangat kuat.
Xiang pun mencoba mendekat, menatap pohon yang baru saja ia lihat lebih teliti. Ia arahkan sedikit mana cahaya diujung jari telunjuknya dan melakukan sedikit ekperimen.
Tanganya terus mengulur dan menyentuh lubang kecil dimana aura gelap itu keluar masuk.
Jlebbb..
Perlahan tangan itu berhasil menyelusup kedalam, sengat bagai sengat petir bertegangan kecil membuat darah mengalir dari telujuk jari itu.
"Shitt!!" Umpat xiang kembali tanpa mengeluarkan jarinya. Ia masih mencoba bertahan. Hingga darah itu menetes lambat mengenai batang akar bagian dalam.
Bibirnya ia gigit kuat, berharap mengurangi rasa sakit akibat sengatan itu.
Blumm.. wushhh..
Cahaya yang disalurkan itu mendorong mana gelap tersebut kembali keasalnya. Sedangkan darah yang menetes itu bagaikan api kecil yang merambat dan melahabkan batang itu perlahan.
"Tuan.." bisik lirih seorang pria membuat xiang terkejut, matanya ia edarkan kesegala arah nyatanya tak mendapati apapun selain lahan gersang.
"Suara siapa itu? Tunjukan batang hidungmu?" Pekik xiang kencang.
"Tuan lepaskan hamba, tuan.." bisik semilir itu lagi.
"Arrghh.. diamlah, aku sama sekali tak mengenal suaramu. Kau bukan Phoenik maupun Drago."
"Tuan..."
Perlahan namun pasti pohon itu retak, sinar cahaya yang berlebihan menyinari semua yang ada disekitarnya. Menyuburkan kembali tanah gersang itu.
"Apa aku berhasil?" Lirih xiang menatap tanah gersang yang kini telah berubah indah dengan ribuan bunga dan pohon yang rimbun dan bersinar.
"Belum, tuan putri masih belum menyelesaikan misi tuan. Selamatkan tuan kami, selamatkan tuan Liang li untuk kami." Jawab rusa bersayap itu tiba tiba menyela.
"Hei !! Bukannya tadi kau pergi? Kenapa masih disini??" Sinis xiang menatap rusa itu datar.
"Hamba hanya mengawasi dan memberikan sedikit pertunjuk untuk tuan putri menjalankan misi." Balasnya santai.
__ADS_1
"Bodoh ah.." acuh xiang berjalan mendekati retakan pohon tua yang masih menyimpan mana gelap. Tanpa sengaja ia malah tertarik masuk begitu saja. Sedangkan rusa itu hanya diam tanpa melakukan gerakan apapun seolah tahu akan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Bener bener sialan tuh rusa, kalo aja rusa biasa pasti udah ku jadikan rusa panggang!!" Umpat xiang yang terseret arus portal.
Brakkk!!
Tubuh xiang langsung terjatuh begitu saja ketanah hitam saat potral itu membuka tanpa aba-aba. Tubuhnya tengkurap dengan kening berdarah terkatuk batu.
"Auww.. " tanganya meraba kearah kening yang basah akan darah. Dengan segerah ia bangkit dan menggunakan mana cahaya untuk menyembuhkan luka kecilnya itu.
"Emm.. sekarang dimana ini? Gelap sekali."
"Tuan? Apakah tuan mendengarkanku??" Suara lirih itu kembali merebak masuk kedalam gendang telinga xiang.
"Yayaya.. aku denger"
"Tuan lepaskan hamba.." lirihnya terdengar sangat lemas.
Xiang hanya diam, ia masih bingung apakah harus menyelamatkannya? Ah tak mungkin jika ia meninggalkan pria itu begitu saja. Apalagi saat mendengar penjelasan rusa itu, arghh penjelasan paling singkat dan gak lengkap.
"Kau dimana?"
Mana api ia keluarkan sebagai penerang kegelapan.
Mata xiang menatap ngeri melihat dinding yang ada disekitarnya. Genang darah dengan mana gelap yang membuat darah itu nampak segar dan terus mengalir.
"Menjijikan.." kata itu yang terucap dari mulut kecilnya.
Perlahan ia berjalan menyusuri lorong tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Namun yang ia dapatkan hanya berputar putar saja.
"Pasti ada dinding ilusi, arghh buang buang waktu!!" Sebalnya menatap tempat pertama kali ia masuk.
"Tenang xiang, waktu terus berjalan dan kamu harus segera kembali ke kaisaran. Tenang dan temukan dinding itu."
Tanganya pun ia beranikan diri untuk menyentuh darah segar yang menempel di dinding.
Kembali berjalan tanpa melepas tangannya dari dinding itu. Namun lagi lagi kegagalan ia peroleh.
__ADS_1
"Nanti dulu, bukannya aku masuk kedalam pohon tua itu. Dan jangan bilang ini darahku? Darah ini benar benar seperti darahku, tapi mengapa mana gelap menguar darinya??"
"Ahh bodoh, Aku lupa bahwa aku juga pengguna mana gelap, arghh kenapa gak kepikiran!!"
Xiang kini memilih mendudukan tubuhnya. Bersilah dan bermiditasi menerawang tentang apa yang tengah ia hadapi. Matanya menutup semuanya menjadi gelap gulita. Namun tak lama sebuah gambaran memblayang memberikan rangkaian fase. Dimana saat darahnya menetes dan melahab dinding yang ternyata sebuah batang kayu.
"Tuan lepaskan hamba" suara itu tiba tiba terdengar lebih jelas dan keras. Bagai dinding penghalang mulai menipis.
Mendengar itu xiang bangkit. Kemudian menyalurkan mana cahaya kearah darah itu namun ternyata tak berhasil, mana itu terpental seakan tidak diterima. Ia pun memutar otaknya dan memilih mengunakan eleman lain.
Mana gelap, ya!! mana gelap ia coba salurkan. Rasanya menyakitkan, karna baru kali ini ia mengunakan. Tubuhnya seperti dicabik-cabik, aliran darahnya mulai tak beraturan. Suara napasnya tersengal sengal menyedihkan.
"Tuan bertahanlah, hamba akan membatu meringankan" suara itu lagi lagi terdengar. Sedangkan sang empu yang diajak bicara hanya tergugu mengeluarkan darah lagi diarea hidungnya.
"Tuan kumohon bertahan, sedikit lagi.." lirihnya seakan tau akan apa yang tengah terjadi pada xiang. Padahal dimensinya berbeda.
"Jangan banyak bicara!!" hanya itu yang keluar dari mulut kecil xiang. Matanya sudah merejab rejab lelah.
"Tuan.."
Byarrrr...!!!
Kedua mana gelap saling bergempuran hingga akhirnya meledak menghilangkan penghalang yang tercipta.
Dinding itu ikut hancur berkeping keping. Tubuhnya hampir kehabisan mana hanya bisa terpental ke belakang tanpa mampun menahan.
Pria tampan dengan pakaian hijau daun dan rambut coklat langsung berlari menangkap tubuh tuannya.
"Sial, tuanku hampir kehabisan mananya. Dan aku tak cukup kuat untuk melawan mereka yang tengah menghadang jalan keluar." Mata biru lautnya merejab cemas dengan keadaan sang tuan.
Ia mendudukan tubuh rapuh xiang pelan. Tanganya lembutnya menyentuh dahi sang tuan dan sambil mengeluarkan sesuatu yang ada didalam tubuhnya.
"Aku masih belum bisa memberikan manaku untuk menyembuhkan tuan. Dan aku pun masih belum cukup kuat untuk membawa tuanku kembali keatas."
"Tuanku cepatlah sadar" ujarnya menekan dahi Xiang sambil tersengal sengal.
"Maaf tuanku, aku hanya bisa memberikan ini karna manaku masih belum pulih seutuhnya."
__ADS_1
.....^..^.....
Bersambung...